Benarkah Laki-laki Baik Hanya Untuk Perempuan Yang Baik Saja?




Benarkah Laki-laki Baik Hanya Untuk Perempuan Yang Baik Saja?

Benarkah Laki-laki Baik Hanya Untuk Perempuan Yang Baik Saja?

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Ustadz, Mohon maaf, Saya pernah baca di artikel kabar makkah bahwa disana di jelaskan tentang ayat yang menerangkan bahwa wanita baik berpasangan dengan lelaki baik. Sudah jelas Al-Qur'an itu adalah kalam Allah, dan ayat tersebut seperti sebuah kepastian dalam hidup.

Tetapi dalam kehidupan nyata ada seorang suami yg baik hati rajin ibadah, tetapi istrinya selingkuh dengan lelaki lain, bahkan pada zaman nabi pun Istri Firaun yang kejam seorang wanita yang sholehah, dan istri nabi luth bahkan seorang yang mendustai Allah. Hal ini sudah pernah saya baca di artikel kabar makkah.

Tapi saya ingin hal ini lebih jelas, Apa maksud dari ayat tersebut ustadz?

Mohon maaf jika ada salah kata, saya hanya ingin lebih mengetahui agar saya dapat memahami kandungan ayat tersebut.

Terima kasih atas perhatiannya.

(SA Bandung)

Jawaban

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh

Bismillah, Alhamdulillah Wassholatu Wassalamu ala Rosulillah. Waba'du,


اَلْخـَبِيـْثــاَتُ لِلْخَبِيْثـِيْنَ وَ اْلخَبِيْثُــوْنَ لِلْخَبِيْثاَتِ وَ الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَ الطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.” (QS. An Nur: 26)

Asbabun nuzul ayat diatas adalah untuk menunjukkan bahwa antara sayyidah Aisyah r.a. dan Sahabat Shafwan bin al-Mu’attal r.a. tidak terjalin hubungan terlarang dan untuk menjawab segala tuduhan keji kaum munafikin yang ditujukan kepada mereka.

Riwayat lengkap asbabun nuzul dari surah al-Nur ayat 26 adalah sebagai berikut:

Pada suatu ketika Khasif bertanya kepada Sa’ad bin Jubair: “Mana yang lebih besar dosanya, zina atau menuduh orang berbuat zina?” jawab Sa’ad “Lebih besar zina” Khasif kembali berkata: “Bukankah Allah swt telah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik …..”(QS. An-Nur:23) sebagaimana kita maklumi ?”. Yakni yang menegaskan bahwa orang yang menuduh berzina dilaknat Allah di dunia dan akhirat. Maka Sa’ad berkata: “ayat ini diturunkan khusus berkenaan dengan peristiwa Aisyah”. (HR. Thabrani dari Khasif. Di dalam sanadnya terdapat Yahya al-Hamani yang dha’if).

Ketika itu, Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq dituduh berbuat serong pada Shafwan bin al-Mu’attal. Dan ia sendiri tidak mengetahui, baru kemudian ada yang menyampaikan tentang tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Ketika Rasulullah SAW. Berada di tempat Aisyah, maka turunlah wahyu sehingga beliau membetulkan duduknya serta menyapu muka. Setelah itu beliau bersabda : “Wahai Aisyah, bergembiralah kamu. Aisyah berkata: “Dengan memuji dan bersyukur kepada Allah, dan bukan kepada tuan.” Kemudian Rasulullah SAW. Membaca ayat ke 23-26 sebagai ketegasan hukum bagi orang yang menuduh berbuat zina terhadap wanita yang suci. (HR. Ibnu Jarir dari Aisyah).

Dari keterangan diatas bisa diambil kesimpulan bahwa ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan tuduhan yang dibuat-buat oleh kaum munafikin terhadap istri Nabi, Sayyidah Aisyah. (HR. Thabrani dengan dua sanad dari Ibnu Abbas).

Karena setelah orang-orang membicarakan fitnah yang ditujukan kepada Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq, isteri Rasulullah. Maka Rasulullah SAW langsung mengirim utusan kepada Aisyah dengan mengatakan: “Wahai Aisyah, bagaimana pendapatmu tentang perkataan orang mengenai dirimu?”. Jawab Aisyah : “Aku tidak akan memberikan sanggahan apa pun sehingga Allah menurunkan sanggahan dari langit”. Maka Allah SWT. Kemudian menurunkan 15 ayat dari surat ini. Yakni ayat ke-11 sampai 26. Kemudian Rasulullah SAW. Membacakan ayat-ayat tersebut kapada Aisyah. (HR. Thabrani dari Hakam bin Utaibah. Hadist ini isnadnya shahih, tetapi mursal)

Banyak yang memahami ayat diatas seakan mengatakan bahwa jika seorang laki-laki atau wanita baik maka dengan sendirinya istri atau suaminya juga baik, diampuni, dan menjadi salah seorang penghuni surga. Sebab Al-Qur’an suci memandang iman, kesalehan, dan amal baik sebagai kriteria. Namun, Maksud sebenarnya dari ayat diatas bukanlah seperti pemahaman tersebut, karena meskipun Nabi Nuh dan Luth 'alaihimassalaam adalah manusia-manusia suci dan beriman pada Allah SWT, namun istri-istri mereka adalah orang-orang jahat dan merupakan penghuni neraka. Banyak juga kita lihat di masa sekarang yang serupa dengan itu karena hakikatnya ada empat model pasangan suami istri:

Suami: Iman/Baik, Istri: Kafir/ Buruk (pasangan Nabi Luth dalam QS at-Tahrim:10)
Suami: Kafir/Buruk, Istri: Iman/ Baik (Pasangan Fir’aun dalam QS at-Tahrim: 11)
Suami dan Istri sama-sama Kafir/Buruk (Abu Lahab dan Istrinya Arwa binti Harb)
Suami dan Istri sama-sama Iman/Baik (Rasulullah SAW dan Siti Aisyah)

Pada kenyataan sekarang yang terjadi, ternyata, ada laki-laki yang baik mendapat istri yang keji, begitu pula sebaliknya. Maka pahamilah ayat tersebut sebagai sebuah 'perintah', untuk menciptakan kondisi yang baik-baik untuk yang baik-baik, Dan ini adalah sebuah keharusan. Kalau tidak, maka kondisi terbalik malah yang akan terjadi.

Coba kita bandingkan ayat 26 dengan ayat 3 surat An nur dibawah ini, yang mana kalimat digunakan untuk umum?

“laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik” (QS. An Nur: :3)

Dalam ayat 3 surat An nur diatas lebih tegas mengandung 'unsur perintah' untuk mencari pasangan yang sepadan. Sehingga ayat 26 bisa dimengerti sebagai sebuah motivasi atau anjuran untuk mengondisikan dan hal itu bukanlah ketetapan dan janji Allah bahwa yang baik 'otomatis' akan mendapatkan pasangan yang baik. Oleh karena itu Rasulullah SAW pernah bersabda tentang anjuran memilih pasangan dengan 4 pertimbangan, terserah yang mana saja, namun yang agamanya baik tentu sangat dianjurkan.

Kesimpulannya, Jangan memahami Al Qur'an hanya dari sepotong sepotong ayat dan hanya melalui terjemahnya saja, Karena berdasar asbabun nuzulnya kita bisa paham betul bahwa ayat di atas -khusus- diturunkan berkenaan dengan tragedi Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq yang dituduh oleh kaum munafikin dengan tuduhan yang mereka reka-reka. Ayat ini diturunkan untuk menjaga kesucian istri Rasulullah SAW dan membersihkannya dari tuduhan hina dan pencemaran nama baik.

Jadi, tidak ada korelasi antara ayat diatas, dengan masalah jodoh, Lelaki baik sudah pasti mendapatkan jodoh perempuan yang baik atau sebaliknya. Semoga bisa membantu.

Wallahu A'lam.

(Mahbub Ma'afi)




loading...

close ini