Wakil Sekjen MUI: Kalau Alqur’an Ditafsirkan Allah Saja, Maka Untuk Apa Diturunkan?




Pernyataan Nusron Wahid terkait penilaian MUI terhadap Ahok yang mengutip Surat Al Maidah dan mengatakannya sebagai sebuah kebohongan benar-benar diluar nalar umat Islam. Pasalnya dalam pernyataan tersebut, Nusron mengatakan bahwa yang sah menafsirkan Al Qur’an hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Wakil Sekjen MUI: Kalau Alqur’an Ditafsirkan Allah Saja, Maka Untuk Apa Diturunkan?

“Saya ingin menegaskan di sini, yang namanya teks apapun itu bebas tafsir, bebas makna. Yang namanya Al Qur’an yang paling sah untuk menafsirkan yang paling tahu tentang Al Qur’an itu sendiri adalah Allah SWT dan Rasulullah. Bukan Majelis Ulama Indonesia, karena kebenaran itu datangnya dari Allah SWT. Itu adalah ilmu tafsir,” ucap Nusron saat menghadiri acara ILC di sebuah stasiun TV.

Menanggapi pernyataan tersebut, Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnain menyebutkan bahwa memang ia sependapat jika Al Quran tidak boleh ditafsirkan secara sembarangan dan seenaknya sendiri. Namun ia juga tidak setuju jika menafsirkan Al Qur’an adalah hak prerogatif Allah semata.

“Kalau Al Qur’an ditafsirkan Allah saja, maka untuk apa diturunkan?” ucap Tengku Zulkarnain, sebagaimana dikutip dari Republika, Kamis (13/10/2016).

Dalam artinya bahwa Allah telah menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup umat manusia. Lantas bagaimana mereka mengetahui kandungan atau isinya jika tidak dapat menafsirkan Al Qur’an?

Sementara itu Ma’ruf Amin selaku Ketua Umum MUI menegaskan bahwa pihak MUI akan bersikap netral dalam pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta ataupun dalam ranah politik. Namun apa yang dilakukan oleh Gubernur Ahok yang seenaknya mengutip Surat Al Maidah dan mengatakan bahwa itu bohong, bukanlah termasuk dalam politik, melainkan urusan agama.

“Tidak benar secara kelembagaan kami mendukung calon tertentu dalam Pilkada Jakarta. MUI tidak ikut poros manapun,” ucap Ma’ruf Amin.

Namun secara perorangan, dirinya tidak melarang anggotanya untuk mendukung salah satu calon. Sehingga jika anggotanya mengambil sikap politik, itu berdasarkan kepentingan pribadi bukan kelembagaan.

“Orang boleh memilih mana saja. Di MUI ini kami ‘warnanya banyak’,” pungkasnya menjelaskan bahwa MUI terdiri dari latar belakang perorangan yang berbeda-beda.

Baca Juga: