Sudah Dikafani dan Disiarkan di Masjid, Pria Ini Kaget Bukan Kepalang Saat Tahu Istrinya Ternyata Masih Hidup

Sudah Dikafani dan Disiarkan di Masjid, Pria Ini Kaget Bukan Kepalang Saat Tahu Istrinya Ternyata Masih Hidup

Sudah Dikafani dan Disiarkan di Masjid, Pria Ini Kaget Bukan Kepalang Saat Tahu Istrinya Ternyata Masih Hidup


Seorang warga Desa Bendiwulung, Kecamatan Sanan Kulon, Kabupaten Blitar bernama Harnanik dikabarkan meninggal dunia, akibat serangan jantung.

Setelah sang istri dinyatakan meninggal dunia, suami Harnanik pun mulai menyiapkan seluruh kegiatan pemakaman. Termasuk mengumumkan kematian Harnanik lewat masjid desa dan meminta tukang gali kubur menyiapkan liang lahat untuk peristirahatan terakhir sang istri.

Saat menjemput ke rumah sakit, suami Harnanik sempat memanjatkan doa tepat di hadapan jenazah istrinya tersebut.

Tak hanya itu, suami Harnanik pun sempat memberanikan diri membuka kain jenazah untuk melihat wajah sang istri untuk terakhir kali. Namun siapa sangka, saat dibuka ternyata itu bukanlah jenazah Harnanik istrinya.

Pasien yang meninggal ternyata S, yang sempat dirawat satu ruangan dengan Hartanik.

Anak Harnanik, Nanung Hermawan bercerita, keluarga mengetahui ibunya masih hidup saat ayah Nanung ke rumah sakit untuk menjemput jenazah.

Setelah menandatangani semua berkas, sang ayah melakukan doa di depan jenazah Harnanik.

Karena penasaran, sang ayah membuka kain penutup jenazah dan terkejut saat melihat jenazah itu bukan istrinya, Harnanik. Ia pun segera ke ruang isolasi dan melihat istrinya masih dirawat.

"Terus lihat ke ruang isolasi, ternyata ibu saya masih ada di situ," kata Nanung.

Nanung mengatakan, ibunya telah pindah ruangan setelah dinyatakan negatif Covid-19. Meski begitu, Nanung menjelaskan pihak keluarga belum menerima surat keterangan negatif Covid-19. Padahal surat tersebut sangat penting saat kondisi pandemi seperti saat ini.

"Nanti sewaktu-waktu (ibu) saya bawa pulang, ada yang nanya bagaimana. Zaman sekarang masalah begini, kan rawan," kata Nanung

Sementara itu Wakil Direktur Pelayanan RSUD Mardi Waluyo dr Herya Putra menjelaskan kronologi kejadian tersebut.

Menurut Herya, Harnanik dirawat di rumah sakit karena menderita stroke ringan. Saat dirawat ia mengeluh sesak napas. Sesuai dengan prosedur, ia kemudian dirawat di ruang isolasi bersama dengan dua pasien lainnya.

Di ruangan tersebut, Harnanik dan S sama-sama berstatus suspek Covid-19. Mereka kemudian melakukan test swab pada 17 Agustus 2020 lalu.

Namun hingga saat ini hasil test belum diterima. Pada Minggu (23/8/2030) kondisi pasien S terus menurun. Perawat yang bertugas kemudian berinisiatif menukar posisi ranjang S dengan pasien Harnanik.

Pemindahan posisi ranjang dilakukan karena sudut pandang kamera pengawas lebih jelas. Namun pemindahan posisi ranjang tersebut tak dicatat dalam rekam medis pasien. Imbasnya, saat pergeseran petugas jaga, perawat tak menyadari pemindahan tersebut.

Penggunaan kamera pengawas dilakukan untuk membantu pemantauan perkembangan pasien. Ini karena kondisi dan keterbatasan akses pada ruang isolasi.

"Akses ruang isolasi kan terbatas. Perawat juga harus pakai APD level tiga," kata dia.

Saat kondisi pasien S memburuk dan meninggal di hari Senin, perawat mengira pasien tersebut adalah Harnanik. Apalagi gelang identitas pasien S terlepas dan tak berada di tempatnya. Sehingga perawat mengidentifikasi identitas pasien berdasarkan susunan ranjang.

"Saat itu juga tidak sempat cek ke bed (tempat tidur) sebelahnya karena keterbatasan akses ruang isolasi," lanjut Herya. "Berseberangan utara dan selatan."

Ia mengatakan saat ini Harnanik masih dirawat di ruang isolasi. Pernyataan tersebut berbeda dengan pernyaaan keluarga yang mengatakan Harnanik sudah pindah ke ruangan lain.

Terkait kejadian tersebut, Herya mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi dan pembinaan internal telah dilakukan agar kejadian serupa tak terulang.

"Kepada keluarga kita sudah sampaikan permohonan maaf," ujar Herya.
Next article Next Post
Previous article Previous Post