Jika Lakukan Dua Hal Ini, Andalah Pendusta Agama Yang Sebenarnya!!

Jika Lakukan Dua Hal Ini, Andalah Pendusta Agama Yang Sebenarnya!!

author photo
KabarMakkah.Com - Sering kita menyangka bahwa para pendusta agama hanyalah mereka yang mendustakan kebenaran ajaran Islam. Kita bahkan menyangka bahwa para pendusta agama ialah hanya mereka yang tidak mau mengakui kebenaran kenabian Muhammad bin Abdullah dan mendustakan risalah yang dibawanya. Namun tahukah wahai sahabatku, Walaupun muslim, namun bila pernah melakukan dua hal ini, Andalah pendusta agama yang sebenarnya.

Jika Lakukan Dua Hal Ini, Andalah Pendusta Agama Yang Sebenarnya!!


Dalam Al Qur'anul Kariim, Allah SWT berfirman:


أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ - فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ - وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ - فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ - الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ - الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ -وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ -

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. al-Ma’un: 1-7)

Jelaslah ternyata dua hal yang menjadikan seseorang dikategorikan sebagai pendusta agama, yakni orang yang menghardik anak yatim dan orang yang tidak mau mengajak memberi makan orang miskin. Maka sekarang mari kita cek diri kita, pernahkah kita melakukan keduanya atau salah satu darinya?

Ayat di atas diawali dengan kalimat tanya. Hal ini menandakan bahwa kandungan firman tersebut teramat sangat penting. Namun sangatlah jarang kita memperhatikan pertanyaan ini. kita seakan sudah yakin bahwa diri kita luput dari kategori ini. Kita sudah yakin bahwa diri kita tidaklah tergolong ke dalam para pendusta agama. Namun benarkah?

Mari kita perhatikan kembali ayat di atas. Pada ayat kedua Allah SWT menggunakan kata “Yadu’u” yang diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia menjadi menghardik. Sebenarnya banyak padanan kata lain yang relevan dengan kata “Yadu’u” yakni mengusir, menolak, dan ungkapan keburukan lainnya yang dilakukan baik oleh lisan maupun perbuatan.

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk memelihara dan mengasihi anak yatim. Nabi Muhammad SAW pun terlahir sebagai yatim, maka seseorang belum dikatakan mencintai beliau shallallahu alaihi wasallam jika ia sering menyakiti anak yatim.

Prof. Dr. Hamka menjelaskan tentang tafsir ayat diatas, Bahwa orang yang “Yadu’ul yatim” adalah orang yang memiliki rasa benci terhadap anak yatim. Maka ia tergolong sebagai pendusta agama, meskipun ia rajin shalat, ia puasa dan ia rajin melaksanakan amalan-amalan ibadah lainnya. Maka keimanannya perlu dipertanyakan, karena tidak patut rasa benci terhadap orang lain terutama terhadap anak yatim bercokol dalam hati orang beriman pada Allah.

Pada ayat ketiga, Allah SWT menjelaskan kriteria kedua yang termasuk sebagai pendusta agama. Perhatikan kalamullah tersebut, Allah SWT menyebutkan “Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”. Allah SWT tidak berfirman: “Dan tidak memberi makan orang miskin” karena dua kalimat ini bermakna beda.

Jika Allah SWT berfirman dengan kalimat “Dan tidak memberi makan orang miskin”, maka yang terkena dengan ayat ini hanyalah mereka yang kaya. Orang yang hidupnya seadanya tentu tidak bisa melaksanakan ayat ini. Dengan adanya kata ‘menganjurkan’, maka hal ini bisa dilakukan oleh siapa saja.

Maka sudahkah diri kita membiasakan diri untuk memberi makan orang miskin? Jangan sampai kita mengaku menghambakan diri pada Dzat yang Maha Pengasih, namun teryata diri kita jauh dari sifat mengasihi sesama. Kita tidak turun tangan -meski sekedar menganjurkan- untuk mengatasi penderitaan saudara-saudara kita sesama manusia.

Kita hanya memperhatikan bagaimana agar meja makan kita dipenuhi berbagai lauk-pauk. Kita tidak pernah menengok keadaan meja makan orang lain yang bahkan di sana nasi pun jarang tersedia.

Maka perhatikanlah dua hal diatas tersebut dan jangan menganggapnya remeh. Jika tidak, dua hal ini bisa jadi penyebab kita dimasukkan ke dalam golongan para pendusta agama yang dicabut keberkahan rejekinya dan sudah pasti diazab di neraka. Naudzubillah min dzalik

Wallahu A'lam
Next article Next Post
Previous article Previous Post