Gagal Nikah Lantaran Orangtua Pongah, 'Bibit, Bebet dan Bobotnya Bagaimana?'

Gagal Nikah Lantaran Orangtua Pongah, 'Bibit, Bebet dan Bobotnya Bagaimana?'

Gagal Nikah Lantaran Orangtua Pongah, 'Bibit, Bebet dan Bobotnya Bagaimana?'


Sudah memasuki usia kepala empat puluhan, Dewi Anggraeni (bukan nama sebenarnya) belum juga menikah.

Itu bukan disebabkan ia tak pandai bergaul, tidak berpendidikan, dan dijauhi para lelaki tetapi lantaran orangtuanya terlalu membanggakan status sosialnya sebagai keluarga ningrat dan kaya.

Dewi adalah gadis cantik, pandai dan cerdas. Dalam pergaulan di lingkungan sekolah lanjutan atas hingga universitas, ia selalu menjadi bintang kampus.

Ketika melanjutkan kuliahnya hingga strata dua, kecantikannya tak juga pudar. Ia tetap menawan. Lelaki banyak mendekatinya dan ia pun bergaul sebagaimana mestinya.

Lagi-lagi faktor orangtua yang menyebabkan Dewi tak kunjung menikah. Sementara adiknya, Puspita Anggraeni yang juga tak kalah cantik, bernasif sama. Belum menikah.

Banyak lelaki "kebelet" ingin mempersunting Dewi atau Puspita. Tapi, gagal. Pasalnya, ketika para lelaki lajang mendatangi kediaman Dewi dan Puspita, selalu saja ditanyakan oleh orang tuanya -- sebut saja Raden Mas Bambang Adi Purwa Negoro (bukan nama sebenarnya)- prihal asal usul sang pria. Misalnya prihal suku, agama, kesiapan kediaman pasca nikah hingga pekerjaan sang pria.

Sang pria ditanyai seperti penyidik tengah membuat berita acara pemeriksaan. Wuih, menyebalkan.

Lebih menyakitkan lagi bagi lelaki yang ingin lulus untuk mendapatkan anak gadis itu ketika ditanyai status orangtua. Tanpa aling-aling, Mas Bambang menyebut bahwa kedua puterinya tak akan dinikahkan bila sang pria memiliki darah keturunan etnis Sunda.

"Mengapa?"

Pertanyaan itu selalu juga ditanyai sang pria ketika melakukan penjajakan kalau-kalau si bapak itu punya minat menjodohkan dengan puterinya. Pria yang awalnya punya keyakinan dapat dijodohkan itu umumnya punya pekarjaan mentereng, manajer misalnya. Bahkan di antara pengusaha muda, bankir dan birokrat eselon elite alias kelas atas.

"Sejarah di Tanah Jawa tak akan melupakan peristiwa perang bubat. Ingat itu? Ungkap Pak Bambang Adi Purwa suatu saat.

Ingat juga, ia mengulangi, orang Jawa itu yang masih memiliki trah keraton punya status tinggi. Jika puteri dari kalangan keluarga keraton tak akan nyambung dengan rakyat biasa.

Mengapa?

Salah satunya agar kekayaan dan status sosialnya tidak jatuh ke orang lain. Jadi, membanggakan status sosial (ningrat) tidak salah. Itu adalah hak asasi. Sebab, orang ningrat itu dapat dipastikan terdidik, pandai, piawai mengelola bisnis dan status sosial di masyarakat lebih tinggi.

**

Itulah sebabnya Dewi dan Puspita tak kunjung menikah hingga dijuluki sebagai perawan tua. Namun orangtuanya bukan menolak untuk menikahkan anaknya, tetapi ia berharap dari kalangan intern, sesama ningrat dapat mempersuntingnya.

Tapi, hingga waktu demikian lama tak kunjung anggota keluarga yang berstatus sama berani untuk melamar kedua puterinya.

"Raden Mas Bambang Adi Purwa Negoro memang seperti itu. Pendapatnya tak boleh dilawan. Kokoh pendirian," ungkap Jeng Sri dalam percakapan dengan suara perlahan kala berada di dapur.

Isteri Bambang Adi Purwa Negoro mencurahkan isi hatinya kepada anggota keluarga penulis ketika berkunjung dalam suatu kesempatan. Sang isteri nampaknya pasrah bongkokan menghadapi sikap keras sang suami. Anak-anak pun tak bisa memprotes lantaran takut berdosa. Apa lagi sebagai anak harus hormat kepada kedua orangtua.

Pernah seorang pria diterima lamarannya. Namun kemudian hari ditolak lantaran tidak memenuhi kriteria yang diinginkan Mas Bambang. Padahal Undangan Pernikahan sudah disebar. Tapi, tanpa malu-malu, ya dibatalkan.

Singkat kata, sang anak tak bisa berbuat banyak. Anak tak patuh kepada orangtua. Jika membantah, maka pintu neraka terbuka di hadapan. Gitu alasan Bambang Adi Purwa Negoro kepada kedua puterinya.

Sebagai anak, harus menurut. Titik. Harus belajar hingga strata tiga pun akan dibiayai. Kerja harus pilih-pilih, ya sudah tentu harus disesuaikan dengan pendidikan yang didapat.

**

Pandangan penulis, Raden Mas Bambang Adi Purwa Negoro adalah salah satu dari sekian banyak orangtua yang masih kolot.

