Pedagang Seperti Ini Akan Dimasukkan Dalam Golongan Orang-orang Yang Mati Syahid




Dalam sejarah perjalanan para sahabat Nabi, kita dapati bahwa di antara mereka itu ada yang bekerja sebagai pedagang, pertukangan, petani dan sebagainya.

Sahabat Anshar pada umumnya ahli pertanian, sedang sahabat Muhajirin pada umumnya ahli dalam perdagangan dan menempa dalam pasar. Misalnya Abdurrahman bin 'Auf, sahabat nabi yang sangat pintar berdagang.

Pedagang Seperti Ini Akan Dimasukkan Dalam Golongan Orang-orang Yang Mati Syahid
Ilustrasi Pedagang


Abu bakar juga bekerja sebagai pedagang, sehingga pada waktu akan dilantik sebagai khalifah beliau sedang bersiap-siap akan ke pasar. Begitu juga Umar, Usman dan lain-lain.

Oleh karena itu, maka kita jumpai seluruh sahabat nabi masing-masing bekerja seperti apa yang dikerjakan Nabi, ada yang mengurus kurma dan tanaman-tanaman, ada yang bekerja sebagai tukang batu, tukang bangunan dan sebagainya.

Mereka yang tidak tahu tentang ajaran Rasulullah, berusaha sekuat tenaga untuk menanyakan kepada rekan-rekannya yang lain. Untuk itu mereka diperintahkan siapa yang mengetahui supaya menyampaikan kepada yang tidak tahu.

Pasar Islam ini langsung diawasi oleh Rasulullah sendiri. Beliau sendiri yang mentertibkan subjek-subjeknya dan beliau pula yang langsung mengurus dengan memberi bimbingan-bimbingan dan pengarahan-pengarahan.

Sehingga dengan demikian tidak ada penipuan, pengurangan timbangan, penimbunan, cukong-cukong dan lain-lain yang insya Allah hadis-hadis yang menerangkan hal itu akan kami tuturkan di bab Mu'amalat nanti dalam fasal halal dan haram tentang kehidupan secara umum bagi setiap muslim.

Pada suatu kesempatan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melihat banyak manusia yang berkumpul sedang berjual beli, Rasulullah memanggil mereka,

"Hai para pedagang.." kata Rasulullah.

Mereka pun lantas menjawab dan mengangkat kepala kemudian memandang pada Rasulullah.

Maka kata Rasulullah selanjutnya

"Sesungguhnya para pedagang kelak di Hari Kiamat akan dibangkitkan sebagai pendurhaka, kecuali pedagang yang takut kepada Allah, baik dan jujur." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)

Dalam riwayat lain diterangkan "Dari wasilah Bin al-aswad: Sedangkan kami adalah golongan pedagang. maka kata beliau, 'para pedagang, hati-hati kamu jangan sampai berdusta" (HR. Thabrani)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam beberapa haditsnya menyerukan kepada kita untuk berdagang, tentunya berdagang dengan cara yang baik dan jujur sesuai aturan syariat. Karena selain menguntungkan di dunia juga bisa menguntungkan di akhirat.

Dalam sebuah riwayat, Nabi bersabda,

"Pedagang yang beramanat dan dapat dipercaya makan bersama dengan golongan orang-orang yang mati syahid nanti di hari kiamat" (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim)

Dan sabdanya Lagi

"Pedagang yang bisa dipercaya dan beramanat akan bersama para nabi, para shiddiqin dan golongan orang-orang yang mati syahid " (HR. Al Hakim dan Baihaqi dengan sanad Hasan)

Tidak heran jika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mensejajarkan kedudukan pedagang yang amanah dan jujur dengan kedudukan orang-orang yang mati syahid di jalan Allah, sebab sebagaimana kita ketahui bahwa arti jihad bukan hanya terbatas dalam medan tempur atau perang semata-mata namun juga meliputi lapangan ekonomi.

Urusan dagang sering menenggelamkan orang dalam angka-angka dan menghitung modal serta mengeruk keuntungan belaka tanpa berpegang pada ajaran syariat, Oleh karenanya seorang pedagang harus berhati-hati agar juga bisa meraih pahala besar nanti di akhirat sebagaimana telah disebutkan oleh hadits-hadits diatas.