Belajar dari Dullah, Tunanetra Penjual Kerupuk Yang Pantang Menyerah

Diposting pada

Terlahir dengan keadaan fisik yang tak sempurna, terkadang membuat sebagian orang sering menyerah pada keadaan tanpa melakukan usaha yang berarti untuk menjalani kerasnya kehidupan.

Jangankan orang yang mempunyai kekurangan atau keterbatasan fisik, bahkan orang yang tubuhnya sempurna dan sehat pun banyak yang malas bekerja, bahkan yang lebih ironis, mereka malah memilih menengadahkan tangan demi mengharap belas kasihan orang lain.

Memang begitulah fakta yang banyak terjadi sekarang ini. Kendati demikian, ternyata masih banyak juga sosok orang-orang yang giat berjuang tanpa mengharap belas kasihan orang, meski dalam keadaan fisik yang serba terbatas.

Dullah, Tunanetra Penjual Kerupuk
Dullah, Tunanetra Penjual Kerupuk

Dullah, contohnya. Meski dua matanya tak bisa melihat, Namun dirinya enggan mengharap belas kasihan orang. Ia lebih memilih berjualan kerupuk kulit dengan cara berkeliling sepanjang jalan.

Agus, seorang warga Bandar Lampung yang jalannya biasa dilalui Dullah jualan, menceritakan bahwa setiap hari Dullah ini, berjalan sambil memegang tongkat yang menjadi penuntunnya, menyusuri setiap jalan di Kota Bandar Lampung. “Kerupuk kulit.. Kerupuuk kulit” teriak Dullah sepanjang keramaian yang dilaluinya, Kerupuk ini bukan Dullah yang membuatnya, Tapi titipan seorang juragan kepadanya.

“Harga satu bungkusnya Rp. 5.000” kata Agus. Yang lebih salut, imbuh Agus, Dullah ini dia tidak mau dikasih uang secara cuma-cuma. Ia lebih memilih mendapatkan uang sedikit, namun dari hasil keringat kerja kerasnya sendiri, daripada mendapatkan uang banyak namun dari belas kasihan orang.

Pernah suatu hari Agus memberikan uang lebih untuk Dullah, dia membeli satu kerupuk dengan membayarnya Rp. 10.000, Karena waktu itu Dullah tidak punya kembalian, Agus ikhlas jika kembaliannya disedekahkan pada Dullah, Namun hal itu ditolak Dullah. Pada esok harinya Dullah mengembalikan kembalian tersebut.

“Saya lebih senang menjadi penjual, saya tidak ingin menghidupi keluarga dengan jalan meminta-minta. Selama saya masih bisa berusaha saya akan melakukan apa pun demi menafkahi keluarga, tanpa mengharapkan belas kasihan orang” tutur Agus, menirukan ucapan Dullah.

Sumber: Brilio.Net

Loading...