Hebat! BLT Rp 600 Ribu Jadi Modal Usaha, Kini Jadi Rp 2 Juta Sehari

Hebat! BLT Rp 600 Ribu Jadi Modal Usaha, Kini Jadi Rp 2 Juta Sehari

Hebat! BLT Rp 600 Ribu Jadi Modal Usaha, Kini Jadi Rp 2 Juta Sehari


Akibat pandemi covid-19, banyak orang mengalami kesulitan ekonomi. Pemerintah pun turun tangan membantu dengan menyalurkan bantuan sosial pada warga yang membutuhkan.

Bansos sebesar Rp600 ribu itu dijadikan penyambung hidup warga yang ekonominya sulit. Namun berbeda dengan kebanyakan warga, pasangan Gina Rania Umar (19) dan Rahmat Ibrahim (19) justrau menjadikan bansos menjadi modal usaha.

Kini usaha mereka malah bisa menjadi penghasilan yang jauh lebih banyak daripada saat sebelum pandemi. Pasutri asal Kelurahan Heledulaa, Kota Gorontalo ini membuat usaha roti.

"Dari tanggal 21 mei itu dapat BLT. Alhamdulillah. Itu suami saya yang dapat karena pas menikah kan itu tidak bekerja (formal) ya. Maunya usaha aja jadi pas dapat BLT itu namanya masuk karena namanya belum terdaftar di tempat kerja manapun," kata Gina, Minggu (7/6/2020) seperti dikutip Kabarmakkah.com dari IDNtimes.

Pasangan yang telah dikaruniai satu anak itu pun memberanikan diri untuk memulai usaha roti Maryam atau yang juga biasa dikenal Roti Prata dan Roti Canai.

"Terus dipikir-pikir uangnya itu mau diapain ya. Ya kalau biasa dimanfaatkan kedepannya atau bisa digunakan untuk apa (sehingga) bisa digandakan. Kayanya bikin modal usaha bagus," tuturnya.

Mereka pun memberli bahan baku roti sebagai modal awal merintis usaha rumahan yang diberi nama merek Roti Maryamku. Makanan itu diambil karena di keluarga suaminya, roti Maryam kerap jadi suguhan. Karena memang sang suami memiliki garis keturunan Pakistan.

Hebat! BLT Rp 600 Ribu Jadi Modal Usaha, Kini Jadi Rp 2 Juta Sehari


"Tapi untuk resepnya kita otodidak ya, cari di Youtube," ungkap Nia.

Jika awalnya roti dibuat dalam skala kecil, pada 21 Mei 2020 lalu, roti buatannya mulai diproduksi dalam skala besar dan dijual di beberapa reseller.

"Pertama awal puasa 7 Mei itu masih iseng-iseng bikin (Roti Maryam), masih bikin untuk konsumsi sendiri. Besoknya kita tawarin ke teman-teman dan keluarga. Responsnya katanya enak dan mereka suka," kata Nia.

Nia yang sebelumnya memiliki usaha online berjualan puding pun mengganti jualannya jadi roti Maryam.

Belum genap satu bulan merintis usaha, Nia sudah mendistribusikan Roti Maryam buatannya ke 9 reseller di Provinsi Gorontalo dan 1 reseller di Manokwari, Provinsi Papua Barat. Ia pun mengaku masih ada beberapa reseller di luar daerah yang mengajukan untuk dapat menjual roti buatannya.

"Kita mencari reseller-reseller. Dan alhamdulillah sudah ada 6 reseller di Kota Gorontalo, 1 di Kecamatan Telaga (Kabupaten Gorontalo), 2 di Isimu (Kabupaten Gorontalo), 1 di Marisa (Kabupaten Pohuwato) dan 1 di Papua Barat)," tuturnya.

Dalam sehari, ia mampun membuat 100 - 150 pak Roti Maryam untuk reseller lokal Gorontalo. Sedangkan 1 reseller di Papua Barat, katanya, hanya memakai merek dan resep Roti Maryam miliknya. Satu pak roti harganya Rp25 ribu berisi Rp25 ribu. Ia mengklaim, roti buatannya tidak memakai bahan pengawet apapun.

"Omzetnya saat ini per hari itu paling rendah satu juta setengah atau dua juta," ungkap Nia.

Hebatnya, kini usaha miliknya saat ini sudah mempekerjakan 6 orang karyawan yang merupakan warga Kelurahan Heledulaa.
Next article Next Post
Previous article Previous Post