Banser di Rembang Meradang Sampai-sampai Minta Madrasah Ditutup

Banser di Rembang Meradang Sampai-sampai Minta Madrasah Ditutup

Banser di Rembang Meradang Sampai-sampai Minta Madrasah Ditutup


Aksi anggota Barisan Ansor Serbaguna atau Banser di Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, viral di media sosial.

Aksi Banser tersebut diduga terkait dugaan adanya kelompok berpaham khilafah dan penghinaan terhadap tokoh NU Habib Muhammad Luthfi hingga Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Mereka mengepung lembaga pendidikan TK, MI dan MTs itu, lantaran dianggap menjadi sarang pengkaderan organisasi terlarang, HTI.

Aksi tersebut berlangsung sekitar pukul 10.00. Sebelum menggruduk lembaga pendidikan setempat, ratusan anggota Banser Bangil, juga mendatangi salah satu rumah simpatisan HTI, Abdul Halim, yang ada di Desa/Kecamatan Rembang.

Mereka melurug rumah Abdul Halim, lantaran postingannya yang dianggap melecehkan tokoh NU, Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, alias Habib Luthfi.

Dalam akunnya, Abdul Halim menyebutkan kalau penolakan Khilafah yang merupakan ajaran Islam karena urusan perut.

Ia juga memampangkan gambar dan pandangan Habib Luthfi tentang khilafah yang dianggap tidak cocok diterapkan di Indonesia.

Banser di Rembang Meradang Sampai-sampai Minta Madrasah Ditutup


“Kami datang ke sini, untuk mengklarifikasi apa maksud dari postingan tersebut. Ingat, perjuangan dan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran ulama,” kata Saad Muafi, Ketua PC Anshor Bangil.

Muafi-sapaannya mengaku, postingan yang dilakukan Abdul Halim merupakan penghinaan terhadap Wantimpres dan juga seorang Ulama Thariqoh, Habib Luthfi. Bahkan, apa yang disampaikannya di facebook juga sebuah penghinaan bagi NU.

Hal inilah yang membuat ia dan pasukannya datang. Mereka hendak memintai klarifikasi atas apa maksud postingan tersebut.

“Kami juga sudah lakukan pemeriksaan di sekitar rumah yang bersangkutan. Kami temukan bendera HTI dan beberapa lembaran yang berkaitan dengan HTI,” sampainya.

Banser meminta sekolah keagamaan itu ditutup, karena di sana ditemukan foto Presiden Jokowi yang dicoret-coret dan dianggap sebagai tempat melakukan kaderisasi ajaran khilafah.

Kedatangan mereka, disambut oleh salah satu guru madrasah setempat, Zainullah. Ketegangan mewarnai aksi tersebut. Untungnya, tidak sampai ada aksi anarkis.

“Apa salah saya. Kalau memang salah, silahkan laporkan saja ke pihak kepolisian,” ungkap Zainullah.

Zainullah menjamin, tidak ada penyebaran HTI di madrasah setempat. Meski saat diminta untuk membuat pernyataan, dirinya enggan untuk membuatnya.

“Saya jamin, tidak ada paham HTI di sini,” sambungnya.

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Yaqut Cholil Qoumas saat dikonfirmasi hanya membenarkan kejadian seperti di video yang telah viral itu.

“Betul. Kejadiannya seperti di video yang viral,” kata Gus Yaqut melalui pesan singkat, Jumat (21/8) siang.

Pihaknya juga memastikan akan menempuh langkah hukum terkait dugaan penyebaran paham khilafah di sebuah sekolah di Rembang, hingga penghinaan terhadap Habib Luthfi dan Presiden Jokowi.

“Pasti. Proses hukum kami tempuh termasuk mendorong kemenag untuk mencabut izin madrasah tersebut,” tandasnya. (jpnn/fajar)
Next article Next Post
Previous article Previous Post