30 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot, Nenek Ini Tak Pernah Dapat Bantuan Pemerintah

30 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot, Nenek Ini Tak Pernah Dapat Bantuan Pemerintah

30 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot, Nenek Ini Tak Pernah Dapat Bantuan Pemerintah


Saniah, seorang warga Kampung Cimanis, Sobang, Pandeglang, Banten, tinggal di gubuk reyot seorang diri. Janda berusia 60 tahun itu, menghuni gubuk tersebut hampir 30 tahun. Tak ada aliran listrik di gubuk itu.

"Sudah lama, ada 30 tahun mah tinggal di sini. Ini mah bukan rumah, tapi saung (Gubuk)," kata Saniah, Minggu (7/6).

Atap gubuk itu terbuat dari rumbia. Bagian dindingnya terbuat dari bambu yang dilapisi plastik untuk menahan air hujan. Meski begitu, gubuknya kerap bocor.

"Bocor, kedinginan, tapi kalau keburu lari, saya lari ke rumah warga. Tapi kalau hujannya malam hari, ya saya tetep di sini," keluhnya.

Dalam gubuk berukuran 3 kali 4 meter itu, hanya ada tempat tidur dan tungku untuk memasak. Alas tidurnya hanya dilapisi kasur dan tikar yang tak lagi empuk.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sania hanya mengandalkan belas kasih orang lain. Sebab, ia sudah tak mendapatkan hasil dari pekerjaan menggarap lahan milik warga.

Ironisnya, ia tak terdaftar sebagai penerima Bantuan Sosial Tunai (BTS) dari pemerintah.

"Kalau makan suka dikasih, apalagi kalau di lahan enggak ada hasilnya. Bantuan corona (BTS), saya mah enggak pernah dapat bantuan apa-apa," ujarnya.

Saniah memiliki tiga orang anak yang telah menikah. Anak keduanya tinggal satu kampung dengan Saniah. Hanya saja, ia enggan jika harus tinggal bersama anaknya.

"Anak saya ada tiga, rumahnya enggak jauh dari sini. Paling sekitar 300-400 meter. Tapi saya enggak mau tinggal sama anak saya, takut memberatkan anak," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Jarta mengaku merasa prihatin melihat kondisi gubuk Saniah. Akan tetapi, ia juga memberikan solusi untuk Saniah.

Ia pernah mengajukan Saniah untuk mendapatkan BTS. Hanya saja tak direspons.

"Iya dia mah enggak pernah dapat bantuan apa pun. Termasuk bantuan corona (BST)," tutup Jarta.
Next article Next Post
Previous article Previous Post