NAUDZUBILLAH, Jangan Sampai Punya Mertua Seperti Ini!




Dalam kehidupan berkeluarga, ada 3 macam jenis 'mertua', pertama adalah mertua yang pengertian kepada menantunya. Pengertian dengan kondisi menantunya dan dia mau menerima menantu karena agama dan akhlak menantunya. Yang penting shaleh, masalah uang bisa diusahakan. Kedua, mertua yang segan kepada menantunya. Segan pada menantu karena menantunya hafal Al Qur'an dan gaji menantunya diatas 30 juta perbulan. Dan ketiga, mertua yang hubbud dunya (materialistis) sehingga dunia jadi tolak ukurnya.

NAUDZUBILLAH, Jangan Sampai Punya Mertua Seperti Ini!
Ilustrasi mertua matre / poskotanews.com


Disini kita akan membicarakan mertua yang ketiga yakni yang suka menilai sesuatu hanya dari materi. Saya berharap jangan sampai kita ketemu atau punya mertua seperti ini.

Kenapa? karena mertua nomer tiga diatas suka mengukur kebahagiaan dengan materi dan keduniawian. Memilih menantu pun berdasar kedudukan (pangkat, gaji, bentuk tubuh). Bukan lillahi taala karena agama tapi karena ada 'sesuatu'.

“Alhamdulillah menantuku Wakhid sekarang jadi seorang hakim” katanya dengan bangga kepada sanak famili. Wakhid, setelah menyelesaikan studi pascasarjana di Undip Semarang pulang ke pulau garam. Namun perangai mertua yang awalnya membangga-banggakan wakhid berubah total setelah tahu gaji bulanan yang ia terima. Karena ternyata gaji yang diterima Wakhid kurang dari 4 juta per bulan.

Sedikit-sedikit mertua Wakhid mulai berani mencampuri urusan dalam negeri Wakhid. Mulai dari memisahkan dirinya dengan istri dan anak. Sampai Wakhid pun sering diremehkan ketika berada di rumah mertuanya.

“Andai putriku nikah dengan anaknya si A, mungkin ia bisa beli susu formula dan vitamin untuk cucuku ini.” Nyinyir mertua kepada Wakhid.

“Subhaanallah… mobil Innova putih milik tetangga itu bagus ya, kapan suamimu bisa beli yang seperti itu?” sindir mertuanya.

Parahnya lagi, perabotan dan semua barang barang milik Wakhid dikeluarkan dari rumah oleh mertuanya.

“Barang-barang pribadi saya dibuang sama mertua.” Ungkap Wakhid kepada Muhit, kawan baiknya yang sesama pecinta ikan hias.

Selain itu yang membuat Wakhid sakit hati adalah, Dia sama sekali tak diberi kabar ketika kelahiran anak keduanya dan dilarang menjenguk bayinya yang dilahirkan secara caesar di RS. Puncaknya ialah ketika Wakhid dipaksa bercerai dengan istrinya.

“Doakan ya mas agar saya kuat, insyaallah besok saya jalani sidang pertama di Pengadilan Agama”. katanya kepada Muhit melalui pesan di facebook.

Sungguh malang sekali nasib Wakhid. Semoga kisah nyata ini bisa diambil hikmah dan menjadi pelajaran berharga bagi para jomblowan.

Hendaknya ketika sudah merencanakan untuk nikah,  telusuri dulu dengan teliti tentang perangai dan kepribadian calon mertua. Cek dan tanyakan pada orang-orang sekitar tentang kesehariannya termasuk gaya hidupnya, tabayyun pada tetangga sekitarnya. agar jangan sampai kejadian seperti Wakhid terulang pada anda.

Dan yang paling penting, Jika mampu, hendaknya jika sudah berumah tangga nanti jangan mendirikan rumah terlalu dekat dengan mertua. Belilah rumah atau jika memang tak mampu, mengontrak sekalian yang jaraknya jauh. 4-25 kilometer.

Khawatir terjadi gesekan sana-sini dan mengungkit ungkit pemberian kepada cucu. Ini berlaku untuk mertua matre tadi. Sosok mertua kejam yang harus selalu didoakan, “Allahummafir lahu warhamhu wa’afihi wa'fu anhu….”.