Karena Mendengar Bisikan 'Yasin' 7 Kali, Pria Ini Mengaku Sebagai Nabi Sejak 10 Tahun Lalu




Mengaku mendapat wahyu pada tahun 2005, seorang pria dari Jombang yang diketahui bernama Jari (40) menyatakan dirinya sebagai Nabi Isa Habibullah.

Sesat! Karena Mendengar Bisikan 'Yasin' 7 Kali, Pria Ini Mengaku Sebagai Nabi
Jari (40) Pria Jombang Yang Mengaku Sebagai Nabi


Setelah sepuluh tahun menyebarkan ajarannya, kini pria sesat tersebut memiliki pengikut lebih dari 100 orang.

Dua kali dalam sebulan, Jari bersama pengikutnya selalu rutin menggelar pengajian terbuka di Pondok Pesantren Kahuripan Ash Shirot, Desa Karang Pakis, Kabuh, Jombang.

Jari mengaku diangkat oleh Allah menjadi Nabi Isa dengan gelar Isa Habibullah setelah mendapat wahyu di daerah Brangkal -Mojokerto.

Pria kelahiran Gempol Karangpakis, Kecamatan Kabuh Jombang ini menjelaskan, di suatu malam dirinya menerima bisikan berupa lantunan surat dalam Al Quran sekaligus tafsiran dalam bahasa Indonesia.

Ia mengaku mendengar wahyu yang memanggil dirinya dengan panggilan “Wahai Isa”.

Jari mengaku mendapatkan bisikan ghaib tersebut di akhir tahun 2004, Saat itu dirinya sedang melaksanakan shalat malam.

“Tepat waktu sujud, dada saya serasa ditekan. Bersamaan dengan itu saya mendengar Tuhan memanggil saya dengan Surat Yasin. Ada suara melafadzkan bacaan Surat Yasin.

“Ada suara menyebut ‘Yasin’ sebanyak tujuh kali berturut-turut. Kemudian ‘Walquranul Khakiim’ sampai selesai,” ungkap Jari.

“Saya tidak kuat akhirnya menangis. Itulah wahyu yang saya terima dari Allah. Jadi, saya sudah 10 tahun mendapat wahyu sebagai Nabi Isa Habibullah,” ungkapnya.

Dua tahun kemudian pria yang biasa disapa Gus Jari ini mendirikan Pondok Pesantren Kahuripan Ash-Shiroth di Dusun Gempol. Dan juga membangun masjid dalam kompleks pesantren.

Di dalam bangunan masjid yang ada di samping pesantren miliknya, ditempatkan sebuah batu. Jari dan pengikutnya mengklaim batu itu sebagai Makam Nabi Muhammad SAW.

Batu itulah yang selalu digunakan oleh Gus Jari Isa Habibulloh untuk duduk berceramah di depan pengikutnya, Setiap tanggal 1 dan 15 setiap bulan.

Jari mengajarkan pada pengikutnya Sayahadat dengan tambahan "Wa Isa Habibullah" atau lengkapnya Ashaduallailahaillallah Wa Ashadu Anna Muhammadarosulullah Wa Isa Habibulloh.

jari mengklaim bahwa dia bukanlah nabi penutup, Namun nabi akhir zaman yang diutus untuk meluruskan syariat.

"Saya bukanlah nabi penutup, tetapi nabi yang ditunjuk sebagai tanda-tanda akhir zaman untuk meluruskan syariat, toriqot, hakekat dan makrifat," ujarnya.

Selama 10 tahun menyatakan dirinya sebagai utusan Allah dan menyebarkan ajarannya kata Jari dirinya tidak pernah mendapat pertentangan dari masyarakat.

"Tak hanya masyarakat biasa, sejumlah aparat dari TNI maupun polisi  juga sering datang dan menanyakan hal ini kepada dirinya. Bahkan beberapa diantaranya mengikuti rutin mengikuti pengajian  dan tidak pernah satu pun yang menegur," jelasnya.

Karena Mendengar Bisikan 'Yasin' 7 Kali, Pria Ini Mengaku Sebagai Nabi Sejak 10 Tahun Lalu
Pondok pesantren Kahuripan Ash-Shiroti di Jombang, MTVN - Nurul Hidayat


Bahkan, Jari mengklaim semua ajarannya benar karena seluruhnya berdasarkan Alquran dan hadits sama seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dihubungi secara terpisah, Pihak Kementrian Agama Kabupaten Jombang, Ilham Rochim mengaku sudah memantau aktifitas Jari dan pengikutnya,

"Kami sudah mendatangi kelompok tersebut ketika pengajian. Ada beberapa hal yang kita jadikan catatan. Semisal aksesoris masjid yang terdapat gambar wayang, banteng dan harimau. Dan juga terdapat batu besar di dekat ruang imam," ujar Ilham Rohim, Penyelenggara Syariah, Kantor Kemenag Jombang, Selasa (16/2/2016).

Rohim menjelaskan, pihaknya sudah meminta kepada Jari agar melepas semua aksesoris aneh di masjid miliknya. Hanya saja, permintaan tersebut hanya bertepuk sebelah tangan alias diacuhkan.

Kemenag belum berani memastikan bahwa ajaran pria yang mengklaim mendapat wahyu dari Allah itu sesat.

Alasannya, kajian yang dilakukan MUI, Kepolisian, Kesbangpol, dan Kemenag, belum kelar. "Data-data sudah kita kumpulkan. Sedangkan kajian terhadap kelompok tersebut masih dalam proses. Kita juga melibatkan MUI, Kepolisian, serta Kesbangpol," ujar Rohim. (Beritajatim.com)




loading...

close ini