Begini Cara Merawat Cinta Dalam Keluarga dan Menjaga Amanah Dalam Pernikahan




Oleh: Titien SDF

Begini Cara Merawat Cinta Dalam Keluarga dan Menjaga Amanah Dalam Pernikahan


Sahabat surgaku, cinta memang suatu rasa yang tiada habisnya untuk diperbincangkan. Dia menyertakan perasaan tersebut dalam setiap penciptaan-Nya. Hingga tak seorang pun di dunia ini yang tidak memiliki rasa cinta pada apapun.

Secara fitrah, Dia menjadikan indah setiap pandangan manusia dan kecintaan terhadap apa-apa yang ia ingini. Ini telah tersurat dalam firman-Nya pada QS Ali Imran ayat 14, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Sudah sunatullah, seorang laki-laki mencintai wanita, begitu pun sebaliknya. Namun, Allah telah menurunkan petunjuk-Nya yang sempurna agar rasa cinta itu tak menjadi permainan nafsu dan syahwat yang menjadikannya hina. Islam menghalalkannya sepanjang pemenuhannya dilakukan sesuai fitrah dan syariat, yaitu melalui mitsaqon gholidho, melalui pernikahan.

Dengannya, Dia menambahkan ketenangan, cinta dan kasih sayang. Demikianlah yang tersurat dalam QS Ar Ruum ayat 21, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Di awal pernikahan, umumnya lebih mudah merawat cinta pada pasangan. Banyak hal yang dapat dilalui berdua, kebutuhan hidup masih sedikit, perhatian pun dapat tercurah sepenuhnya untuk pasangan kita. Namun, seiring bertambahnya usia pernikahan, adanya anak-anak yang lahir kemudian akan memperpanjang daftar kebutuhan yang juga meminta perhatian. Apalagi bila suami dan istri sama-sama bekerja, urusan pekerjaan pun banyak memangkas perhatian pada pasangan. Masing-masing lelah dengan kesibukannya sendiri. Kehidupan hanya seperti rutinitas yang kemudian mengikis rasa cinta itu sendiri sedikit demi sedikit, menjadikannya layu dan kering kerontang.

Sahabat surgaku, pernikahan adalah mitsaqon gholidho, karenanya ada amanah yang besar di dalamnya, amanah untuk menjaga pasangan dan anak-anak yang dititipkan Allah. Penjagaan yang bukan hanya secara fisik dan finansial, namun juga penjagaan fitrahnya sebagai hamba Allah. Ingatlah perintahnya dalam QS At Tahrim ayat 5, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Sahabat surgaku, keimanan tak dapat diwariskan. Keimanan adalah masalah hati, dan hati hanya dapat disentuh dengan cinta dan kasih sayang. Bagaimanakah engkau dapat membuatnya tumbuh kokoh bila engkau seperti tidak punya waktu untuk merawatnya?

Bagaimana bila kemudian mereka mencari cinta dan kasih sayang dari yang lain? Yang tidak mengajarkan tentang iman yang hakiki? Inilah pentingnya merawat cinta dalam keluarga agar selalu berbunga, agar lebih mudah untuk menjaga keluarga kita. Lalu, bagaimana cara merawatnya?

1. Biasakan curhat dengan pasangan.

Terkadang, kita terlalu membatasi pembicaraan kita dengan pasangan, utamanya tentang pekerjaan kita dengan segala permasalahannya. Alasannya, agar pasangan tidak terbebani, dan belum tentu dapat memecahkan masalah yang kita hadapi. Sebenarnya, keadaan ini justru banyak menimbulkan prasangka ketika waktu anda dengan pasangan semakin berkurang. Biasakan membicarakan segala sesuatu dengan pasangan kita, termasuk masalah pekerjaan. Andai dia tidak dapat membantu memecahkan persoalan, setidaknya dia bisa melapangkan dadamu dengan bersabar mendengarkan dan menghiburmu. Karena setiap orang ingin didengar keluhannya, curahan hatinya, dan pasangan kitalah yang paling layak untuk kita curhati. Ini akan mengokohkan rasa saling percaya di antara pasangan suami istri.

2. Menangani anak bersama-sama.

Pada umumnya, berkembang anggapan bahwa mencari nafkah tugas suami dan tugas istri adalah mendidik anak. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar.

Anak adalah amanah yang dititipkan Allah bukan hanya untuk ibunya saja, namun juga ayahnya. Bagaimana merawat mereka, menghadapi kenakalan mereka, membentuk akhlak mereka, bagaimana membekali mereka dengan iman dan ilmu pengetahuan.

Semuanya adalah tanggungjawab berdua. Benar, ‘al ummu madrosatul ‘ula’ ibu adalah sekolah pertama, namun ayahlah kepala sekolahnya. Kepala sekolah bertanggungjawab atas kurikulum yang akan diajarkan, karenanya dia harus terlibat aktif dalam proses pendidikan yang dilaksanakan guru/sekolah. Demikian pula seorang ayah, harus terlibat aktif dalam mendidik anak-anaknya.

