Kisah Inspiratif: Punya Banyak Gelar Dunia, Namun Buta Agama




KabarMakkah.Com – Kisah inspiratif berikut ini hendaknya bisa menjadikan kita tersadar bahwa dunia bukanlah tujuan yang utama dan dengan dunia pula, seseorang tidak bisa selamanya mendapatkan apa yang ia inginkan.

Alkisah ada seorang ibu yang sangat bangga akan kecerdasan putranya. Kecerdasan itu memang sudah terlihat dari semenjak putranya belia. Maka jauh-jauh hari, sang ibu pun sudah merancang rencana masa depan bagi putra tercintanya. Ia bertekad bahwa putranya harus menjadi orang sukses berpendidikan dan berpenghasilan tinggi.

Kisah Inspiratif: Punya Banyak Gelar Dunia, Namun Buta Agama

Dimasukkanlah putranya ke lembaga sekolah yang berkualitas mulai dari tingkat PAUD, TK, SMP dan SMA. Menjelang kelulusan dari SMA, ia pun sudah mencanangkan lembaga pendidikan lanjutan bagi putranya berkuliah.

Untuk membiayai pendidikan putranya yang tidak sedikit, sang ibu giat bekerja membanting tulang di luaran sana. Maklum penghasilan suaminya tidak mencukupi kebutuhan biaya pendidikan yang melambung tinggi. Tak jarang ia pun harus gali lobang tutup lobang, pinjam sana-sini demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Singkat cerita akhirnya putranya mampu menyelesaikan studi hingga jenjang sarjana. Rasa haru dan bangga menyelimuti hati sang ibu, ketika titel sarjana disematkan di belakang nama putranya. Tak butuh waktu lama, putranya pun diterima di sebuah perusahaan yang sesuai dengan jurusan yang ia tempuh.

Bahkan perusahaan tempat putranya bekerja, mau membiayai putranya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka meningkatkan keahliannya yang kelak berguna bagi perusahaan. Kesempatan ini pun tak dibiarkan berlalu sia-sia. Dengan semangat ’45 putranya pun mau melanjutkan kembali pendidikannya. Putranya berhasil pula lulus dengan nilai cemerlang. Maka semakin bertambahlah gelar yang disematkan di belakang nama putra kebanggaannya itu.

Kini sang ibu mulai memikirkan jodoh bagi putranya. Sebagai ibu yang demokratis, ia pun tidak mau memaksakan kehendak menjodohkan putranya dengan wanita yang tidak dicintainya. Maka pada suatu hari, ketika mereka tengah berkumpul menikmati akhir pekan bersama di rumah, ia berkata: “Nak.... usiamu tak lagi muda. Usiamu sudah lebih dari cukup untuk membina rumah tangga sendiri. Kira-kira adakah wanita yang kau sukai dalam hidupmu?”

“Sebenarnya ada, bu...” Jawab putranya malu-malu

“Siapakah dia?” Tanya sang ibu

“Dia adalah putri pak Ahmad.” Jawab putranya, masih dengan nada malu

“Putri pak Ahmad?!... Putri Pak Ahmad yang jarang keluar rumah itu?” Tanya sang ibu

“Iya, bu” Jawab putranya

“Tapi mengapa dia, Nak?” Kata sang ibu heran. “Mengapa engkau tidak memilih dari kalangan teman-teman kuliah atau rekan-rekan kerjamu nak?” Sambungnya.

“Ah.... inginnya sama dia bu, gak mau sama yang lain” Jawab putranya. “Bahkan jika bukan sama dia, lebih baik aku tidak menikah saja, bu”. Ucapnya.

“Husss,.... jangan bicara sembarangan! Lagipula ibu bertanya seperti itu, bukan berarti ibu tidak mendukung. Baiklah, besok kita akan datang ke rumah kedua orang tuanya. Tentu mereka akan bangga mempunyai seorang menantu sepertimu” Ucap ibunya.

