Inilah Berbagai Peristiwa Besar yang Terjadi di Bulan Ramadhan

Inilah Berbagai Peristiwa Besar yang Terjadi di Bulan Ramadhan

Inilah Berbagai Peristiwa Besar yang Terjadi di Bulan Ramadhan


Bulan Ramadhan adalah bulan suci umat Islam yang dipercaya sebagai bulan penuh berkah dan ampunan.

Karena di bulan Ramadhan ini, pahala umat Nabi Muhammad akan dilipat gandakan. “Ramadhan adalah bulan umatku” demikian sabda Rasulullah Saw.

Selain itu, banyak peristiwa besar yang pernah terjadi di bulan Ramadhan.

Dan peristiwa-peristiwa tersebut patut dibaca agar kita bisa belajar dan mengambil hikmah yang pernah terjadi di bulan ini.

Peristiwa Pertama adalah Nuzulul Quran (turunnya Al-Qur’an)


Dalam surah al-Baqarah ayat 185 jelas dijelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan hingga bulan ini masyhur dengan sebutan Syahrul Qur’an (bulan Alqur'an).

Namun para ulama berbeda pendapat mengenai tanggal turunnya al-Quran di bulan Ramadhan. Pendapat yang masyhur adalah 5 ayat turun pertama kali di gua Hira’ melalui malaikat Jibril pada tanggal 17 Ramadhan.

Turunnya ayat pertama kali kepada Rasulullah SAW ini sekaligus sebagai pengangkatan Nabi Muhammad SAW menjadi utusan Allah.

Kedua adalah peristiwa Lailatul Qadar 


Lailatul Qadar merupakan istilah yang digunakan untuk memperingati malam di mana al-Qur’an diturunkan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala secara keseluruhan dari baitul izzah (semacam ruang ilahiyat) yang kemudian dibawa jibril secara berangsur kepada Rasulullah.

Malam Lailatul Qadar merupakan malam mulia, malam penuh berkah yang tidak boleh diragukan lagi. Karena Allah sendiri menyebutnya dalam surah ad-Dukhan ayat 3 dan dalam surah Al Qadar.

Ketiga adalah Perang Badar


Perang antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy yang berlangsung di pertengahan bulan Ramadhan, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan.

Badar yang letaknya lebih kurang 145 km arah barat laut dari kota Madinah al-Munawwarah menjadi saksi keimanan dan ketaqwaan para sahabat Rasulullah.

Sehingga dengannya Allah mendatangkan bantuan-Nya kepada mereka.

Badar menyaksikan pertempuran di antara kaum muslimin dan kaum musyrikin yang memiliki kekuatan 3x lipatnya, 313 pejuang ahli Badar, dengan 600 ekor kuda dan 700 ekor unta.

Keempat adalah Wafatnya Putri Rasulullah, Sayyidah Fathimah Az-Zahra


Wafatnya sosok wanita suci nan agung, yang dikenal dengan sebutan Ummu Abiha.

Ya, Fatimah az-Zahra wafat pada hari Selasa, tanggal 3 Ramadhan 11 H dalam usia 28 tahun.

Saat wafat, Fatimah meninggalkan Hasan yang masih berusia 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab 5 tahun dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.

Sayyidah Aisyah menceritakan saat-saat menjelang Fatimah wafat, “Fatimah wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah saw wafat, tepatnya pada Selasa, 3 Ramadhan 11 H. Fatimah wafat dalam usia 28 tahun.”

Kelima adalah Wafatnya Putri Rasulullah SAW, Sayyidah Ruqayyah


Ruqayyah meninggal bertepatan saat berlangsungnya perang Badar. Inilah yang menyebabkan Sayyidina Utsman bin Affan RA tidak ikut serta dalam perang Badar karena merawat istrinya, itupun setelah ia mendapat izin dari Rasulullah.

Putri Rasulullah ini meninggal dunia tepat ketika Zaid bin Haritsah menyampaikan berita gembira tentang kemenangan kaum muslimin dalam pertempuran Badar.

Ruqayyah wafat pada usia 22 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi’ al-Gharqad, Madinah.

Keenam adalah Wafatnya Ummul Mukminin, Sayyidah Khadijah


Ummul Mukminin, Sayyidah Khadijah wafat pada 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian atau 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 M.

Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslim, Sayyidah Khadijah kemudian sakit.

Semakin hari kondisi kesehatannya semakin memburuk. Beliau akhirnya meninggal dunia lalu dimakamkan di dataran tinggi Mekah yang dikenal dengan sebutan Al-Hujun atau disebut Jannatul Ma’la (pemakaman ma’la).

Tahun itu pula Rasulullah ditinggalkan paman tercinta, Abu Thalib sehingga tahun itu disebut ‘aamul huzni (tahun kesedihan).

Ketujuh adalah Wafatnya Ummul Mukminin, Sayyidah Aisyah


Ternyata pada tanggal 17 Ramadhan, selain pertama kali al-Quran turun, ada peristiwa perang badar, wafatnya Ummul Mukminin juga terjadi pada malam 17 Ramadhan.

Ketika itu Sayyidah Aisyah sudah berusia 67 tahun. Ia jatuh sakit pada Ramadhan 58 H.

Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shidiq R.A wafat pada 58 H, malam 17 Ramadhan setelah shalat witir, bertepatan dengan Juni 678 M.

Seluruh umat Islam pada saat itu sungguh berduka cita. Ia adalah sosok istri yang paling dekat dengan Rasulullah saw dan yang paling banyak mengetahui kehidupan dan teladan Rasulullah saw.

Kedelapan adalah Wafatnya Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah


Sayyidina Ali Karramallahu wajhah dibunuh oleh Ibnu Muljam, seorang Khawarij yang bersekongkol dengan 2 orang temannya, al Burak bin Abdillah dan Amru bin Abi Bakr at-Tamimi. Masing-masing berikrar untuk membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan dan Amru bin Ash.

Mereka mengikat perjanjian untuk tidak mundur atau terbunuh. Mereka sepakat untuk melakukannya pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.

Kemudian ibnu Muljam pun menuju Kufah. Disana dia memulai rencananya dengan mengajak dua orang yang tersakiti akibat peperangan Nahrawan. Ketiganya sudah siap menghadang Sayyidina Ali saat akan membangunkan orang-orang untuk sholat subuh.

Ketika Ibnu Muljam menebas Sayyidina Ali, ia berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, Hai Ali!” Ia membaca firman Allah QS Al-Baqarah 207.

Setelah sayyidina Ali wafat, kedua puteranya memandikan jenazah beliau dibantu dengan Abdullah bin Ja’far. Kemudian jenazahnya dishalatkan putra tertua, al-Hasan.

Jenazah beliau dimakamkan di Darul Imarah di Kufah, karena kekhawatiran kaum Khawarij akan membongkar makam beliau.

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, ia berkata “Jenazah Ali dishalatkan pada malam hari dan dimakamkan di Kufah, tempatnya sengaja dirahasiakan namun yang psti di dekat gedung Imarah (Istana Kepresidenan).” [Tarikh Islam, Adz-Dzahabi, juz Khulafaur Rasyidin hal 650]

Kesembilan adalah Kemerdekaan Republik Indonesia


Bagi umat Islam Indonesia, bulan Ramadhan menjadi bulan yang istimewa. Karena selain dianggap bulan suci, bulan Ramadhan juga menjadi saksi sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dimulai dari pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) satu hari menjelang malam pertama bulan Ramadhan, Nagasaki dan Hiroshima dijatuhi bom yang akhirnya Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus.

Hingga saat itu hari Jumat, 17 Agustus 1945 tepat tanggal 9 Ramadhan 1364 H Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan di kediaman Ir Sukarno, Jalan Pegangsaan Timur 56.

Selama masa persiapan menuju kemerdekaan, Ir. Sukarno meminta rekomendasi dari beberapa ulama seperti KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri organisasi Nahdlatul Ulama.

Tak salah untuk kita berusaha khusyu beribadah di bulan nan suci ini dimana pesta raya pahala sedang diobral besar-besaran.

Namun, sudah seharusnya kita sebagai umat Islam Indonesia mengetahui berbagai peristiwa besar yang pernah terjadi di Bulan Ramadhan.

Sambil mengulik dan belajar kembali sejarah yang ada di balik peristiwa tersebut tentu diiringi dengan mengambil hikmah di baliknya.

Seperti kata Bung Karno bahwa Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.
Next article Next Post
Previous article Previous Post