Ditinggal Ayahnya Meninggal Di Tanah Suci, Gadis Berusia 15 Tahun Ini Kini Hidup Sebatang Kara




Sebagian besar anak-anak di tanah air tentu akan merasakan kesedihan yang sangat mendalam ketika mendapati kabar bahwa orangtuanya meninggal di tanah suci saat melaksanakan ibadah haji. Terlebih lagi jika sudah tidak ada lagi anggota keluarga lainnya yang satu atap dengannya.

Ditinggal Ayahnya Meninggal Di Tanah Suci, Gadis Berusia 15 Tahun Ini Kini Hidup Sebatang Kara
Achmad Rofi'i sedang berbincang dengan Fita di rumah duka (Boy Slamet/Jawapos.com)
Salah satunya adalah yang dialami oleh gadis berusia 15 tahun bernama Gugus Selfita Sari, seorang warga Dusun Gisik Kidul, Desa Tambak Cemandi Kecamatan Sedati.

Ia kini harus mengikhlaskan keadaan untuk hidup sebatang kara lantaran ayahnya yang bernama Mukijan Sodimedjo meninggal saat melaksanakan ibadah haji di tanah suci pada hari Kamis (1/9/2016).

Ayah dari gadis yang akrab disapa Fita ini tercatat menjadi jamaah haji pertama yang meninggal dari Embarkasi Sidoarjo.

Dilansir dari Jawa Pos, Sabtu (3/9/2016), Achmad Rofi’i yang menjabat sebagai Kepala Kementerian Agama Sidoarjo pun mendatangi rumah duka pada hari Jum’at (2/9/2016) dan berusaha menenangkan sekaligus memberikan motivasi kepada Fita, anak semata wayang almarhum Mukijan.

Tampak saat itu Fita hanya tertunduk lesu dengan ditemani beberapa kerabat. Sementara ibu dari Fita sudah meninggal sejak ia berumur 6 tahun dan hanya tinggal bersama sang ayah di rumah sederhana tersebut setelah itu.

“Ya kaget. Cuma ada bapak satu-satunya, kini sudah tidak ada juga,” ucap Fita sedih.

Fita dan keluarga baru mengetahui kematian ayahnya satu jam setelah Mukijan menghembuskan nafas terakhirnya. Kabar itu pun didapatkan dari warga kampung yang juga satu kloter dengan almarhum dan Fita sempat pingsan ketika mendengar kabar tersebut hingga menangis semalaman.

“Bapak tidak pamitan apa-apa. Tiba-tiba saya ditinggal,” kenangnya.

Sebelumnya Mukijan sempat menelepon Fita dan mengeluh sakit. Meski begitu ia menyatakan kondisi di Mekkah semuanya serba enak, terutama hidangannya. Fita pun ikut bahagia mendengar hal tersebut.

Dituturkan oleh Fita bahwa keinginan melaksanakan ibadah haji sudah menjadi impian ayahnya sejak tahun 2009. Namun beberapa bulan terakhir diakuinya memang sang ayah mengalami sakit dan sering bolak balik ke rumah sakit untuk diopname.

Fita mengungkapkan bahwa almarhum ayahnya mengalami komplikasi penyakit seperti ginjal, ambeien, jantung dan paru-paru. Meski begitu ayahnya tetap bersikeras untuk berangkat ke tanah suci.

Demi merawat sang ayah agar tetap sehat sebelum keberangkatan, Fita pun merelakan sekolahnya yang baru ia masuki sebagai siswa baru di SMKN 1 Buduran. Ini karena hanya Fita lah satu-satunya keluarga yang mampu merawat dan menemani sang ayah di rumah sakit.

“Saya satu bulanan ini tidak masuk sekolah. Mengurus bapak di rumah. Bolak balik ke rumah sakit. Tidak berani meninggalkan bapak,“ tutur Fita.

Sementara itu kedatangan Rofi’i ke rumah duka ingin menjelaskan tentang kebenaran kabar tersebut dan penyebabnya. Setelah diperiksa oleh dokter di Arab Saudi, diketahui bahwa Mukijan terkena penyakit kardiovaskuler atau gangguan jantung dan pembuluh darah.

Mukijan pun ditemukan telah meninggal di kamar Hotel Holiday Inn, Makkah pada pukul 08.30 waktu setempat dan dimakamkan di tempat pemakaman umum Makkah (Ma’la).

Kabarnya, Kemenag juga memberikan santunan asuransi sebesar 32 juta kepada ahli waris dengan ketentuan harus menyiapkan beberapa surat-surat untuk diserahkan ke Kemenag.

“Secepatnya diurus agar bisa diproses lebih cepat juga,” ucap Rof’i yang akan berjanji juga membebaskan biaya sekolah untuk Fita.

“Saya akan usahakan berbicara kepada Bupati. Anak ini sebatang kara, sudah seharusnya dibantu,” pungkasnya.

Baca Juga: