Ingin Hidup Tenang dan Bahagia, Maka Jagalah Selalu Shalat

Ingin Hidup Tenang dan Bahagia, Maka Jagalah Selalu Shalat

Ingin Hidup Tenang dan Bahagia, Maka Jagalah Selalu Shalat


Semua tahu, Rasulullah selalu menjaga sholat lima waktu dengan sebaik-baiknya, disamping tepat waktu, beliau juga selalu menjaga sholat dengan berjamaah.

Apa yang dilakukan Nabi tersebutmerupakan terjemahan Al-Quran. Tidak satupun dari apa yang dilakukan, kecuali itu wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan sholat kepada Nabi Muhammad, sholat itu bukanlah sekedar mengugurkan kewajiban, tetapi memiliki makna yang amat agung, serta memiliki manfaat yang amat besar bagi manusia itu sendiri.

Bagi Nabi, sholat itu segala-galanya, sampai-sampai beliau mengatakan:

"Seandainya kalian tahu pahala sholat berjamaah, kalian pasti akan melaksanakan walaupun engkau berjalan sambil merangkak".

Untuk menyempurnakan ibadahnya, Nabi juga rajin sekali mengerjakan sholat sunnah, seperti; sholat dhuha, tahajud dan witir.

Sampai-sampai Nabi pernah mendapat teguran dari istri tercinta Aisyah, karena tak henti-hentinya mengerjakan sholat malam hingga kedua kakinya bengkak.

Aisyah-pun menjelaskan kepada suaminya agar jangan terlalu memaksakan diri sholat malam, karena sejatinya Nabi sudah mendapatkan ampunan dosa-dosa, baik yang sudah atau yang beluk di lakukan.

Nabi-pun menjawab singkat: "Akupun ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur”.

Nabi mengajarkan kepada umatnya melalui diskusi Rasulullah dan Aisyah ra bahwa bentuk syukur kepada Allah itu justru semakin rajin melaksanakan perintah-Nya, bukan semakin malas dalam ber-ibadah.

Sholat yang baik itu akan mencermikan kehidupan yang baik, sholat yang semrawut juga mencerminkan kehidupan yang semrawut.

Pola kehidupan seseorang bisa dilihat bagaimana ia menjaga dan mendirikan sholatnya. Khususnya menjaga waktu sholat dengan sebaik-baiknya, dan menjaga agar selalu berjamaah.

Sebagian besar masalah yang dihadapi seseorang, baik masalah ekonomi, pendidikan, keluarga, ternyata sebagian besar tidak memperhatikan sholatnya.

Menjaga sholat dengan sebaik-baiknya sama dengan menjaga tiang agama. Manakala sholatnya baik, maka keluarga akan menjadi baik dan berkualitas.

Setiap insan, selalu Allah berikan masalah dan ujian, mulai keharmonisan keluarga, pendapatan ekonomi yang cupet, pendidikan dan perilaku anak. Kadang, pasangan yang selama ini mendampingi ternyata berselingkuh.

Apa-pun masalahnya, maka hendaknya dia jadikan sholat sebagai obat mujarabnya.

Secara tidak langsung sholat itu cara terindah berinteraksi dengan Allah.

Ketika interakasi bagus dan berkualitas, akan ada pengaruh yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari.

begitu juga, untuk membangun sebuah keluarga berkualitas, harmonis, sakinah dan penuh cinta, kewajiban yang harus dilakukan adalah “menjaga sholat berjamaah”.

Jadikan rumah itu sebagai masjid (tempat bersujud), yang setiap hari terdengar alunan ayat-ayat suci Al-Quran, sholawat Nabi, agar para penghuni semakin betah di dalamnya. Inilah yang disebut dengan “rumahku adalah surgaku”.

Kunci Pertolongan Itu Sabar dan Shalat


Terkait dengan perintah agar sholat menjadi wasilah utama dalam menyelesaikan masalah, Allah menegaskan: "Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar (puasa) dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah (2:153).

Sebagian ahli Tafsir, mengatakan bahwa ayat ini sebuah perintah agar supaya meminta pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.

Tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkan pertolongan dalam hidupnya.

Semuanya pasti membutuhkan pertolongan, baik itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ataupun dalam menghadapi kesulitan dan musibah yang sedang menimpanya.

Di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini demikian juga. Dari mulai pengusaha kelas kakap sampai pedagang kecil terkena dampaknya.

Semuanya pasti membutuhkan pertolongan agar mampu bertahan dalam kesulitan dan segera mendapatkan kelonggaran.

Allah swt sudah mengajarkan kepada umat manusia bahwa pertolongan itu kuncinya ada di sabar dan shalat. Firman-Nya dalam QS. al-Baqarah [2] : 153 di atas menegaskan demikian. Ajaran ini bahkan sudah diajarkan juga kepada Bani Israil sebelumnya sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Baqarah [2] : 45. Ketika umat Islam di periode awal banyak mendapatkan siksaan dari musuh-musuh Islam, Allah swt mengingatkan bahwa siksaan dan kepedihan yang sama juga sudah dirasakan oleh umat sebelumnya, dan kunci mereka bisa mendapatkan pertolongan adalah sabar (QS. al-Baqarah [2] : 214). Ketika dalam perang Uhud umat Islam merasakan kekalahan akibat serangan balik kafir Quraisy dan hampir-hampir merasa putus asa, Allah swt juga mengingatkan bahwa cara satu-satunya agar mereka bisa menang kembali adalah sabar (QS. Ali ‘Imran [3] : 142). Termasuk dalam semua peperangan yang pastinya tidak akan selalu meraih kemenangan (QS. Muhammad [47] : 31). Dalam menghadapi lika-liku kehidupan yang selalu turun naik dalam hal rizki, kunci agar bisa sukses bertahan adalah shalat dan shabar (QS. Thaha [20] : 132). Resep agar Nabi saw kuat dalam melawan penindasan orang-orang kafir adalah shalat tahajjud (QS. al-Isra` [17] : 79, QS. Al-Muzzammil [73] : 1-7); memperbanyak sujud dan tasbih di waktu malam (QS. Qaf [50] : 40, QS. at-Thur [52] : 49, QS. al-Insan [76] : 26). Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang mengajarkan hal yang sama.

Nabi menguatkan ajaran di atas dengan nasihatnya kepada Ibn ‘Abbas ra: Ketahuilah dalam kesabaran atas hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan, bahwa pertolongan itu datang setelah kesabaran, kelapangan itu datang setelah kesempitan, dan kemudahan itu datang setelah kesulitan (Musnad Ahmad bab hadits Ibn ‘Abbas no. 2804).

Orang yang sabar adalah orang yang kuat jiwanya untuk bertahan dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun. Kekuatannya itu ditopang dengan shalat yang bagus, khususnya shalat malam dengan sujud yang panjang, tasbih yang diperbanyak, dan bacaan al-Qur`an yang tartil.

Ketika seseorang kuat jiwanya untuk bertahan, otomatis ia akan selalu menemukan jalan untuk bertahan.

Berbeda dengan orang yang rapuh jiwanya dan kemudian terpuruk. Orang seperti ini hanya tinggal menghitung detik saja menunggu ajalnya. Na’udzu billlah min dzalik.
Next article Next Post
Previous article Previous Post