Seringkali, kesibukan ayah menjadikan ibu seolah-olah menjadi single parent. Akibatnya, kedekatan anak-anak kepada sosok ayah menjadi sangat kurang. Apalagi, bila ayah dan ibu sama-sama bekerja dan kurang berinteraksi pengan putra-putrinya, mereka akan mencari perhatian dan kasih sayang dari orang lain.

Sahabat surgaku, luangkan waktumu. Tak ada tanggungjawab yang lebih besar daripada mendidik anak. Karena, Dia yang menyerahkan amanah ini langsung kepadamu, tidak melalui orang lain.

3. Menjaga adab-adab pergaulan.

Interaksi dengan lawan jenis di luar rumah memang sesuatu hal yang tak dapat dihindari. Namun, islam mengajarkan adab-adab pergaulan agar hubungan pertemanan dan persaudaraan tidak menjadi sesuatu yang menyimpang dan melanggar syariat. Jaman sekarang, pergaulan dengan lawan jenis dapat dilakukan di dunia nyata maupun di dunia maya.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An Nuur ayat 30-31)

Banyaknya fasilitas kemudahan menjadikan seseorang dapat dengan mudah berhubungan melalui telpon, sms, whats app, bbm, facebook, dan media-media sosial lainnya tanpa harus bertemu secara nyata. Ketika fasilitas tersebut hanya digunakan untuk membahas masalah pekerjaan yang memang harus diselesaikan, tentu takkan jadi masalah baru. Namun, adakalanya, fasilitas ini digunakan untuk ajang bercanda/ main-main. Dan saat dua orang berlawanan jenis sudah nyaman bercanda, maka satu per satu pun mulai dicurhatkan, termasuk permasalahan yang ada dalam keluarga masing-masing. Ingat, sebagian besar perselingkuhan diawali dengan hal semacam ini.

“Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.” (QS Sl An-aam ayat 120)

Sahabat surgaku, batasi pergaulanmu dengan lawan jenis, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Allah maha melihat apa yang engkau kerjakan. Bila engkau tak menjaganya, Dia akan mencabut keberkahan darimu, bersebab itu hilang pula cinta dan kasih sayang dari pasangan.

4. Gunakan fasilitas yang ada secara bijak.

Dewasa ini, banyak fasilitas kemudahan yang dapat dinikmati. Kita dapat menikmati beragam acara TV, tidak suka dengan yang satu bisa pindah chanel dan tak dibatasi waktu. Kita bisa mendengarkan musik dengan headset tanpa terganggu oleh suara-suara di sekitar kita. Kita dapat menikmati fasilitas kemudahan dari ponsel kita, berfesbuuk ria, twitteran, main game, atau membuka you tube semau kita. Dan seringkali, kita tidak bisa memanage waktu, mengabaikan pasangan dan anak-anak, sibuk untuk menyenangkan diri sendiri. Akibatnya, mereka pun tak merasa memiliki kita dan kehilangan rasa percaya. Ketika rasa percaya terkikis, cinta dan kasih sayang pun ikut habis.

Gunakanlah fasilitas secara bijak, gunakan saat-saat di rumah untuk bercengkerama dengan pasangan dan anak-anak. Jadikan dirimu tempat mereka untuk bercerita tentang segala sesuatu. Di waktu-waktu ini, kalian bisa saling menyemangati dan saling meluruskan, mengajarkan dan berdiskusi tentang ilmu Allah ataupun hal-hal lainnya. Atau, saling memijat sebagai bentuk perhatian. Dekatkan dirimu maka akan kokoh pula sakinah mawaddah warrahmah.

Jangan jadikan dirimu seperti orang-orang yang dimaksud Allah dalam QS At Takatsuur ayat 1-8, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, 2 – sampai kamu masuk ke dalam kubur. 3 – Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4 – dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. 5 – Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 6 – niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 7 – dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. 8 – kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

5. Hiasi rumahmu dengan sunnah dan adab kenabian.

Sahabat surgaku, QS Al Furqon ayat 74, mungkin menjadi satu doa yang selalu kita lantunkan, “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Semua itu kita lakukan agar kita termasuk orang-orang yang dimaksud Allah dalam QS At Thuur ayat 21, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Karenanya, hiasi rumahmu dengan sunnah dan adab kenabian, wahai sahabat surgaku. Ajarkan adab pada keluargamu, sayangi yang muda dan muliakanlah yang lebih tua. Hidupkan Alqur’an dalam keseharian. Lemahkan hawa nafsu dan syahwat dengan puasa. Dan hidupkan sepertiga malammu dengan bersujud menemui-Nya. Karena Dialah yang maha memiliki segalanya.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS Al Baqoroh ayat 45)

Sahabat surgaku, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tetap harus kita dahulukan di atas segalanya. Seperti itulah yang dikehendaki Allah dalam QS At Taubah ayat 24: “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Sahabat surgaku, mari jadikan apa-apa yang kita miliki sebagai sarana untuk meraih ridho dan ampunan-Nya. Andai kelak nanti, kalian berada di surga dan tidak mendapati aku di sana. Tolong, sampaikan pada Robbku, bahwa aku adalah sahabat kalian yang mengingatkan kalian akan Dia sehingga Dia berkenan mengampuniku dan mengumpulkan aku bersama kalian di surga. Aamiin.