Jangan Kau Peralat Anak Yatim



Menjadi yatim tentu bukan sesuatu yang dikehendaki. Tapi bila iradat telah menetapkan seorang anak harus yatim, siapa yang dapat menolak? Air mata tentu tidak cukup untuk menjawab masalah-masalah yang mereka hadapi setiap hari.

Jangan Kau Peralat Anak Yatim


Di samping kanan kiri rumah kita, tidak sedikit terdapat anak-anak yatim. Mereka menjadi bagian dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jumlah mereka setiap tahun terus bertambah. Mereka terdapat tidak hanya di desa-desa, tapi juga di kota-kota besar, di perkampungan-perkampungan nelayan, di gang-gang di antara jepitan gedung-gedung bertingkat di kota metropolitan. Juga di tempat-tempat yang lain seperti; di jembatan, di jalanan dan di emperan pertokoan. Mereka mengadu nasib sebatas kemampuan yang telah Allah anugerahkan kepadanya.

Anak-anak yatim sangat mengharapkan kasih sayang. Mereka merindukan perlindungan dari mereka yang mampu ataupun berkecukupan.

DISAYANG ALLAH

Karena rindunya dengan penyantunan dan kasih sayang tersebut, Allah sangatlah menyayangi mereka. Tidak kurang dari 23 ayat dalam al-Qur'an membicarakan tentang mereka, hak-hak mereka, dan pahala bagi mereka yang mau mengentas mereka dari kenestapaan. Allah berfirman:

"Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim...." (QS. Al-Baqarah: 83)

Mereka memang selayaknya mendapatkan bantuan dan perlindungan dari yang mampu agar dapat hidup seperti anak-anak yang lain. Usia mereka yang masih kecil, belum memungkinkan mereka mampu menghadapi sendiri seluk-beluk kehidupan ini dengan seimbang. Kebutuhan-kebutuhan mereka belumlah mampu mereka penuhi sendiri. Pemikiran dan nalarnya masih perlu dituntun dan dibantu oleh mereka yang sudah dewasa dan telah mengetahui lebih banyak asam garam kehidupan.

ASSET YANG MAHAL

Anak yatim adalah asset kehidupan dan bakal SDM yang berkualitas. Rasulullah sendiri memilih berdiri di pihak mereka karena kekuatannya ini. Bahkan kelak, kepada mereka yang mengasuh dan menyantuni anak-anak yatim ini, Rasulullah menjanjikan akan bersamanya berdampingan di syurga. Jaraknya amat rapat, sama seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah yang dipadukan. "Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di syurga seperti dua jari ini." Menurut Bukhari, Rasulullah berkata seperti itu sambil menunjuk jari telunjuk dan jari tengah dan merepatkan keduanya.

Sebenarnya, tanggung jawab terhadap mereka merupakan kewajiban melekat terhadap siapa saja yang memiliki wewenang, dan lebih-lebih kekuasaan. Buktinya, dalam UUD '45 ayat 34 juga telah dicantumkan tentang perlindungan terhadap anak-anak yatim ini. Tetapi tentu saja hingga sekarangpun kita masih menunggu keseriusan dari pihak-pihak yang berkompeten. Sementara, alangkah nistanya bila kita hanya berpangku tangan merasa tidak bertanggung jawab, melihat mereka gelisah menunggu nasib. Bagi kita, bukan soal tertulis di undang-undang atau tidak, tetapi bagaimanakah agama kita menganjurkan kita bersikap dalam menghadapi persoalan. Undang-undang, sebagai buatan manusia, bisa saja berubah, tetapi hukum Allah tidak pernah mengalami perubahan.

Di samping karena dorongan dari anjuran Nabi, kita juga bisa mengambil hikmah lebih besar dari proses mendidik anak yatim. Secara naluri, mereka lebih siap mandiri dibanding anak-anak biasa. Anak-anak yatim tidak memungkinkan berbangga-bangga dengan kekayaan orang tuanya, karena memang tidak ada. Karena itu bila diarahkan secara benar, rasa sandar diri terhadap kemahaagungan Allah akan lebih totalitas. Mereka memang tidak memiliki tempat mengadu yang lain di kala hati sedang dilanda pilu. Allah-lah tempatnya melaporkan segala keluh-kesah hatinya, gundah-gulananya.

Tetapi potensi kemandirian itupun bisa mengarah kepada kerusakan bila tidak mendapatkan bimbingan yang benar. Anak-anak ini cenderung sulit diatur, bila telanjur salah didik. Mereka merasa lepas dari pengawasan, karena kebiasaan. Alangkah sayang bila terjadi yang demikian, karena keburukan salah seorang anggota masyarakat berarti ancaman bagi anggota yang lain. Karenanya, anak-anak yatim merupakan asset yang mahal bila telah berhasil digali dan didayagunakan kemampuannya. Jangan sampai terlambat yang menyebabkan asset itu berubah menjadi parasit dan sumber bencana.