Keesokan harinya sang pemuda dan ibunya pun pergi ke rumah pak Ahmad. Mereka mengutarakan maksud kedatangannya yakni untuk melamar putri pemilik rumah itu. Pak Ahmad tidak serta merta menerima lamaran tersebut sebelum menanyai putrinya. Maka dipanggilah putri semata wayangnya itu untuk ditanyai.

“Nak, ini ada yang datang mau melamarmu. Dia adalah lulusan perguruan tinggi terkenal yang telah menyelesaikan S2-nya. Dia juga sudah bekerja di perusahaan besar sebagai manager. Bagaimana pendapatmu, nak?” Tanya sang ayah.

Malu-malu, putrinya berkata: “Tidak ada alasan bagiku untuk menolak lamarannya Ayah. Tapi, hatiku menginginkan dia untuk memenuhi satu syaratku”.

“Apakah itu?” Tanya si pemuda dengan kepercayaan diri tinggi. Ia yakin bahwa dirinya pasti mampu memenuhi syarat apa pun yang diajukan gadis impiannya.

“Emmmhh.... coba dirikanlah 2 raka’at shalat, tapi dengan bacaan yang dizahirkan (dinyaringkan)”. Pinta si gadis.

Mendengar hal itu, si pemuda gelagapan. Bagaimana bisa ia dites shalat dengan menyaringkan tiap bacaannya. Ia tak hafal sepenuhnya bacaan shalat. Tapi karena terus didesak, akhirnya ia pun memberanikan diri berdiri menghadap kiblat.

“Allahu Akbar” Ucapnya bergetar.

Namun setelah takbiratul ihram itu, pikirannya tak jua ingat apa lagi yang harus ia baca. Maka mulutnya mengatup rapat, keringat dingin bercucuran dari dahinya. 1 menit... 2 menit berlalu, tak juga diingatnya. Malah sekarang pandangannya mulai kabur, pikirannya berkecamuk resah bercampur malu.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengakui kelemahannya, mengakui bahwa dirinya tak hafal bacaan shalat.

“Mohon maaf adinda...” Ucapnya dengan pandangan tertunduk malu. “Sebenarnya kang Mas tak hafal bacaan shalat dengan sempurna. Tapi kang Mas mau belajar, jika Dinda mau membimbing”. Sambungnya.

Sejenak hening

“Emmhh... maafkan saya” Ucap si gadis. “Sepertinya saya tidak bisa menerima lamaran kang Mas, mohon maaf” Ucap si gadis sambil tertunduk.

Akhirnya sang pemuda dan ibunya pun pulang dengan tangan hampa. Tiada yang mereka bawa pulang kecuali rasa malu. Malu pada diri mereka sendiri. Mereka menyadari bahwa gelar dunia yang selama ini didapat tidak mampu menarik hati gadis shalehah itu. Mereka malu, karena mereka buta akan agama.

***

Begitulah, manusia kadang begitu menggebu-gebu mengejar gelar dunia, namun melupakan gelar akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai" (QS. Ar-Rum: 7)

Salah seorang ulama, yakni Hasan Al Bashri berkata: “Demi Allah, salah seorang dari mereka telah mencapai keilmuan yang tinggi dalam hal dunia, di mana ia mampu memberitahukan kepadamu mengenai berat sebuah dirham (uang perak) hanya dengan membalik uang tersebut pada ujung kukunya, sedangkan dirinya sendiri tidak becus dalam melaksanakan shalat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 84. Abu Ishaq Al-Huwaini menyatakan bahwa As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsur menisbatkan perkataan ini pada Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim)

Sebuah bahan intropeksi untuk kita agar tidak mengesampingkan agama demi mengejar dunia. Agama tidak melarang seseorang mencari duniawi asal tidak melupakan kepentingan akhirat dan tetap menjadikan kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang sebenarnya.

Wallahu A’lam





loading...

close ini