Muallaf Ini Meninggal 10 Jam Setelah Bersyahadat, 700 Orang Menziarahinya




KabarMakkah.Com – Salah seorang muallaf meninggal dunia setelah sebelumnya sekitar 10 jam, ia telah menyatakan syahadat dan masuk agama Islam. Pihak keluarga yang diwakili dua orang putranya yang juga muallaf atas kemauannya sendiri, telah mengirim pesan ke komunitas muslim Inggris karena mereka keluarga muallaf yang tidak memiliki sanak saudara muslim.

Salah seorang anaknya menuturkan bahwa jenazah sang ibunda telah dikonfirmasi tertanggal 19 Februari 2016 pada pukul 11 siang. Ia meminta tolong kepada seluruh muslim yang ada di Inggris untuk mau datang dan hadir pada pemakaman sang ibunda. Dengan demikian akan banyak orang yang mendoakan almarhumah.

Muallaf Ini Meninggal 10 Jam Setelah Bersyahadat, 700 Orang Menziarahinya

Ia juga menuturkan kepada komunitas tersebut bahwa sang ibu telah menghembuskan nafas terakhir setelah menerima Islam 10 jam yang lalu. Subhaanallah, dalam sekejap, masyarakat muslim di London merespon hal tersebut. Mereka berbondong-bondong menghadiri pemakaman yang berlangsung di Ilford London.

Jika dihitung, ada sekitar 700 hingga 800 orang yang menghadiri pemakaman tersebut, meski sebelumnya mereka tidak saling kenal sedikit pun.

Salah seorang muslim London, Abu Qina menuliskan dalam Twitternya, “Alhamdulillah, kami baru saja shalat jenazah untuk seorang saudari muallaf. Di sana ada respon yang baik dari masyarakat.”

Seperti yang dikutip dari ilmfeed.com, keluarga kewalahan atas dukungan yang sangat besar tersebut. Sungguh hal ini membuktikan bahwa persaudaraan Islam di negara minoritas sangatlah erat. Meski mereka tidak saling kenal, mereka dengan ikhlas mau menghadiri pemakaman seseorang yang tidak mereka kenali dan bahkan mendoakannya.

Sahabat.. Seperti inilah memang kenyataan agama Islam dimana ketika berada di sebuah negara dengan minoritas penduduk muslimnya, maka rasa persaudaraan sesama muslim begitu terasa. Mereka mampu untuk saling membantu sesama muslim yang tidak mereka kenali. Mereka mampu merasakan penderitaan warga muslim lainnya yang dilanda kesusahan tanpa memandang pemahaman akan keislamannya.

Berbeda halnya masyarakat yang ada di negara mayoritas muslim. Rasa persaudaraan dan empati kurang begitu terasa. Tak sedikit yang justru acuh tak acuh terhadap penderitaan saudara ataupun tetangganya sekalipun.

Perkara yang umum terjadi adalah ketika seorang muslim berbeda pandangan dengan muslim lainnya. Hal inilah yang menyebabkan persaudaraan sesama muslim menjadi hilang. Mereka lebih condong untuk bersama dengan komunitasnya sendiri yang sepaham tanpa ingat bahwa tetangga atau saudara yang berbeda paham pun adalah muslim juga.

Jika sudah begini, jangan harap Islam akan bangkit. Jangan harap pula rahmat Allah turun karena perselisihan yang terus dibangun oleh masyarakatnya sendiri.

Sungguh sebuah kerinduan ketika Islam datang saat jaman Rasul, kesusahan dan derita salah seorang muslim menjadi penderitaan semua muslimin. Ingatkah ketika Abu Bakar rela mengeluarkan hartanya demi bisa memerdekakan seorang hamba sahaya bernama Bilal? Sungguh sebuah rasa persaudaraan yang saat ini begitu dangkal hanya karena berbeda pemahaman mengenai syariat.

Semoga Allah kembali mempersatukan hati kita semua untuk bisa menjadi umat yang satu, umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Aamiin