JANGAN MEMPERALAT MEREKA

Sungguh beruntung, karena kini lembaga-lembaga yang mengurus anak yatim semakin banyak bermunculan. Ibarat cendawan yang tumbuh di musim hujan, hampir di setiap daerah sebahagian mereka tertampung di lembaga-lembaga ke-yatim-an, seperti panti asuhan ataupun yayasan-yayasan sejenis lainnya.

Tetapi apakah masalahnya selesai di sini? Belum tentu. Sebab dalam perjalanannya ternyata tidak sedikit anak-anak yatim ini yang harus mengalami nasib malang lanjutan. Mereka dijadikan obyek mencari keuntungan. Yang ini tentu saja khusus terjadi di sebuah lembaga yang memang mengkhususkan diri mengurus anak-anak yatim. Bagi anak-anak malang yang kebetulan tumbuh di keluarga-keluarga biasa, atau pada keluarga familinya, memperalat mereka hampir tidak mungkin. Paling-paling anak-anak itu kemudian menjadi obyek kemarahan, tempat tumpahan kejengkelan, bila terjadi masalah dengan induk semangnya. Hal itupun tetap berpengaruh buruk terhadap perkembangan kejiwaan mereka, hanya saja unsur 'memanfaatkan' mereka tidak ada.

Kasus-kasus 'memperalat' anak yatim kadang terjadi, bila niatan para pengasuhnya telah bergeser. Sekilas ini wajar, mengingat mengasuh anak-anak begitu banyak, juga membutuhkan tenaga dan fikiran ekstra. Apalagi bila anak-anak itu semakin tidak bisa diatur, semakin bandel, dan tidak serajin dan sekreatif yang diinginkan. Lalu para pengasuhnya merasa gagal, dan memilih untuk mendapatkan apa yang bisa didapat saja. Bila hanya sebatas ini, sebenarnya tidak mengapa. Toh orang tua sendiripun, bila melihat anaknya tidak bisa diarahkan, juga akan jengkel. Tetapi yang tidak sehat adalah bila hal ini kemudian diterus-teruskan.

Anak-anak yang tidak ideal dikeluarkan dengan berbagai dalih. Sementara yang diopeni hanya yang nurut-nurut. Padahal, bukankah yang ideal maupun tidak ideal, sama-sama mempunyai andil dalam menopang 'kehidupan' wadah penampungan itu? Bukankah di saat mereka masih kecil, berbagai bantuan datang untuk mereka semua? Salah siapa bila kemudian terjadi perbedaan dan penyimpangan perilaku? Kenapa justru sekarang anak-anak itu 'dilemparkan' setelah banyak bantuan dari anggota masyarakat? Buat siapa nanti bantuan-bantuan itu?

Bila ini yang terjadi, maka berarti ada kegagalan pengurusan, sekaligus lampu kuning dari Allah, bahwa ambang bencana bagi lembaga bersangkutan sudah dekat. Ini musibah, yang semestinya segera dikembalikan kepada niat semula. Adakah musibah kemanusiaan (baca: kesewenangan) yang melebihi orang-orang yang melepaskan tanggung jawabnya terhadap anak-anak yatim? Anak-anak yatim sudah nestapa, apakah harus ditambah lagi dengan derita pula? Bukankah Allah telah berfirman dalam surah adh-Dhuha, "Dan terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang?"

"Sungguh orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu telah memakan api neraka sepenuh perutnya,.." (QS. An-Nisaa':10)

Kesewenang-wenangan terhadap alam dan lingkungan adalah dengan merusak kelangsungan ekosistemnya. Sedangkan kesewenang-wenangan terhadap anak yatim berarti menelantarkan mereka, dengan memperlakukan mereka secara tidak adil. Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukannya (diasuh dan dididik) dengan baik, dan seburuk-buruknya rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk." (HR Ibnu Majah)

Perlakuan terhadap mereka semacam itu sungguh sangat tidak sewajarnya, apalagi bila diingat bahwa kemajuan dan kebesarannya justru berkat doa yang tulus dari anak-anak yatim ini. Sungguh keliru kalau ada pergeseran anggapan, bahwa mengurus anak yatim adalah suatu kerugian karena tidak bisa melakukan aktivitas produktif lainnya.

Halimah as-Sa'diyah adalah contoh 'Ibu Panti' yang pertama. Berkat ketulusannya memelihara Si Yatim Muhammad, Halimah yang semula hidup serba pas-pasan, justru kemudian serba berkecukupan. Rezeki si yatim memang Allah sendiri yang menitipkannya kepada siapa yang memeliharanya dengan penuh ketulusan hati. Adakah perlu bukti lain selain yang telah dicontohkan oleh manusia Agung Rasulullah ini untuk kita?


Loading...