Geram dengan Ujaran Kebencian Warganet Soal Covid-19, Dokter Ini Gelar Sayembara Berhadiah Rp 100 Juta

Geram dengan Ujaran Kebencian Warganet Soal Covid-19, Dokter Ini Gelar Sayembara Berhadiah Rp 100 Juta

Geram dengan Ujaran Kebencian Warganet Soal Covid-19, Dokter Ini Gelar Sayembara Berhadiah Rp 100 Juta


Seorang dokter spesialis di RSUD Kota Subulussalam menggelar sayembara.

Ia adalah dr Risdianty Saragih, MSc, SpPD, Finasim merupakan dokter spesialis penyakit dalam di RSUD Kota Subulussalam.

Ia membuat postingan berisi tantangan kepada warga yang mampu membuktikan tuduhan terkait penyakit covid-19 adalah bisnis.

Tak tanggung-tanggung, Risdianty berjanji memberi uang Rp 100 juta bagi warga yang mampu membuktikan penegakan penyakit covid-19 merupakan bisnis.

Apa yang dilakukan Risdianty karena merasa fitnah atas penegakan penyakit covid-19 di sana sangat santer terutama di media sosial.

Padahal, kata Risdianty awalnya dia tidak menghiraukan sederet hujatan dan fitnah netizen terhadap tim medis dalam penegakan diagnosa covid.

Upaya memutus mata rantai penyebaran virus Corona (Covid19) di Pusat perbelanjaan modern atau Mall di Kota Bandarlampung terus dilakukan oleh Satgas terpadu percepatan penanganan Covid19 Kota Bandarlampung dalam melaksanakan penegakan disiplin protokol Kesehatan. (ist)

Namun lantaran makin hari kian santernya hujatan dan fitnah tersebut, Risdianty dan dr Ghamal Hanafiah, SpP beserta seluruh tim yan bekerja menantang masyarakat yang selama ini curiga terhadap mereka.

“Bagi Anda yang mengatakan kami menegakkan penyakit ini berdiri di balik bisnis covid untuk membuktikannya.

Bila terbukti Anda akan saya berikan uang cash 100 juta rupiah,” tulis Risdianty dalam postingannya yang diunggah di akun facebook serta sejumlah kolom komentar.

Diketahui Masyarakat Subulussalam masih banyak yang belum yakin jika pasien meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat positif covid-19.

Bahkan, bukan hanya tidak percaya, setiap ada postingan berita media soal kasus covid-19 maupun kebijakan daerah di akun facebook selalu ditanggapi negatif.

Berdasarkan penelusuran pada hari Minggu (16/8/202020) di sejumlah grup facebook beragam komentar miring yang mengarah fitnah, hujatan, caci maki hingga sumpah serapah.

Beragam tudingan netizen terhadap medis dan tim gugus bertabur di sana.

Merasa disudutkan oleh anggapan miring dan dinilai fitnah,

Berikut isi postingan Risdianty

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh

Awalnya saya mengabaikan semua yg dikatakan terhadap saya dan tim saya dalam penegakan diagnosa covid karena saya anggap tidak penting

Tetapi mengingat santernya FITNAH atas nama tim saya : dr Risdianty Saragih, MSc, SpPD, finasim dan dr Ghamal Hanafiah, SpP beserta seluruh tim yg bekerja saya mengadu keberanian anda yg mengatakan kami menegakkan penyakit ini berdiri dibalik bisnis covid utk membuktikannya

Bila terbukti anda akan saya berikan uang cash 100 juta rupiah

Dan bila tidak terbukti anda cukup saya minta minta ampun pada ALLAH SWT atas segala fitnah dan meminta maaf di media sosial.

Caranya.. Jumpai managemen RS dan minta ketemu saya dan tim insyaa allah saya temui.

Saya tunggu keberaniannya dan tidak hanya berbicara di media sosial saja..

Terimakasih..

Sebelumnya pendiri Yayasan Rumah Kita Kota Subulussalam ini juga sudah memberikan penjelasan soal diagnosa covid-19 di daerah ini.

Dia membantah segala tudingan karena mereka pun sebenarnya tidak menginginkan adaya penyakit covid-19.

