Remuk Redam, Kontroversi Nabi Belum Usai Presiden Prancis Emmanuel Macron Nyatakan Lockdown Nasional

Remuk Redam, Kontroversi Nabi Belum Usai Presiden Prancis Emmanuel Macron Nyatakan Lockdown Nasional

 

Remuk Redam, Kontroversi Nabi Belum Usai Presiden Prancis Emmanuel Macron Nyatakan Lockdown Nasional


Belum selesai kontroversi dan penolakan atas pembelaannya terhadap publikasi karikatur Nabi Muhammad yang memicu gelombang protes dari berbagai negara muslim, Presiden Prancis Emmanuel Macron dihadapkan pada persoalan pandemi yang membuatnya "remuk redam".


Dikutip dari DailyMail, Kamis (29 Oktober 2020) hari ini Macron mengumumkan lockdown nasional. 


Langkah keras Macron tersebut mendapat penolakan dari massa anti-lockdown.


Meski demikian Macron bergeming dan mengklaim lockdown wajib dilakukan karena 400 ribu jiwa warga Prancis terancam meninggal akibat virus corona jika negara tidak melakukan apa pun untuk mengendalikan sebaran virus yang saat ini nyaris tak terkendali.


Macron juga menegaskan sapuan gelombang dua pandemi yang membayangi Prancis saat ini lebih mematikan daripada yang pertama. 


Lockdown nasional akan berlaku mulai Jumat pagi hingga 1 Desember.


Namun Macron memastikan penguncian kali ini 'lebih fleksibel' dari  yang  pertama karena semua layanan publik, sekolah, dan tempat kerja yang dianggap esensial tetap buka dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.


Warga yang terpaksa keluar rumah harus membawa dokumen yang membuktikan validitas alasan mereka meninggalkan rumah. Dalam hal ini pemeriksaan dilakukan oleh polisi. Sementara bar dan restoran dipastikan tutup.


Alasan yang ditoleransi negara untuk meninggalkan rumah di antaranya membeli barang-barang penting, alasan medis atau alokasi satu jam bebas bagi setiap warga untuk berolahraga.


Macron mengakui lockdown jilid II ini sangat membuat “remuk redam” tak hanya dirinya tapi juga rakyat Prancis. 


Namun ia mengatakan tidak akan pernah diam sementara ratusan ribu warganya meninggal.


“Saya memutuskan untuk kembali memberlakukan lockdown mulai hari Jumat. Kita sudah mencapai kapasitas 58 persen di unit IC. Di banyak tempat kami melihat operasi penyelamatan nyawa yang tertunda. Dan 9.000 pasien diperkirakan akan ditangani di ICU pada pertengahan November, kapasitas maksimum di Prancis,” paparnya.


Lockdown diberlakukan hingga setidaknya 1 Desember saat review kembali dilakukan. Macron juga mengatakan toko non-esensial akan diizinkan untuk buka dalam 15 hari ke depan jika situasi membaik.


Saat ini tingkat infeksi harian Covid-19 Prancis berada di angka 35.000  yang disebut Macron turun menjadi 5.000. 


“Virus ini menyebar ke seluruh Prancis dengan kecepatan yang bahkan tidak dapat diprediksi oleh orang yang paling pesimis sekalipun,” ungkapnya.


"Seperti di tempat lain di Eropa, kami kewalahan oleh gelombang kedua pandemi yang mungkin akan lebih sulit dan mematikan daripada gelombang pertama," lanjutnya.


"Jika kita  tidak melakukan apa pun ... dalam beberapa bulan kita akan mendapati setidaknya 400.000 kematian tambahan," tegas Macron.


Prancis mengumumkan 36.437 angka infeksi baru pada Rabu malam dengan total di atas 1,2 juta, sementara angka kematian bertambah 244 hingga  total menjadi 35.785.


Sebelumnya Kanselir Jerman, Angela Merkel juga membelakukan “lockdown flesibel” dengan memerintahkan semua bar dan restoran di seantero negeri tutup mulai Senin pekan depan.***


Next article Next Post
Previous article Previous Post