Al Qur’an Di Jaman Pangeran Diponegoro Ini Ternyata Masih Terjaga Dengan Baik




Al Qur’an Di Jaman Pangeran Diponegoro Ini Ternyata Masih Terjaga Dengan Baik
Foto: Radar Jogja
Al Qur’an Di Jaman Pangeran Diponegoro Ini Ternyata Masih Terjaga Dengan Baik

Sejak dahulu islam sudah berkembang pesat di Indonesia, meski saat itu masih dalam bentuk kerajaan. Salah satu pahlawan yang juga seorang muslim di zaman tersebut adalah Pangeran Diponegoro. Pahlawan tanah Jawa ini begitu dikenal karena keberaniannya dalam membela agama dan tanah air.

Kisah Pangeran Diponegoro pun dikaitkan dengan sebuah masjid yang berada di lereng perbukitan Menoreh Kabupaten Magelang. Ini karena di masjid itu tersimpan beberapa benda berharga milik tokoh yang dikenal dalam Perang Jawa tersebut.

Bangunan bernama Masjid Langgar Agung ini menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan pangeran Diponegoro melawan para penjajah. Selain itu di sana terdapat barang yang tersisa dan masih tersimpan baik hingga sekarang yakni Al Qur’an yang ditulis sendiri oleh tangan pengikut Diponegoro.

Di bagian depan sampulnya, nampak Al Qur’an tersebut memperlihatkan umurnya yang sudah ratusan tahun. Kondisi sampul yang sudah patah dan disambung dengan perekat menandakan bahwa sampul tersebut dibuat dari kulit hewan seperti kerbau ataupun sapi.

Dilansir dari Radar Jogja, Al Qur’an itu pun memiliki bobot 1 ½ kilogram dan ditulis oleh seorang pengikut Diponegoro bernama Mbah Abdul Aziz. Keterangan ini didapat dari pernyataan KH Achmad Nurshodiq selaku imam Masjid Langgar agung.

“Pembuatannya secara langsung dari tangan Mbah Abdul Aziz, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro.”

Achmad juga menambahkan bahwa kemungkinan besar Al Qur’an tersebut dibuat tahun 1825-1830, sebagaimana informasi dari takmir pertama Masjid Langgar Agung bernama Kiai Fathoni.

Ketika itu Al Qur’an ditemukan dalam laci mimbar masjid dan makam penulis Al Qur’an tersebut berada di Soroniten, Kalikajar, Wonosobo. Di sana juga terdapat sebuah masjid yang dulunya sempat hancur, namun sudah berhasil direnovasi.

Pena yang digunakan untuk menulis ayat suci Al Qur’an pun terbuat dari lidi aren. Tulisannya masih terlihat jelas, meski sudah berumur ratusan tahun. Kemungkinan besar tinta yang digunakan tidak sembarangan karena tinta tersebut tidak memudar.

“Kalau bukan orang ampuh tidak bisa menulis sampai 30 juz seperti ini,” ucapnya.

Meskipun begitu, ada beberapa lembar Al qur’an yang robek dikarenakan dimakan rayap dan dahulunya sering digunakan.

Imam masjid yang juga merupakan pengasuh Ponpes Nurul Falah Menoreh Salaman juga menunjukkan bahwa di bagian awal Al Qur’an terdapat corak batik yang berwarna-warni. Sementara lembaran lainnya hanya berupa kalimat dan ayat suci Al Qur’an saja.

Karena merupakan warisan di jaman Pangeran Diponegoro, pemerintah pun memberikan perhatian khusus dimana saat itu Dinas Pariwisata mau mengambil alih kepemilikan Al Qur’an. Akan tetapi Achmad tetap mempertahankannya dengan alasan membawa keberkahan.

“Saya yakin dengan adanya Al Qur’an di sini masyarakat bisa tahu dan mendapat berkah. Dengan demikian masyarakat Salaman bisa belajar Al Qur’an,” tuturnya.

Untuk menjaga Al Qur’an tersebut, Achmad menyimpannya di sebuah lemari khusus dimana di dalamnya terdapat berbagai kitab lain. Achmad pun terkadang hanya membukanya ketika ada yang melakukan penelitian tentang riwayat Pangeran Diponegoro.

Tak hanya Al Qur’an, di masjid itu juga terdapat beberapa peninggalan lain seperti batu bekas bersemedi, keris dan yang lainnya.

Atas perawatan terhadap benda-benda bersejarah milik Pangeran Diponegoro, pihak keluarga besar tokoh bernama kecil Raden Mas Antawirya pun berterima kasih seperti yang dilakukan oleh cicit Diponegoro bernama Raden Ayu Hayati Diponegoro dengan berkunjung ke Masjid tersebut.

Baca Juga:


Semoga benda peninggalan Pangeran Diponegoro tersebut tak hanya disimpan begitu saja, namun juga dikaji dan diamalkan sehingga keberkahan benar-benar menaungi daerah tersebut. Wallahu A’lam




loading...