Jangan Menggurui Al Qur’an Tentang Arti “Toleransi”

Diposting pada

Islam sangat menjunjung tinggi toleransi. Namun toleransi yang dimaksud adalah dalam bidang berinteraksi dan bermuamalah secara baik dengan non-muslim. Toleransi tanpa merayakan perayaan mereka dan ikut campur serta dalam ibadah mereka.

Jangan Menggurui Al Qur'an Tentang Arti "Toleransi"

Banyak umat Islam yang salah kaprah dengan istilah toleransi. Padahal agama kita sudah memiliki prinsip yang tegas mengenai masalah ini,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS. Al Kafirun: 6)

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (QS. Al Isra’: 84)

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ

“Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)

Pakar tafsir terkemuka, Ibnu Jarir Ath Thobari ketika mengomentari ayat toleransi dalam QS. Al Kafirun, menjelaskan,

“Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang aku anut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 24: 704)

Berbicara mengenai masalah toleransi antar-umat beragama, Islam mempunyai konsep yang jelas. “Tidak ada paksaan dalam agama”, “Bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami”  adalah contoh nyata dari toleransi dalam Islam yang disebutkan dalam Al Qur’an.

Selain ayat-ayat diatas, masih banyak ayat lain menjelaskan tentang konsep toleransi yang tersebar di berbagai Surat. Ada pula hadis dan praktik toleransi dalam sejarah Islam. Fakta-fakta sejarah ini menunjukkan bahwa masalah toleransi dalam Islam bukanlah konsep asing.

Toleransi adalah bagian integral dari Islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karya-karya tafsir mereka. Dalam ajaran Islam, toleransi bukan hanya terkait antara sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup.  Dengan makna toleransi yang luas semacam ini, maka toleransi antar-umat beragama dalam Islam memperoleh perhatian penting dan serius.

Apalagi toleransi beragama adalah masalah yang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah. Ia begitu sensitif, primordial, dan mudah membakar konflik sehingga menyedot perhatian besar dari Islam. Makalah berikut akan mengulas pandangan Islam tentang toleransi. Ulasan ini dilakukan baik pada tingkat paradigma, doktrin, teori maupun praktik toleransi dalam kehidupan manusia.

Saling menghormati masalah iman dan keyakinan adalah konsep Islam yang paling mendasar. Hal ini disebutkan dalam ayat terakhir dari surat Al Kafirun, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” Konsekuensi dari konsep ini adalah lahirnya kerukunan antar umat beragama.

Selain itu, hadits Nabi tentang persaudaraan sesama manusia juga menyatakan, “irhamuu man fil ardhi yarhamukum man fil samaa’” (Sayangilah orang yang ada di bumi maka akan sayang pula mereka yang di lanit kepadamu).

Persaudaran antar sesama manusia adalah bentuk dari toleransi yang diajarkan Islam. Persaudaraan ini menjaga hak-hak orang lain dan diterimanya perbedaan dalam suatu masyarakat. Dalam persaudaraan ini juga terlibat konsep keadilan, perdamaian, dan kerja sama yang saling menguntungkan.

Fakta historis toleransi juga dapat ditunjukkan oleh Rasulullah SAW melalui Piagam Madinah. Piagam ini merupakan satu contoh nyata tentang prinsip kemerdekaan beragama yang pernah dipraktekkan sendiri oleh Nabi Muhammad di Madinah. Di antara pasal-pasal yang menegaskan toleransi beragama adalah kewajiban untuk saling menghormati di antara agama yang ada dan tidak saling menyakiti serta saling melindungi anggota yang terikat dalam Piagam Madinah.

Sikap melindungi dan saling tolong-menolong tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan juga dijelaskan dalam sejumlah Hadist dan praktik Nabi. Bahkan sikap ini dianggap sebagai bagian yang melibatkan Tuhan. Semisal, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan  dalam Syu’ab al-Imam, karya seorang pemikir abad ke-11, al-Baihaqi, dikatakan: “Siapa yang membongkar aib orang lain di dunia ini, maka Allah (nanti) pasti akan membongkar aibnya di hari pembalasan”.

Toleransi Dalam Praktek Sejarah Islam

Sejarah Islam adalah sejarah tentang toleransi. Ekspansi Islam ke wilayah-wilayah diluar Jazirah Arab yang begitu cepat menunjukkan bahwa agama Islam mudah diterima oleh umat manusia di dunia ini. Ekspansi-ekspansi Islam ke Spanyol, Mesir, Syiria, Persia, Asia, dan ke seluruh pelosok dunia dilakukan melalui jalan cinta dan penuh damai.

Sebagai agama yang merupakan rahmatal lil’alamin (kasih sayang untuk semua manusia dan alam semesta) Islam tidak pernah memaksakan agama pada mereka (para penduduk taklukan) sampai akhirnya mereka menemukan kebenaran Islam itu sendiri melalui proses muamalah dan interaksi sosial yang intensif. Cara seperti inilah yang dilakukan sehingga Islam menjadi bersinar dan mencapai wilayah yang sangat luas ke hampir seluruh dunia dengan waktu yang sangat singkat dan hasil yang fantastik.

Memang, kita mengakui bahwa perluasan wilayah Islam sering terjadi peperangan. Namun peperangan itu dilakukan hanya sebagai pembelaan agar Islam tak diinjak-injak. Peperangan ini bukan karena alasan memaksakan keyakinan pada mereka, Namun karena ekses-ekses politik sebagai konsekuensi logis dari sebuah pendudukan. Pemaksaan keyakinan agama dilarang secara mutlak oleh Islam. Bahkan sekalipun Islam telah berkuasa di suatu wilayah, banyak agama dan kepercayaan lain yang diperbolehkan untuk dianut.

Sikap toleransi Islam terhadap agama-agama dan keyakinan-keyakinan lain dalam sejarah ini menunjukkan garis kontinum antara prinsip Syari’ah dengan praktek yang terjadi di lapangan. Meski praktek toleransi sering mengalami interupsi, namun secara doktrin tak ada dukungan teks Syari’ah. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan yang terjadi atas nama Islam bukanlah otentisitas ajaran Islam itu sendiri. Bahkan bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa pemerintah-pemerintah Muslim membiarkan, bekerjasama, dan memakai orang-orang Kristen, Yahudi, Shabi’un, dan penyembah berhala dalam pemerintahan mereka atau sebagai pegawai dalam pemerintahan.

Max I. Dimon, salah seorang yahudi pernah memberikan kesaksian, ia mengatakan bahwa “salah satu bentuk dari toleransi Islam adalah bebasnya orang-orang Yahudi untuk berpindah dan mengambil manfaat dengan cara menempatkan diri mereka di seluruh pelosok Empirium Islam yang amat besar itu. Lainnya ialah bahwa mereka dapat mencari penghidupan dalam cara apapun yang mereka pilih, karena tidak ada profesi yang dilarang bagi mereka, juga tak ada keahlian khusus yang diserahkan kepada mereka”.

Pengakuan Max I. Dimon atas toleransi Islam pada orang-orang Yahudi di Spanyol adalah pengakuan yang sangat tepat. Ia bahkan menyatakan bahwa dalam peradaban Islam, masyarakat Islam membuka pintu masjid, dan kamar tidur mereka, untuk pindah agama, pendidikan, maupun asimilasi. Orang-orang Yahudi, kata Max I. Dimon selanjutnya, tidak pernah mengalami hal yang begitu bagus sebelumnya.

Kutipan ini saya tegaskan karena ini dapat menjadi kesaksian dari seorang non-Muslim tentang toleransi Islam. Dan toleransi ini secara relatif terus dipraktikkan di dalam sejarah Islam di masa-masa sesudahnya oleh orang-orang Muslim di kawasan lain, termasuk di Nusantara. Melalui para pedagang Gujarat dan Arab, para raja di Nusantara Indonesia masuk Islam dan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya Islam di sini.

Selanjutnya, dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, ia dilakukan melalui perdagangan dan interaksi kawin-mawin. Ia tidak dilakukan melalui kolonialisme atau penjajahan sehingga sikap penerimaan masyarakat Nusantara sangat apresiatif dan dengan suka rela memeluk agama Islam. Sementara penduduk lokal lain yang tetap pada keyakinan lamanya juga tidak dimusuhi. Di sini, perlu dicatat bahwa model akulturasi dan enkulturasi budaya juga dilakukan demi toleransi dengan budaya-budaya setempat sehingga tak menimbulkan konflik. Apa yang dicontohkan para walisongo di Jawa, misalnya, merupakan contoh sahih betapa penyebaran Islam dilakukan dengan pola-pola toleransi yang amat mencengangkan bagi keagungan ajaran Islam.

Secara perlahan dan pasti, ekspansi Islam di seluruh Nusantara hampir mendekati sempurna yang dilakukan tanpa konflik sedikitpun. Hingga hari ini kegairahan beragama Islam dengan segala gegap-gempitanya menandai keberhasilan toleransi Islam. Ini membuktikan bahwa jika tak ada toleransi, yakni sikap menghormati perbedaan budaya maka perkembangan Islam di Nusantara tak akan sefantastik sekarang.

Kesimpulan

Toleransi dalam Islam adalah otentik. Artinya tidak asing lagi dan bahkan mengeksistensi sejak Islam itu ada. Karena sifatnya yang organik, maka toleransi di dalam Islam hanyalah persoalan implementasi dan komitmen untuk mempraktikkannya secara konsisten.

Namun, toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu. Toleransi di sini adalah dalam pengertian mu’amalah (interaksi sosial). Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.

Syari’ah telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Karena pemaksaan kehendak kepada orang lain untuk mengikuti agama kita adalah sikap a historis, yang tidak ada dasar dan contohnya di dalam sejarah Islam awal. Justru dengan sikap toleran yang amat indah inilah, sejarah peradaban Islam telah menghasilkan kegemilangan sehingga dicatat dalam tinta emas oleh sejarah peradaban dunia hingga hari ini dan insyaallah di masa depan.

sumber: Annaba Center

Loading...