Sealim Apapun Kyai, Pasti Akan Hormat Kepada Keturunan Rasulullah

Sealim Apapun Kyai, Pasti Akan Hormat Kepada Keturunan Rasulullah

Sealim Apapun Kyai, Pasti Akan Hormat Kepada Keturunan Rasulullah


Habib secara etimologi dimaknai sebagai "orang yang dikasihi".

Namun, secara sosiologis dan budaya Indonesia, gelar habib melekat pada orang-orang yang memiliki darah nasab (darah biologis) yang bersambung dengan Rasulullah Shallallhu 'alaihi wasallam.

Umumnya, dibuktikan dengan silsilah nasab keluarga yang telah diakui kebenarannya.

Sebagai umat Islam, kita harus menghormati sekaligus mencintai keluarga dan keturunan Rasulullah yang disebut Ahlul Bait.

Rasulullah memang mengimbau agar umatnya menghormati dan mencintai keluarga dan keturunannya. Hal ini karena Ahlul Bait memang memiliki kemuliaan tersendiri.

Imbauan seperti itu sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang ulama sekaligus habib yang merupakan dzurriah Rasulullah  asal Tarim Hadramaut Yaman, yakni Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad (1634-1720 M) dalam kitabnya berjudul Al-Fushul al-‘Ilmiyyah wal Ushul al-Hikamiyyah, (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 89 ) sebagai berikut:

لأهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم شرف، ولرسول الله صلى اللهعليه وسلم بهم مزيد عناية وقد أكثر على أمته من الوصيّة بهم والحث على حبّهم ومودتهم. وبذالك أمرالله تعالى في كتابه في قوله تعالى: "قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى" الشورى، ٢٣

Artinya: “Ahlul Bait memiliki kemuliaan tersendiri, dan Rasulullah telah menunjukkan perhatiannya yang besar kepada mereka. Beliau berulang-ulang berwasiat dan mengimbau agar umatnya mencintai dan menyayangi mereka. Dengan itu pula Allah subhanahu wataála telah memerintahkan di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya: “Katakanlah wahai Muhammad, tiada aku minta suatu balasan melainkan kecintan kalian pada kerabatku.” (QS 42:23).

Dari kutipan di atas dapat ditegaskan bahwa kaum Muslimin memang harus menghormati dan mencintai Ahlul Bait bukan saja karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah, tetapi juga karena Allah telah memerintahkan kepada beliau untuk berseru kepada umatnya agar mencintai kerabat beliau.

Dengan kata lain perintah untuk mencintai Ahlul Bait merupakan perintah dari Allah subhanahu wa Ta'ala.

Rasulullah sebagai pemimpin seluruh umat tidak meminta balasan apa pun dari umatnya kecuali kecintaan mereka kepada keluarga dan keturunan beliau.

Dalam sebuah acara istighosah yang diadakan di kantor PBNU pada tahun 2019 silam, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil mengatakan sikap menghormati para habib merupakan perintah Allah dalam Alquran.

Dia menjelaskan para kyai dan santri NU sangat takdzim dan menghormati para Habaib.

"Ya kita hormatilah. Tidak boleh kita kriminalisasikan, nggak boleh kita hina, harus kita hormati," kata KH Said Aqil.

Ucapan Kyai Said pun sesuai dengan perilakunya yang senantiasa mencium tangan para habaib yang ditemuinya.

Hal itu terbukti ketika  kantor PBNU kedatangan Habib Umar bin Hafidz pada bulan September tahun silam.

Kyai Said terlihat tak segan-segan mencium tangan mulia sang Habib sebagai bentuk takdzim dan penghormatan untuk keturunan Rasulullah.

Sealim Apapun Kyai, Pasti Akan Hormat Kepada Keturunan Rasulullah
Kyai Said Aqil Siroj cium tangan Habib Umar


Almarhum Kyai Maimoen Zubair, Ulama kharismatik yang dikenal dengan kealimannya pun senantiasa menghormati dan mencium tangan keturunan Rasulullah.

Dalam berbagai kesempatan, Kyai Maimoen Zubair terlihat sangat jelas memuliakan para habaib, walaupun usia habib itu masih muda dibanding dirinya.

Sealim Apapun Kyai, Pasti Akan Hormat Kepada Keturunan Rasulullah
Kyai Maimoen Zubari cium tangan Sayyid Ahmad Al Maliki

Mbah Moen (panggilan akrab KH Maimoen Zubair) begitu mencintai habib dan dicintai habib. Pada tahun 2017 Mbah Moen kedatangan Sayyid Abdul Mun’im Al-Ghimmari, pakar hadis dan tasawuf dari Maroko.

Dalam sambutannya, Mbah Moen sampaikan bahwa dua kelompok besar di dunia Islam yang wajib diikuti dan dicintai yakni kiai (ulama) dan habib (dzurriyah Nabi).

Mbah Moen seolah hendak menyampaikan bagaimana Islam Indonesia menjadi kokoh dan kini begitu mempesona dunia Islam di antaranya lantaran relasi cinta dalam ilmu dan akhlak antara keduanya.

Lalu apa alasan Mbah Moen sangat memuliakan para habib?

“Nur (cahaya) Kanjeng Nabi itu ada 2. Ada nur karena nasab, ada nur karena ilmu. Nur karena nasab ini dibawa oleh para keturunan Rasulullah. Nur karena ilmu dibawa oleh para ulama. Seorang Habib walau tidak alim itu tetap membawa nur karena nasab, maka wajib kita hormati,” terang Mbah Maimoen.

Penegasan Mbah Moen ini merupakan wujud kecintaan beliau kepada para habib. Semua itu lahir karena kedalaman ilmunya dan ketinggian derajat keulamaannya.






Next article Next Post
Previous article Previous Post