Pacaran Lalu Sering 'Main' Bareng Di Puncak Bogor, Ternyata Sang Wanita Penderita AIDS

Pacaran Lalu Sering 'Main' Bareng Di Puncak Bogor, Ternyata Sang Wanita Penderita AIDS

author photo
Orang-orang di sekitarku mengatakan aku tampan. Itu yang membuatku percaya diri ketika ada gadis-gadis yang mencoba mencuri perhatianku. Namun, baru kali ini aku terkesima.

Saat menikmati kopi di sebuah kafe, seorang gadis cantik tiba-tiba saja lewat di depanku. Tampak beberapa kali ia melihatku. Ada kesan menggoda. Tapi entah kenapa justru aku langsung menyukainya.

Pacaran Lalu Sering 'Main' Bareng Di Puncak Bogor, Ternyata Sang Wanita Penderita AIDS


Segera kuikuti dia hingga masuk ke sebuah toko. kemudian kami berkenalan dan dengan sopan ia meminta nomor WhatsAppku. Hari-hari berikutnya kami sering saling SMS dan video call.

“Sebenarnya aku janda, usiaku 31 tahun,” ungkapnya berterus terang. Aku yang lebih muda lima tahun dan masih perjaka, tak peduli dengan penjelasannya. Kecantikan wanita tersebut telah mengesampingkan segalanya bagiku.

Kami akhirnya sering janjian untuk bertemu. Getar-getar cinta menggelora, namun aku tak pernah bisa menyentuhnya. Itu yang membuatku semakin kagum.

“Dia wanita terhormat,” pikirku.

Suatu hari, ia meminta tolong padaku. Ia mengeluarkan sebuah cek atas namaku senilai 30.000 Riyal, tiket ke Jakarta dan voucher menginap tiga hari di salah satu hotel di puncak Bogor.

“Pergilah kamu kesana, setelah tiba di bandara Jakarta hubungi nomor ini dan ia akan mengantarmu ke hotel. Apakah kamu bersedia?”

“Pasti, sayang. Demi kamu pasti akan kulakukan,” aku segera menerima permintaan itu meskipun harus mengambil cuti dari kantor.

Tiba di Jakarta, aku dijemput orang suruhan wanita tersebut lalu segera menuju hotel yang berada di Puncak. Setelah sampai hotel kuhubungi kembali nomor wanita itu.

“Kamu kaget ya? Aku sengaja mengundangmu kemari untuk menjelaskan banyak hal. Datanglah ke kamar nomor 212.”

Sampai di kamar nomor 212. Ia telah menyambutku dengan pakaian menggoda. Mulanya kami hanya berbincang, hingga terjadilah perbuatan keji itu. Aku telah berzina dengannya. Dan itu terulang beberapa kali selama kami berada di Puncak Bogor.

Setahun sudah aku menjalin hubungan dengannya. Hingga suatu hari, aku mengalami kecelakaan bersama saudaraku. Ia mengalami pendarahan hebat dan segera dimasukkan ke ruang operasi. Dokter memintaku yang kebetulan selamat dalam kecelakaan itu untuk donor darah.

Sesaat setelah melakukan pemeriksaan darahku, dokter datang dengan wajah lesu.

“Kenapa dengan saudara saya, Dok. Katakan, Dok”

“Engkau harus percaya dengan takdir Allah, Nak”

“Apakah saudara saya meninggal?”

“Tidak”

“Lalu kenapa?”

“Darahmu terkena virus HIV,” kata-kata itu terdengar bagaikan petir yang menyambar di siang hari. Saya langsung pingsan.

Setelah sadar, tubuhku gemetar. Ya Allah… sejak kapan aku mengidap penyakit mematikan ini?

“Sebenarnya engkau belum terkena AIDS, tetapi darahmu mengandung HIV”

Ya Allah… Ya Allah.... Tiba-tiba terbayang semua dosa yang kulakukan. Aku terus menerus berdzikir dan berdoa.

Dua hari setelah insiden itu, saudaraku meninggal dunia. Aku lebih merasa bersalah lagi. Tidak bisa membantu transfusi darah, dan juga ingat dialah yang dulu menasehatiku agar menjauhi wanita tersebut.

“Kamu di mana sayang? Lama tidak bertemu,” wanita itu meneleponku sepekan setelah aku kehilangan saudaraku.

“Apa maumu?” jawabku dengan nada marah.

“Kamu kenapa?”

“Saudaraku meninggal dan aku sangat terpukul”

“Yang penting kau masih hidup. Kapan kita bisa bertemu?” ia bahkan tidak mendoakan saudaraku.

“Kita tidak akan pernah bertemu lagi”

“Kenapa?”

“Aku mencintaimu dan tak mau kau celaka?”

“Ada apa?”

“Aku terkena HIV”

“Bagaimana kau tahu?”

“Saat saudaraku kecelakaan, aku diminta donor darah. Ternyata darahku mengandung HIV”

“Apakah kau pernah berhubungan dengan wanita lain selain diriku?”

“Tidak”

“Apakah kau pernah transfusi darah sebelumnya?”

“Tidak”

“Kalau begitu, hidupmu tak berguna, engkau sebentar lagi pasti mati”

“Apa maksudmu?”

“Sebenarnya, aku memang mengidap AIDS. Dan aku bertekad akan membalas dendam. Aku akan menularkan penyakit ini pada setiap laki-laki yang tergoda denganku. Engkau adalah kelinci percobaan pertamaku.”

“Cukuplah Allah sebagai pelindung, dasar wanita pengindap AIDS, wanita… ...” Aku sungguh geram. Emosi. Kata-kata kasar keluar dari lisanku.

Hari-hari berikutnya aku jalani dengan penderitaan panjang. Usiaku kini sudah 35 tahun. Setiap kali orang tua mendesak aku untuk menikah, aku selalu mengelak. Aku tak ingin menularkan penyakit mematikan ini pada siapapun. Tidak pada istriku, tidak juga pada anakkku sekiranya aku menikah dan punya anak.

Banyak pertanyaan dari kerabat dan teman, aku ini tampan, kenapa tidak juga menikah. Aku hanya tersenyum getir. Dalam hati aku teriris-iris. Kutahan air mata ini dan kutumpahkan saat tahajud.

Ya Allah… aku ingin bertaubat. Sejak hari itu kuperbaiki ibadahku. Aku benar-benar ingin bertaubat. Aku tak tahu sampai kapan aku bertahan hidup. Namun aku tak mau mati dalam kondisi kafir. Aku ingin mati dalam kondisi muslim. Maka aku mulai rajin ke masjid, puasa sunnah, shalat malam dan mulai menghafal Al Qur’an.

Sengaja kutulis kisahku ini agar menjadi peringatan bagi setiap pemuda Islam. Jangan pacaran, apalagi sampai berzina. Sebab azab pedih menanti. Di dunia saja sudah bisa menderita seperti ini. Apalagi di akhirat jika tak mendapat ampunan Ilahi.
Next article Next Post
Previous article Previous Post