#DiRumahAja 'Kalau Enggak Ada Bantuan, Sama Saja Menyuruh Kami Mati'

#DiRumahAja 'Kalau Enggak Ada Bantuan, Sama Saja Menyuruh Kami Mati'

#DiRumahAja 'Kalau Enggak Ada Bantuan, Sama Saja Menyuruh Kami Mati'


Sutrisno, 40, masih mendorong gerobak tahu gejrot khas Cirebon yang menjadi sumber penghasilan dia yang mengadu nasib di Jakarta.

Dia tetap melakoni menjual tahu gejrot berkeliling, sementara warga yang lain mengikuti imbauan pemerintah untuk 'diam di rumah' terkait pandemi virus corona (Covid-19).

Beruntung, masih ada saja konsumen yang mau menikmati racikan tahu gejrot dari Sutrisno. Di depan salah satu gang masuk pemukiman di Jalan Sunter Jaya, Jakarta Utara, Sutrisno terlihat sibuk mengulek bumbu di cobek sebelum disatukan dengan tahu yang sudah terpotong-potong.

Meskipun demikian, diakui Sutrisno, ketakutan akan wabah virus tersebut turut berpengaruh pada pendapatannya sehari-hari.

"Kalau diitung tuh, misal nih biasanya dulu taruhlah bersih kita dapat Rp100 ribu, sekarang dapat Rp50 ribu saja sudah bersyukur saya," kata Sutrisno di sela-sela melayani pembeli , Selasa (7/4).

Berkurangnya pendapatan Sutrisno hingga hampir setengahnya itu bukan tanpa alasan. Sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing hingga bekerja dari rumah untuk antisipasi penyebaran Corona ini, pembeli tahu gejrotnya semakin berkurang.

Apalagi, kata dia, sudah hampir satu pekan ini banyak akses masuk pemukiman ditutup sehingga ia tak leluasa berkeliling dengan gerobak tahu gejrotnya.

"Kan jalan banyak yang udah ditutup. Saya enggak boleh masuk, jadi ya muter-muter nyari yang beli," kata dia.

Baru sebatas imbauan pun kata dia dampaknya sudah cukup menyiksa. Dan, ketika mendengar penetapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Sutrisno was-was.


"Diam di kontrakan, perut kosong, istri ngedumel di kampung enggak dikirimin uang, saya bingung saya harus bagaimana kalau kayak gitu," kata Sutrisno.

"Kalau pekerja kantoran gitu enak, karena gaji per bulan. Kalau kita kayak gini kan ngandelin pendapatan sehari-hari. Istilahnya kita harus mikir setiap hari besok masih bisa makan atau tidak," imbuhnya.

Tak hanya Sutrisno, Susan (34) mengaku cemas. Meski sehari-harinya Susan tak bekerja, bukan berarti dia tak ikut cemas. Pekerjaan suaminya adalah satpam di salah satu perumahan elite yang ada di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. 


Sehari-harinya suami Susan berkendara motor dari kediaman mereka di wilayah Sunter hingga Gandaria. Susan mengaku khawatir penerapan PSBB akan berdampak pada pekerjaan suaminya.

"Kepikiran, bagaimana kalau disuruh di rumah saja dulu, terus gaji di potong, mau makan apa kami," keluh Susan.


Meski mafhum pemerintah mengambil kebijakan itu lantaran tak ingin virus corona semakin menyebar, Susan mengatakan pembatasan hingga larangan kerja tentu sangat berdampak juga pada urusan dapur keluarganya.

"Pas virus udah enggak ada, tapi kita tetap tersiksa, kita bisa mati kelaparan," kata dia.

Tak hanya ibu rumah tangga dan pedagang keliling yang cemas dengan penerapan PSBB ini.

Pembatasan di DKI Jakarta yang akan diterapkan mulai hari ini---jika merunut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/239/2020 Tentang PSBB di DKI Jakarta dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19, akan berdampak juga pada sektor transportasi. Termasuk di dalamnya adalah operasional ojek daring yang akan dibatasi, atau bisa jadi dilarang sama sekali untuk sementara.

Pasalnya, merujuk pada Permenkes Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Pedoman PSBB untuk menangani Covid-19, angkutan yang boleh beroperasi hanya kendaraan pribadi dan angkutan umum yang memuat barang. Pemerintah dengan ketat akan mengawasi, yang boleh beroperasi hanya kendaraan pribadi. Sementara jasa pengantar tetap beroperasi namun dibatasi.

Sejak isu corona meningkat, dan kebijakan bekerja dari rumah dilakukan saja pendapatan dia turun drastis.

"Bahkan pernah seharian enggak dapat orderan, bagaimana kalau dibatasi lagi. Saya bisa enggak makan-makan ini," katanya.

Tentu dia sendiri mengaku memang tak bisa menyalahkan pemerintah atas kebijakan yang diberlakukan. Dia menilai hal tersebut memang dilakukan demi dilakukan untuk melindungi warga dari wabah corona yang kian hari semakin menyebar.


Hanya saja, dia berharap setiap kebijakan dan aturan yang dikeluarkan dilandasi dengan pertimbangan dan pertanggungjawaban dari negara.


"Tapi ya pikirkan juga kami ini yang pendapatannya sehari-hari. Bukan digaji perusahaan. Ya kalau orang kantoran enak karena kerja di rumah tetap di bayar. Kita yang dapat duit hasil jalan kan enggak begitu, enggak jalan ya enggak dapat duit. Enggak ada duit, ya enggak bisa makan. Enggak makan ya kelaparan, sakit, terus meninggal," tutur Saih.


Pada dasarnya, baik Sutrisno, Susan, dan Muhammad Saih tak membantah atau menentang kebijakan yang digelontorkan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial demi menekan risiko penyebaran corona. 


Meski demikian hal mereka berharap pemerintah juga harus memikirkan rakyatnya yang terkena dampak langsung. Kompensasi apa dan jaminan apa yang bisa diberikan pemerintah kepada warganya yang berasal dari kelas bawah.


"Misalnya ini saya tukang ojek, atau tukang sayur, atau tukang dagang apa aja deh yang keliling. Mereka enggak bisa jualan, saya enggak bisa narik. Enggak dapat duit. Tolong itu pemerintah pikirkan, solusinya buat kami apa," kata Saih.

"Karena kalau enggak ada solusi, enggak ada bantuan. Sama saja menyuruh kami mati diam di rumah tanpa makanan dan tanpa pendapatan," tutupnya.
Next article Next Post
Previous article Previous Post