Kisah Nyata: Bocah Yatim Yang Bercita-cita Jadi Hafidz Qur'an Ini Banting Tulang Demi Menghidupi Keluarganya

Kisah Nyata: Bocah Yatim Yang Bercita-cita Jadi Hafidz Qur'an Ini Banting Tulang Demi Menghidupi Keluarganya

Kisah Nyata: Bocah Yatim Yang Bercita-cita Jadi Hafidz Qur'an Ini Banting Tulang Demi Menghidupi Keluarganya


Kisah Nyata Bocah Yatim Yang Masih SD Banting Tulang Demi Menghidupi Keluarganya Ini sangat menyentuh hati.

Adalah Khaeril Habib, akrab dipanggil Habib, bocah berusia 12 tahun ini setiap hari harus banting tulang berjualan buah hingga mengumpulkan plastik dan kardus bekas demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Anak dari pasangan Fitriani dan almarhum Suhaili ini menjadi tulang punggung keluarga, sejak sang ayah meninggal dunia.

Habib terpaksa harus mengatur waktu. Di saat teman-temannya bermain usai pulang sekolah, dirinya harus banting tulang berjualan buah dan mencari rosok.

Upah hasil jualan ini pun ia bagi tiga dengan neneknya untuk membeli beras, dan disisihkan untuk menabung.

Tak heran dari jerih payahnya tersebut, kini ia memiliki tabungan sekira Rp8 juta.

Tanggung jawab Habib tidak selesai sampai di situ.

Anak bertubuh gempal ini harus hidup bersama sang nenek bernama Marean.

Nenek Habib mengidap kangker di bagian hidung dan pernah dioperasi di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, bali pada 2017.

Kondisi tersebut membuat sang nenek tidak bisa mencari nafkah lagi.

Tiap harinya, Habib berjualan ke jalan raya yang padat kendaraan, seperti simpang lima di daerah Gerung, Sayang-Sayang, Selagalas, dan daerah Gebang.

Jika jualannya tidak habis terjual, ia pun terpaksa membawanya pulang lagi.

Barang yang dijual pun diambil dari orang yang disebut Bos.

Dalam sehari, ia memperoleh hasil jualan Rp150-250 ribu. Terkadang di bawah itu. Dari hasil jualan itu ia mendapatkan bagian atau upah Rp30-50 ribu.

Upah hasil jualan ini pun dibagi tiga, yakni diberikan ke ibunya dan neneknya untuk membeli beras. Sebagian disisihkan sendiri untuk menabung.

Jika upahnya Rp50 ribu, masing-masing diberikan ke ibu sebesar Rp10 ribu, neneknya Rp10 ribu, dan sisanya Rp30 ribu ditabung. Hasil tabungan yang terkumpul sejak ia jualan mulai kelas II sampai saat ini lumayan banyak, mencapai Rp 8 juta.

Namun yang tersisa saat ini 5 juta karena 3 juta sudah dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan membeli pakaian.

Dari hasil jualan ini pun, ia bisa membiayai kebutuhan sekolah dan sehari-harinya.

Rencananya uang 5 juta hasil tabungannya akan dipakai untuk melanjutkan sekolah ke MTs Darul Hasanah Kuripan.

Bercita-cita Jadi Hafidz Qur'an


Selama berjualan, ia kerap diejek, tapi Habib tak menghiraukan.

Ia juga pernah terciduk razia oleh Dinas Sosial Provinsi NTB. Ia dibawa ke kantor, lalu dipulangkan.

Habib yang bercita-cita sebagai dokter ini memiliki harapan besar agar mampu mengumpulkan uang banyak untuk melanjutkan pendidikan.

“Saya ingin menjadi hafidz dan dokter,” kata Habib.

Kalau dia tidak pergi jualan, maka ibunya yang mencari uang menjadi buruh. Penghasilannya tidak seberapa, sekadar untuk bisa makan.

Ia sendiri pernah ditinggal oleh ibunya selama kurang lebih dua tahun karena berangkat ke luar negeri sebagai TKW.

Waktu itu ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK), ibunya pergi merantau untuk mencari uang. Ibunya baru pulang pada saat ia kelas II SD.

Hasil jerih payah ibunya hanya bisa untuk membangun rumah.

Bagi Habib, bekerja membantu sang ibu dan nenek adalah sebuah kewajiban.

Meskipun disadarinya memang belum saatnya ia berkerja berat.

Namun ia mengaku ikhlas menjalaninya, karena ingin membantu ibunya yang hanya bekerja sebagai buruh.

Dari hasil kerjanya tidak cukup untuk makan sehari-hari.

Ia mengaku tidak malu berjualan buah karena menurutnya ini adalah pekerjaan yang halal.

Saat Pandemi ini pun ia tetap keluar jualan namun ia membatasi waktu karena khawatir Corona.

Ia bisa meluangkan waktu lebih lama bermain, karena setelah salat Zuhur baru berangkat jualan.

Kisah Nyata: Bocah Yatim Yang Bercita-cita Jadi Hafidz Qur'an Ini Banting Tulang Demi Menghidupi Keluarganya
Khairil Habib, Bocah yatim di Dusun Tongkek Kuripan bersama neneknya.


Selain berjualan buah ia juga membantu neneknya memulung.

Sepulang jualan buah, ia menyempatkan diri mencari plastik dan kardus bekas untuk dibawa pulang.

Kendati sibuk banting tulang demi keluarga, Habib tidak pernah lupa ibadah dan belajar.

“Setiap waktu salat saya salat, begitu pula belajar,” imbuhnya.

Habib sudah tinggal bersama neneknya sejak berusia delapan bulan.

Beban keluarganya semakin berat ketika ayah Habib meninggal, ditambah lagi neneknya terkena musibah mengidap penyakit kanker pada bagian hidung yang menyebabkannya harus menjalani operasi di Rumah Sakit Sanglah.

Hal ini kata dia menyebabkan Habib bekerja mencari uang dengan cara menjual buah.

“Hasil jualannya itu kami pakai beli beras,” aku nenek berusia 50 tahun ini.

Dari hasil jualan Habib ia terkadang dikasih Rp 10 Ribu, kadangkala Rp 15 ribu. Ia mengaku awalnya tidak tahu Habib berjualan, karena ia dirawat di RS Sanglah lumayan lama.

Dengan kondisinya inilah, bocah kecil dan sang nenek mengharap uluran tangan pemerintah yang selama ini luput dari perhatian.

Buat para pembaca, Mohon keikhlasannya untuk share info ini ya ke media sosial kalian.

Semoga Habib segera mendapat bantuan dan tercapai cita-citanya, Aamiin
Next article Next Post
Previous article Previous Post