Bila memang ingin mencari keuntungan mengapa tidak sekalian semua pasien yang kami rawat kami buat adakan diagnosa Covid-19 biar kami kaya mendadak,”

Demikian antara lain petikan isi hati Risdianty Saragih, dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam yang diunggah pada akun facebooknya dua hari lalu.

Postingan tersebut merupakan satu dari sederet tulisannya mengenai berbagai badai cercaaan dan tudingan miring terhadap insan medis terkait virus corona di daerah ini.

Cacian dan tudingan terkini terhadap para medis atau tenaga kesehatan termasuk para dokter menyangkut meninggalnya seorang pasien berinisial NM (48) yang dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil SWAB.

Tak tahan atas berbagai tudingan dan cercaan bahkan sumpah serapah para netizen, beberapa akun para tenaga kesehatan membuat sejumlah postingan berisi curahan hati mereka.

Salah satunya, dokter Risdianty yang saban hari berhadapan dengan pasien termasuk mereka yang dicurigai terpapar covid-19.

Dalam tulisan yang diunggah Jumat (14/8/2020) tersebut Risdianty menyatkan bila penyakit Covid ini hanya konspirasi dokter atau tenaga kesehatan serta karangan semata, untuk apa mereka memakai baju sumpek plus masker berlapis setiap hari.

Dia mengaku jika memakai baju hazmat itu membuat kondisi badan sampai lemas namun mereka tetap memakainya demi terhindar dari penyakit covid-19.

Risdianty juga menanyakan apakah ada yang sudah memakai masker? “Pakai masker selapis apa rasanya? Ini kami pakai masker berlapis.. Demi menjaga diri,” ujar Risdianty

Lalu Risdianty menjelaskan soal ada yang menganggap mereka para dokter mengambil keuntungan dengan mengada-ngadakan kan diagnosa Covid pada pasien-pasien di sana.

Dikatakan, bila memang ingin mencari keuntungan mengapa tidak sekalian semua pasien yang mereka rawat dibuat diagnosa covid-19.

“Kalau mau mencari keuntungan kenapa kami tidak buat semua pasien covid-19, biar kami kaya mendadak,” tulis Risdianty

Dijelaskan, dalam sebulan dia merawat inap pasien sekitar 200-an ditambah 800 an pasien rawat jalan.

Nah, kata Risdianty jika saja mereka berniat buruk ingin membisniskan berapa pula dananya dengan meng covidkan semua pasien.

Dia pun mengimbau agar jadi netizen cerdas. Lalu buat anda penderita diabetes, asma, jantung, hipertensi dan penyakit kronis lainnya sebenarnya diminta lebih berhati-hati.

Ini karena mereka yang memiliki penyakit kronis tersebut paling rentan terpapar virus ini dan bila terpapar virus hingga akan lebih cepat buruk kondisinya.

Sedangkan yang tanpa penyakit dan bugar biasanya hanya mendapatkan keluhan ringan saja. Meski dihujat, Risdianty menyampaikan agar seua sehat selalu serta berharap jjaga kesehatan dan protokol kesehatan.

Sebelumnya, Risdianty juga menyampaikan isi hatinya selaku para medis atau dokter di Subulussalam terkait masih banyaknya warga melakukan perjalanan ke zona merah.

Dia mempertanyakan kemana empati warga yang wara wiri ke zona merah tanpa protokol kesehatan.

Hal lain ketika warga tersebut sakit tidak jujur pada status perjalanan sehingga banyak nakes yang dikorbankan.

Para tenaga kesehatan, kata Risdianty juga memiliki istri, anak dan keluarga sehingga tak mau ikut tertular akibat ketidakjujuran pasien.

Beragam tanggapan para netizen berdatangan mulai dari simpati dan mendoakan para dokter dan tenaga medis di Subulussalam tidak terpapar covid-19.

Berikut beberapa postingan Risdianty terkait kondisi Covid-19 Subulussalam.

Kemana empati kalian pada kami..

Pergi ke zona merah tanpa protokol kesehatan

Lalu ketika sakit tidak jujur pada status perjalanan..

Berapa banyak nakes yg dikorbankan...

