Tersangka Pembunuh Santri Menangis di Penjara, Ternyata Orangtuanya Kerja Jadi TKI di Makkah

Diposting pada

Nyanyian sholawat terdengar merdu dari dalam sel tahanan anak-anak Mapolsek Simokerto, Surabaya. Lantunan pujian kepada nabi itu meluncur dari bibir empat tersangka penganiayaan yang berujung meninggalnya Muhammad Ikbal Ubaidillah alias Ubed (12), Salah satu santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Surabaya.

Tersangka Pembunuh Santri Menangis di Penjara, Ternyata Orangtuanya Kerja Jadi TKI di Makkah
KHILAF: Para pelaku pengeroyokan santri di salah satu ponpes di Surabaya.(Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

Munif Zainuri, 18; TH, 14; MA, 15; dan SIS, 15, terlihat bersandar melingkar di bui yang berukuran 1,5 x 5 meter. Mereka tampak pasrah. Ada yang menundukkan wajahnya, ada juga menengadahkan kepalanya menatap eternit.

“Baru kali pertama ini saya dipenjara seperti ini. Nggak nyangka,” ucap Munif.

Perasaan mereka campur aduk. Sedih, hati gundah, gelisah, dan tentu malu. Remaja 18 tahun tersebut mengungkapkan bahwa air matanya sampai habis untuk nangis. Dia merasa tidak enak hidup di penjara. Tidur kedinginan, banyak nyamuk, serta tempatnya pengap tak ada ventilasi.

Setiap malam, bersama ketiga bocah tersangka lainnya, Munif selalu menangis. Menyesali perbuatannya yang bisa dibilang brutal hanya gara-gara menuruti nafsu amarah.

Orang tua Munif bekerja sebagai TKI di Makkah, Arab Saudi. Dia tinggal bersama kakak perempuannya di Surabaya.

“Setelah itu, saya dipondokkan di Ponpes Darussalam. Sudah lima tahun di sana,” terang anak paling bungsu di antara enam bersaudara tersebut.

Munif menangis ketika dibesuk ketiga kakaknya pada Selasa (5/9) kemarin. Tangisnya pun pecah. Air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Dia hanya bisa meminta maaf kepada ketiga kakaknya. Dia mengaku tidak sengaja dan khilaf. Tidak ada niat sampai menghilangkan nyawa korban.

Mendengar ucapan Munif, mata TH berkaca-kaca. Tangan kirinya diarahkan ke wajahnya untuk menutupi wajahnya. Bocah bertubuh gendut itu seketika merintih menangis, lalu sesenggukan. Dia mengaku menyesal dan malu. Apalagi saat dibesuk orang tuanya yang jauh-jauh datang dari Sampang, Madura.

TH menyatakan, keluarganya malu mengetahui berita penganiayaan yang melibatkannya sudah tersebar di televisi dan media sosial.

“Orang tua saya kaget tiba-tiba pada Senin pagi (4/9) ditelepon pondok. Diberi tahu bahwa saya kena kasus, terus dibawa ke polisi,” katanya polos.

Selain itu, bocah 14 tahun tersebut mengaku takut dikirim ke Rutan Medaeng.

“Kami takut ketemu sama anak-anak lain yang dipenjara duluan di sana. Bayanganku, anaknya nakal-nakal. Saya takut,” kata TH sambil menunduk.

Munif mengaku menyuruh TH, MA, dan SIS untuk memanggil korba Ubed, Dari kamar tidur, Ubed dikeler menuju lantai 3 yang digunakan sebagai tempat menjemur pakaian.

Sebab, pada Sabtu malam (2/9), Munif menangkap basah Ubed mencuri uang Rp 100 ribu dari hasil jualan baju muslim milik gurunya yang dikelola olehnya.

“AH ngaku disuruh Ubed,” kata Munif.

Ubed lalu ditanyai perihal pencurian tersebut.

“Ubed nggak ngaku. Saya tendang kakinya. Terus, saya tanyai lagi, tapi dia nggak ngaku. Saya tendang lagi. Saya lakukan tiga kali kayak gitu sampai akhirnya dia ngaku,” ucap Munif.

Munif menanyai Ubed sudah berapa kali mencuri. Katanya, adik kelasnya tersebut pernah mencuri uang yang sama pada Agustus dan September tahun lalu.

Mendengar jawaban itu, Munif semakin geram. Emosi yang memuncak membuatnya kalap mata dan menghajar korban secara membabi buta.

“Dia juga ngaku pernah nyuri uang saku saya,” ujar TH.

Dia langsung mengangkat kakinya dan menendang Ubed dua kali. Sekali ke arah kaki dan satunya mengarah ke kepala. Namun, tendangannya ditangkis. MA, sepupu TH, ikut emosional lantaran uang milik saudaranya itu dicuri.

Baca Juga: Gara-gara Uang 100 Ribu, Nyawa Santri Ini Melayang di Tangan Teman Satu Kamar 

Bogem mentah MA menyasar ke wajah kanan korban. Menerima pukulan telak tersebut, Ybed tersungkur. Dia lantas menjadi bulan-bulanan keempat tersangka yang telanjur panas dan akhirnya meninggal.

Loading...