Jenazah Perawat Positif Corona Ditolak Dimakamkan di Daerah Ini, Akun FB Pak RT Yang Diduga Jadi Provokator Dihajar Warganet

Jenazah Perawat Positif Corona Ditolak Dimakamkan di Daerah Ini, Akun FB Pak RT Yang Diduga Jadi Provokator Dihajar Warganet

Jenazah Perawat Positif Corona Ditolak Dimakamkan di Daerah Ini, Akun Facebook Pak RT Jadi Bulan-bulanan Warganet


Nuria Kurniasih, seorang perawat di Rumah Sakit Kariadi Semarang akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis.

Almarhumah meninggal dunia pada Kamis (9/4) setelah menjalankan tugasnya menangani para pasien yang terkena virus Corona Covid-19.

Rencana pemakaman perawat asal Kabupaten Semarang yang meninggal karena positif corona atau Covid-19 di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sewakul, Ungaran, mendapat penolakan keras oleh sebagian warga.

Karena pemakaman jenazah ditolak oleh masyarakat akhirnya, oleh pihak keluarga memilih melakukan pemakaman dipindah.

"Keluarga memutuskan pindah memakamkan di Bergota makam keluarga RS Kariadi Semarang. Karena almarhumah bertugas di sana," jelasnya.

Terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Semarang, Gunawan Wibisono mengaku prihatin dengan adanya penolakan jenazah oleh masyarakat. Sebab secara medis proses pemulasaran dan pemakaman jenazah sudah aman karena dilakukan oleh petugas khusus.

"Jadi masyarakat tidak perlu kuatir yang berlebihan," ungkapnya.

Akun Facebook Pak RT Jadi Bulan-bulanan Warganet


Akun Facebook pak RT yang diduga menjadi garda terdepan dalam menolak pemakaman jenazah perawat di Ungaran menjadi bulan-bulanan netizen.

Banyak netizen yang menghujat dan menyebarkan akun tersebut di sejumlah grup Facebook.

Pak RT tersebut dianggap sebagai sosok yang paling keras menolak pemakaman jenazah perawat RSUP Karyadi yang terpapar corona.



Saat itu jenazah rencananya akan dimakamkan di TPU Siwarak, Sewakul, Kelurahan Bandarjo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Namun sejumlah warga menolak dengan alasan takut tertular.

Foto dan video penolakan warga di TPU pun menjadi viral.

Saat itu, pelaku yang mengenakan kaos oblong ungu hijau dan celana jauh mengatakan, jika pemakaman jenazah akan mengakibatkan efek yang jauh.

"Setelah dimakamkan, efeknya nanti jauh Pak," ucap Pak RT dalam video berdurasi tujuh detik itu.

Melihat video ini, netizen pun menuliskan komentar marah.

"Nanti kalau RT sama wargany sakit g ush ditolong aj." tulis Rynna Pratiwii.

"Ingat kalian juga nnti mati , yg nolak posisi masih sehat. Coba klo ke serang virus trus meninggal. Dia di tolak apa yg di rasain ? Mikir" tulis Rurruh Imam Fahruddin.

Tak berhenti dengan komentar marah, ribuan netizen pun menyerang akun diduga milik pelaku.

Mereka menumpahkan kemarahan di setiap postingan pelaku.

Kemudian menyebarkan akun tersebut dan mengajak netizen lain untuk menghujat.

"Oh ini rt yg nolak pemakaman, Sembunyikan atau laporkan ini" tulis Iwan DA di unggahan terakhir.

"Baru jadi RT aja uda songong banget apalagi jadi anggota dewan / presiden." tulis Yudhit Septiana.

Unggahannya yang terakhir pun sudah dipenuhi 18 ribu komentar netizen yang berisi hujatan

Tak Kuat Dibully, Pak RT Akhirnya Minta Maaf


Ketua RT yang melakukan penolakan jenazah perawat postif Corona di Kabupaten Semarang mendapat bullyan di media sosial.

Kini pria bernama Purbo itu meminta maaf terkait penolakan tersebut.

Permintaan maaf disampaikan Purbo di samping Ketua DPW PPNI Jawa Tengah, Edy Wuryanto, di kantor PPNI Jateng.

Purbo yang merupakan Ketua RT 6 Dusun Sewakul, Bandarjo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang itu minta maaf kepada keluarga besar almarhumah.


"Saya minta maaf kepada keluarga besar almarhumah yang sempat tidak jadi dimakamkan di Sewakul. Secara pribadi menyesal, saya mohon maaf sekali," kata Purbo, Jumat (10/4/2020).

Ia menjelaskan, selaku ketua RT ia hanya menampung aspirasi warga dan menyampaikan kepada perangkat desa.

"Saya tidak punya daya, itu aspirasi warga dan saya hanya kewajiban untuk koordinasi ke perangkat desa saja," katanya.

"Saya atas nama pribadi dan juga mewakili masyarakat saya, mohon maaf atas kejadian kemarin. Saya juga meminta maaf kepada perawat seluruh Indonesia," imbuhnya.

PPNI Jateng Akan Tempuh Jalur Hukum


DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah bakal menempuh jalur hukum terkait peristiwa penolakan pemakaman perawat RSUP dr Kariadi Nuria Kurniasih yang dilakukan sejumlah warga. PPNI Jateng kini sedang mengumpulkan barang bukti untuk melengkapi laporan.

"Kasihan kalau kita tidak mencari keadilan bisa menurunkan mental para pejuang kemanusiaan. Kita saat ini sedang meminta keterangan warga, serta mencari bukti dokumentasi terkait orang yang menjadi provokasi utama," kata Ketua DPW PPNI Jateng Edy Wuryanto di Semarang, Jumat (10/4).

Dia mengungkapkan, kejadian penolakan tersebut tidak akan terjadi kalau tidak ada provokator. Namun yang lebih menyakitkan lagi aparat pemerintah yang hadir dalam proses pemakaman tidak bisa membendung warga.

"Bayangkan saja pemakaman dihadiri Wabup, Lurah, serta kepolisian setempat. Mereka semua tidak bisa menahan amarah warga yang akhirnya jenazah tertahan dan kembali RS Kariadi," jelasnya.

Dijelaskan, tenaga medis seperti perawat, dokter merupakan garda yang rawan terpapar corona atau Covid-19. Adapun kerawanan yang paling tinggi yakni tenaga kesehatan yang bertugas di bangsal dan pelayanan umum.

"Perawat yang meninggal tersebut bekerja di bagian ruang geriatri. Seharusnya jauh dari pasien ODP atau PDP, tapi ada pasien yang masuk dan tidak jujur sehingga perawat terpapar," tegasnya.

Dari data PPNI, terdapat 68 ribu perawat yang bekerja di layanan kesehatan. Maka dari itu, meminta pemerintah untuk serius memerhatikan keselamatan perawat sesuai standar WHO.

"Kami minta segera distribusikan alat pelindung diri ke perawat mulai dari tingkatan puskesmas hingga ke rumah sakit untuk antisipasi penularan," ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang perawat bernama Nuria Kurniasih (38) meninggal dunia setelah dirawat di ruang ICU RSUP dr Kariadi, Kamis (9/4) pukul 12.00 WIB. Dia meninggal setelah menjalankan tugasnya menangani pasien yang terkena corona.

Rencana pemakaman awalnya tidak ada masalah, tapi ketika jenazah tiba di TPU Sewakul mendapat penolakan dari warga, sehingga dipindah ke Bergota kompleks makam keluarga RSUP dr. Kariadi Semarang.

Next article Next Post
Previous article Previous Post