Ini lantaran ia terlalu dijejeli paham yang keliru tentang perang bubat. Kita tahu dalam cerita perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda terjadi di Pesanggrahan Bubat. Pada perang tersebut seluruh rombongan Sunda disebut tewas.

Konon, dalam budaya Sunda, tidak lazim perempuan - calon pengantin Dyah Pitaloka mendatangi pihak lelaki, Raja Hayam Wuruk. Ketidak-patutan itu dilanggar. Mereka pergi ke Pesanggrahan Bubat.

Alasannya, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Linggabuana berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Di sisi lain, Mahapatih Gajah Mada menganggap kedatangan rombongan dari kerajaan Sunda dimaknai sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara.

Jauh sebelumnya pihak dewan kerajaan Negeri Sunda keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Raja Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit. Karena melanggar, jadilah perang. Akibat perang tersebut, menyisakan luka hingga kini.

Berkaca dari peristiwa itu, hingga kini di sebagian warga di Tanah Air masih memaknai peristiwa itu sebagai pelajaran yang harus dipedomani. Karena itu, maka jangan coba-coba cari nama jalan raya di Bumi Pasundan dengan sebutan Gajah Mada, Hayam Wuruk dan lainnya.

Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur juga demikian, jangan coba cari nama Jalan Pajajaran. Kalaupun sekarang ada, seperti di Yogyakarta, orang Sunda masih memaknainya sebagai tipu muslihat seperti Mahapatih Gajah Mada yang berambisi memenuhi sumpah Palapa.

Kebanggaan akan kejayaan masa silam masih kuat melekat. Kadang berlebihan dan tak masuk akal. Saking bangganya merasa titisan Majapahit itu, sungguh tak masuk akal, ada warga ingin membangun kerajaan baru sebagai penerus Kerajaan Majapahit.

Contohnya baru-baru ini munculnya kelompok Keraton Agung Sejagat (KAS) di Desa Pogung, Kecamatan Bayan, Purworejo, yang dideklarasikan Toto dan Fanni sebagai Raja dan Ratu.

'Bibit, Bebet dan Bobotnya Bagaimana?'


Nah, terkait dengan memilih jodoh, di kalangan masyarakat kita masih berakar kuat panduan bobot, bibit, bebet yang merupakan kearifan lokal dan terpelihara hingga kini.

Bobot dimaknai sebagai kualitas diri baik lahir maupun batin. Meliputi keimanan (kepahaman agamanya), pendidikan, pekerjaan, kecakapan, dan perilaku.

Bobot itu meliputi: (1) Jangkeping Warni (lengkapnya warna), yaitu sempurnanya tubuh yang terhindar dari cacat fisik. Misalnya, tidak bisu, buta, tuli, lumpuh apalagi impoten; (2) Rahayu ing Mana (baik hati) bahasa kerennya "inner beauty".

Termasuk kategori ini adalah kepahaman agama sang menantu; (3) Ngertos Unggah-Ungguh (mengerti tata krama); (4) Wasis (ulet atau memiliki etos kerja). Meski begitu diingatkan, tidak boleh silau oleh harta dan kemewahan yang dimiliki calon menantu.

Bagaimana dengan bibit? Di sini kita diminta jangan pilih menantu seperti membeli kucing dalam karung, asal-usulnya nggak jelas, keluarganya juga remang-remang, pekerjaannya cuma begadang di jalanan.

Namun, bukan berarti bahwa kita harus mencari menantu keturunan "darah biru", tetapi setidaknya calon menantunya punya latar belakang yang jelas dan berasal dari keluarga baik-baik.

Bebet dimaknai sebagai status sosial (harkat, martabat, prestige). Bebet penting tapi tidak terlalu penting. Alasannya, janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

Tapi, apa salahnya kalau status sosial sesorang juga menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan calon menantu. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa status sosial juga merupakan kebutuhan dasar manusia. Itulah filosofi Jawa tentang bobot, bibit, bebet.

Penting diingat bahwa dalam filosofi Jawa dikenal lima perkara perjalanan hidup manusia, yaitu siji pesthi (mati), loro jodho (jodoh), telu wahyu (anugerah), papat kodrat (nasib), lima bandha (rizki).

Diakui perjodohan adalah "departemen asmara" yang berada di bawah kepengawasan dan kendali Allah Yang Maha Kuasa. Tapi, bukan berarti kita hanya bisa berdiam. Lalu berpangku tangan menunggu runtuhnya durian. Kita wajib ikhtiar supaya tidak salah memilih yang akhirnya terpuruk dalam penyesalan.

Seluruh pandangan dan pemahaman ini, menurut penulis sangat baik. Idealnya memang harus demikian.Tapi, jika berpegang terlalu "kaku", bisa jadi akan menyesatkan diri. Mengapa? Ya, namanya saja manusia. Tidak ada yang sempurna.

Manusia kadang terperangkap dengan visual, tampilan seseorang. Tak tahunya, pada diri orang bersangkutan keropos mentalnya. Mudah tergelincir karena godaan.

Bukankah kita sering ingat ada tiga godaan terbesar bagi laki-laki, yaitu Harta, Tahta, dan Wanita. Ketiganya disebut-sebut sebagai biang keladi terhadap kehancuran bagi seorang laki-laki.

Bisa jadi pula lantaran Raden Mas Bambang Adi Purwa Negoro menghendaki laki-laki sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, maka kedua gadisnya tak kunjung mendapatkan jodoh.

Walah, rempong deh.

Selamat berbagi.
Next article Next Post
Previous article Previous Post