Indahnya Toleransi, Natalius: Saya Katolik, Saya Tidak Terima Jika Ulama Dianiaya

Indahnya Toleransi, Natalius: Saya Katolik, Saya Tidak Terima Jika Ulama Dianiaya

Indahnya Toleransi, Natalius: Saya Katolik, Saya Tidak Terima Jika Ulama Dianiaya



Eks Anggota Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai angkat bicara terkait insiden penembakan terhadap 6 orang laskar Front Pembela Islam (FPI) oleh aparat penegak hukum pada Senin, 7 Desember 2020 lalu. 


Dalam talkshow di Kanal YouTube Refly Harun pada Selasa, 15 Desember 2020, Refly menanyakan sikap Natalius yang dalam beberapa pernyataannya itu terlihat membela Ulama, sementara Natalius sendiri merupakan seorang Katolik. 


Natalius pun mengatakan bahwa sikapnya ini membela kemanusiaan. Sehingga tidak perlu melihat latar belakang mereka, baik ras maupun agamanya. 


“Siapa yang merasa hak asasinya terlanggar, itu tugas kita untuk melindungi,” tutur Natalius dikutip Kabarmakkah.com dari YouTube Refly Harun, Selasa.  


Natalius menambahkan bahwa, kebetulan, lima tahun terakhir ini umat Islam mendapat ketidakadilan. 


“Dan kita sudah menjadi orang-orang prominent dalam human right. Tidak mungkin kita tidak menyatakan keprihatinan, tidak mungkin kita membiarkan mereka berjuang sendiri, tanpa ada usaha-usaha perlindungan pembelaan dari kelompok humanitarian,” ucapnya. 


“Humanitarian itu seluruh agama ada nilainya. Lintas agama dan lintas suku. Jadi kalo membela manusia, jangan lihat dia itu pakai jilbab, dia kristen, pakai salib, itu tidak perlu. Karena abad sekarang itu abad human right millenium. Karena itu tidak mungkin, orang yang membela kemanusiaan, itu membela berdasarkan keluarga, suku, agama, dan ras antar golongan,” sambungnya.  


Sementara itu, ketika ditanya oleh Refly Harun terkait sikapnya yang pro terhadap kelompok Islam, Natalius menjawab bahwa dirinya tidak pro kelompok Islam. 


“Maaf, saya tidak pro kelompok islam. Tetapi, persoalan ketidakadilan kita harus punya kepentingan, mengucapkan kebenaran. Ketika orang-orang Islam itu merasa teraniaya, kita lihat dengan mata kepala, mereka mendapat ketidakadilan,” ucapnya. 


Refly pun kembali bertanya, adakah persoalan lain yang Natalius lihat dan bela secara spesifik, selain terhadap kasus enam orang yang tewas ini. 


“Saya itu ketua tim pemantauan dan penyelidikan kasus ulama, habaib, Ustadz Buni Yani, Habib Rizieq, saya itu ketuanya. Dan dalam perjalanan kasus yang dihadapi oleh Habib Rizieq, itu kontribusi saya paling tidak ada 5 persen. Berbagai kasus yang sampai bisa Habib Rizieq landai dengan tenang di Indonesia, mulai dari dalam negeri sampai luar negeri,” jawabnya. 


“Karena, selain membela Habib Rizieq dan ulama, orang-orang yang terduga atau orang-orang yang merasa teraniaya HAM-nya, disatu sisi selain membela mereka. Di sisi lain, kita melihat kok negara ini terlalu menekan komunitasnya. Ketika ulama itu dianiaya, maka agama Islam juga teraniaya. karena antara agama dan ulama itu dua sisi yang tidak bisa dipisahkan, Karena itu tugas kita adalah menjaga supaya agama tuhan itu terjaga secara baik dan benar,” lanjutnya. 


Refly kembali bertanya, perihal bagaimana konsekuensi dan kesulitan yang diterima Natalius sebagai seorang minoritas dari sisi agama dan suku. 


“Kalau menjadi seorang pembela kemanusiaan, tidak usah mempertimbangkan apa dampaknya, karena kita meyakini bahwa manusia itu adalah penuh dengan cinta kasih. Karena itu tidak mungkin orang itu benci ketika kita memutuskan membela orang-orang kecil, miskin, dan orang-orang yang merasa teraniaya,” ujarnya. 


Teraniaya dalam konteks human right, kata dia, adalah relasi antara negara dengan rakyatnya, dimana negara memiliki kekuasaan karena punya otoritas dan sumber daya, sehingga berpotensi terjadinya pelanggaran HAM. 


“Sementara, rakyat tidak memiliki kekuatan otoritas, yang posisinya lemah, maka kita harus memastikan berada disamping mereka atau dibelakang mereka,” katanya. 


Pada pertanyaan terakhir, Refly pun meminta closing statement dari Natalius Pigai terkait alasannya, yang walaupun seorang Katolik, tetapi dalam pandangannya banyak yang menilai bahwa sepertinya pro kelompok Islam yang dipinggirkan negara. 


“intinya, tentu semua agama mengajarkan membela kepada semua orang, kemudian negara juga mengajarkan hal yang sama, baik di dasar konstitusi, Pancasila, serta di dalam undang-undang,” ucapnya. 


“Karena itu, kalau ingin menjadi seorang publik figur, ingin mengelola negara, ingin menjadi seorang aktivis, yang paling penting adalah hilangkan dulu sekat-sekat primordialnya, jadi harus berfikir meletakan pandangan plural, multikultur, egalitarianisme. Itu harus berada di depan daripada kepentingan pribadi,” pungkasnya. 


Next article Next Post
Previous article Previous Post