Mereka punya anak istri/suami...

Mana empati kalian pada kami..

Seandainya posisi kami ada pada kalian... Apa yg kalian rasakan..?

Salah seorang rasul pernah kena sakit menular dalam jangka waktu lama

Sahabat rasulullah yg banyak amal ibadahnyapun ada yg kena wabah..

Ada 'alim ulama yg kena wabah covid (salah satunya ustd hilmi)

Orangtua ulama kita juga ada kena covid (ayah dan keluarga ustdz khalid basalamah )

Lalu kamu siapa hingga merasa gak kena covid?

Hingga kamu siapa hingga merasa kebal dari wabah ini?

Siapa aja bs kena.. Apalagi tak mematuhi protokol kesehatan.. Sehingga jangan merasa kebal karena kamu, saya, dan kita bukan siapa2

da yang menganggap kami para dokter mengambil keuntungan dengan mengada2kan dignosa COVID pada pasien2 kami..

Bila memang ingin mencari keuntungan mengapa tidak sekalian semua pasien yg kami rawat kami buat adakan diagnosa COVID biar kami kaya mendadak..

Sebulan saya merawat inap pasien sekitar 200-an tambah 800 an pasien rawat jalan.. Kan lumayan ya kalau di covidkan semua biar cepat saya kaya nya.. He... He...

Bila penyakit COVID ini hanya konspirasi kami serta karangan kami semata, ngapain kami dokter pakai baju sumpek plus masker berlapis setiap hari sampai lemas memakainya demi terhindar dr penyakit ini...

(ada yg sudah pakai masker? Pakai masker selapis apa rasanya? Ini kami pakai masker berlapis.. Demi menjaga diri)

Ayolah jadi netizen cerdas...

Buat anda penderita diabetes, asma, jantung, hipertensi dan penyakit kronis lainnya sebenarnya harusnya anda yg lebih berhati2 karena anda yg paling rentan terpapar virus ini dan bila terpapar virus akan lbh cepat buruk kondisinya sedangkan yg tanpa penyakit dan bugar biasanya hanya mendapatkan keluhan ringan saja..

Salam sehat selalu, jaga kesehatan dan protokol kesehatan ya..

Berhubung banyak sekali pasien yg menanyakan ke saya baik via wa maupun sms apakah saya praktek hari ini..

Dengan ini saya sampaikan informasi bahwa kedua pasien covid kemarin adalah pasien saya dan saya kontak langsung dengan pasien karena memeriksa pasien tsb

Sehingga untuk keamanan pasien saya semua, pagi ini saya melakukan swab dulu dan bila sudah terbukti negatif baru saya akan praktek seperti biasa kembali..

Mohon doanya agar saya negatif swab agar bs melayani pasien seperti biasanya kembali..

Ini saya lakukan demi kehati2an dan untuk melindungi pasien saya lainnya.

Buat psn yg membutuhkan pengobatan rutin silahkan kerumah sakit karena sementara saya digantikan oleh dokter pengganti

Salam sehat semua..

Semua tim medis dan para medis yg terpapar hari ini semua menjalani swab massal sekitar 50 orang.. Sakitnya jangan ditanya.. Pakai banget..

Percayalah...kalau ini konspirasi dan karangan kami semata tentu kami tak mau menjalani prosedur yg sungguh tak enak ini semua..

Penyakit ini nyata, jaga diri dan keluarga masing2.. Percayalah mencegah lebih baik dari mengobati..

Mohon doanya untuk 50 tenaga kesehatan yg menjalani swab massal hari ini..

Postingan terakhir Risdianty menyampaikan bahwa puluhan tenaga kesehatan termasuk dokter menjalani isolasi karena kontak dengan pasien Covid-19 yang meninggal dunia dua hari lalu.

Dia juga mengkonfirmasi jika dia salah satu dokter spesialis penyakit dalam yang juga menjalani isolasi disamping rekannya spesialis paru.

Selain isolasi, para nakes dan dokter juga menjalani swab untuk memastikan apakah terpapar atau tidak. Ini karena dia dan para nakes di RSUD Subulussalam kontak dengan pasien yang postif covid-19.
Next article Next Post
Previous article Previous Post