Gaji Sebagai Guru Tak Cukup Buat Makan Sehari-hari, Mbak Sari Banting Setir Jualan Kopi

Gaji Sebagai Guru Tak Cukup Buat Makan Sehari-hari, Mbak Sari Banting Setir Jualan Kopi

 

Gaji Sebagai Guru Tak Cukup Buat Makan Sehari-hari, Mbak Sari Banting Setir Jualan Kopi


Pendidikannya yang tinggi tak membuat wanita cantik ini gengsi jualan kopi. Ia justru merasa bahagia karena penghasilannya lebih besar dibandingkan saat masih menjadi guru.


Wanita bernama Sari Ristanti ini dulunya seorang guru SMP di Semarang, Jawa Tengah. 


Ia juga memiliki ijazah S1 Pendidikan yang diperolehnya setelah mengenyam kuliah di salah satu universitas negeri di Semarang.


Sari pernah menjadi guru, namun kini ia lebih dikenal sebagai penjual kopi di warung sederhana. 


Dengan alasan memperbaiki kualitas hidup, Sari memilih merantau ke Jakarta. Bukan mencari pekerjaan sebagai guru lagi, ia memilih untuk membuka usaha baru.


Sari membeberkan perjalanan karirnya dari seorang guru menjadi penjual kopi. 


"Saya lebih bahagia begini, lebih enak. Biar cuma tukang kopi, usaha kecil tapi saya bosnya," kata Sari sambil tersenyum.


Di sini ia juga menjelaskan kalau orangtuanya sempat kecewa mendapati anaknya yang sekolah tinggi namun hanya jadi penjual kopi. 


Tapi Sari meyakinkan orangtuanya kalau pekerjaan ini halal dan lebih baik dibandingkan pekerjaan-pekerjaan sebelumnya.


"Ya sempat kecewa, anak udah sekolah tinggi kan. Tapi Alhamdulillah ke sininya ngerti, saya tunjukin ke mereka. Saya kerja pernah jadi SPG, jadi guru honorer. Itu guru honorer waktu itu di tempat saya SMP favorit gitu, gajinya Rp 450 ribu sebulan," ujar Sari sambil tertawa.


Dengan modal seadanya, Sari memberanikan diri untuk membuka warung kopi kecil-kecilan. Di sini ia setiap hari berjualan kopi, mie instan dan aneka jajanan. 


Warungnya cukup ramai karena ia memilih tempat jualan di area cuci kendaraan.


Baginya, usaha kecil tidak masalah asalkan halal dan bisa menjalani dengan bahagia. 


"Gak apa-apa kecil, yang penting saya di sini senang. Kerjanya kan begini fleksibel, saya bosnya, mau libur terserah. Apalagi saya perempuan, tiap hari megang uang kan senang perempuan. Saya juga hobi belanja, jadi tersalurkan karena setiap hari bisa belanja buat dagangan," beber Sari.


Omzet perhari di warung kopinya ini beragam, tapi Sari mengaku dalam sehari bisa dapat hingga Rp 900 ribu. 


Pendapatannya sempat anjlok karena pandemi namun kini perlahan mulai normal kembali.


Sari yang berjualan di kawasan Condet, Jakarta Timur ini setiap hari membuka warungnya pukul 13.00 hingga 20.00 WIB. Kisah Mbak Sari yang memilih jadi penjual kopi ini pun ramai mendapat pujian netizen.


"Mantap bu guru cantik, lebih enak punya usaha sendiri yang penting halal. Semakin laris dan sukses usahanya bu guru," kata netizen.


"Semoga sukses ya bu. Sudah cantik, ramah, pandai bahasa inggris, pandai berdagang, wah benar-benar calon istri idaman," sahut netizen lain.


"Aku suka kata-kata mbak tukang kopi ini. Usaha sendiri kita bosnya," pungkas netizen.

Next article Next Post
Previous article Previous Post