13 Sunnah Nabi Ketika Mendapati Idul Fitri, Yuk Kita Kerjakan

Diposting pada

13 Sunnah Nabi Ketika Mendapati Idul Fitri | Sebelum Islam menyinari bangsa Arab, mereka merayakan hari rayanya dengan bersenang-senang serta berfoya-foya, sehingga setelah Islam datang, tradisi tersebut awalnya sulit sekali dihilangkan. Hari raya Nairuz dan Mihron merupakan dua hari raya yang banyak diperingati orang Arab saat itu.

13 Sunnah Nabi Ketika Mendapati Idul Fitri, Yuk Kita Kerjakan

Ketika Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah Madinah, beliau masih mendapati orang Anshar sedang merayakan hari rayanya sesuai tradisi mereka.

Kemudian Rasulullah bertanya, “Hari apakah ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah hari raya yang biasa kami buat hiburan pada saat zaman jahiliyah.” Kemudian Nabi Saw bersabda,”Sesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya dengan hari yang lebih baik, yaitu hari raya Idul Adha (Qurban) dan hari raya Idul Fitri.”

Demikianlah, dua hari raya yang telah Allah anugerahkan kepada umat Islam harus diagungkan dan dirayakan dengan cara yang tentunya berbeda dengan tradisi orang-orang yang belum mengenal Islam.

Adapun 13 Sunnah Nabi Ketika Mendapati Idul Fitri Yang Semestinya Kita Kerjakan adalah :

1. Membaca takbir. Dimulai pada saat terbenamnya matahari pada malam hari raya sampai imam akan mengerjakan shalat hari raya (Shalat ‘Id).

Sebenarnya, takbir dibagi menjadi 2 macam yakni Takbir Mursal, yaitu takbir yang tidak disunahkan dibaca setelah shalat, seperti halnya takbiran pada hari raya Idul Fitri. Sedangkan yang kedua adalah Takbir Muqayyad, yaitu takbir yang disunahkan untuk dibaca setelah shalat, seperti halnya takbiran pada hari raya Idul Adha yang waktunya dimulai waktu Subuhnya bulan Arafah sampai Ashar yang terakhir hari tasyriq (Tanggal 13 Dzulhijjah).

Adapun bacaan takbirnya sebagai berikut :

اللهُ أكْبَرُ, اللهُ أكْبَرُ, اللهُ أكْبَرُ
لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ
اللهُ أكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Serta :

اللهُ اكبَر كَبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا
وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا 
لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن
وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن 
لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَحْدَه 
لاالهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر 
اللهُ اكبَرُ وَللهِ الحَمْد

2. Menghiasi malam hari raya dengan memperbanyak ibadah. Minimal melakukan shalat Isya berjamaah dan berkeinginan melakukan salat Subuh secara berjamaah. 

Sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Barangsiapa yang mengisi malam hari raya dengan memperbanyak ibadah maka Allah akan menghidupkan hatinya di saat semua hati manusia mati.” (HR. Ibnu Majah)

Ulama salaf memiliki amalan khusus, yaitu melakuan shalat sunah Mutlak. Adapun tata caranya sebagai berikut :

a. Membaca niat:

b. Melakukan salat 2 rakaat. Rakaat pertama membaca surat al-Fatihah dan al-Falaq masing-masing 15 kali. Dan rakaat kedua membaca surat al-Fatihah dan an-Nas masing-masing 15 kali.

c. Setelah salam membaca wirid : Ayat kursi 13 kali, istighfar 15 kali, selawat 15 kali, zikir 15 kali dan ditutup dengan doa.

3. Mandi. Mandi hari raya disunnahkan, meskipun tidak bertujuan untuk menghadiri salat hari raya, misalnya bagi perempuan yang sedang haidl atau nifas. Waktu kesunnahan mandi dimulai pertengahan malam sampai terbenamnya matahari pada hari raya. Namun yang lebih utama adalah mandi dilakukan setelah salat sunah Fajar. Adapun niatnya mandi sebagai berikut :

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Jika hari raya Idul adha, tinggal mengganti lafadznya saja.

4. Sebelum melakukan shalat Idul Fitri, yang lebih utama adalah makan terlebih dahulu, misalnya kurma dengan jumlah ganjil.

5. Berangkat pagi-pagi. Bagi selain imam, disunnahkan berangkat awal setelah salat Subuh. Sedangkan bagi imam disunahkan berangkat pada saat masuknya waktu salat.

6. Memakai wangi-wangian dan pakaian yang bagus. Yang lebih utama memakai warna hijau atau putih.

7. Berangkat shalat Id berjamaah dengan berjalan kaki dalam keadaan tenang melalui jalan yang jauh, dan ketika pulang melalui rute jalan yang lebih pendek.

8. Mencukur rambut, memotong kuku dan menghilangkan bau yang tidak sedap.

9. Melakukan shalat sunah Idul Fitri secara berjamaah.

Pada hakikatnya, shalat Id secara bisa dilakukan secara sendirian, namun berjamaah lebih utama. Hal ini dikarenakan mampumewujudkan syiar persatuan umat Islam. Setelah melakukan puasa sebulan penuh di Bulan Ramadhan, umat Islam bersama-sama berkumpul untuk shalat berjamaah sebagai bentuk rasa syukur akan nikmat Ramadhan dan hari raya yang telah Allah anugerahkan kepada mereka.

Waktu melaksanakan salat hari raya Idul Fitri adalah setelah matahari terbit dan naik setinggi ujung tombak menurut pandangan mata, atau masuknya waktu shalat Dhuha.

Adapun bacaan niat shalat Idul Fitri adalah:

اُصَلِّى سُنُّةً عِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

USHOLLI SUNNATA ‘IIDHIL FITHRI ROK’ATAINI MUSTAQBILAL QIBLATI IMAAMAN LILLAAHI TA’AALA

 Artinya :
Saya niat sholat sunnah idul fitri dua raka’at menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala

Kemudian melakukan salat 2 rakaat. Rakaat pertama setelah takbiratul ihram membaca takbir (Allahu Akbar) 7 kali, sedangkan rakaat kedua setelah takbir berdiri membaca takbir 5 kali. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat Qaf atau al-A’la, sedangkan pada rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat Iqatarabat as-Sa’ah (al-Qamar) atau Al-Ghasiyah.

Seusai melaksanakan shalat sunah Idul Fitri berjamaah maka dilaksanakankah khutbah.

Contoh khutbahnya adalah sebagai berikut :

Para hadirin jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah. Mari kita bertakwa kepada Allah Swt dengan sebaik-baik takwa. Ketahuilah bahwa hari ini disebut sebagai harinya beberapa pemberian. Sehingga pada hari ini setiap orang akan pulang dari masjid dan akan mendapatkan apa yang telah dibagikan oleh Allah. Bagi orang yang berbuat kebajikan akan mendapatkan keagungan dan kemuliaan di catatan amalnya. Dan bagi orang-orang yang berbuat dosa akan menemui penyesalan dan kerugian di catatan amalnya.

Diriwayatkan oleh Ibn Abbas Radhiyallahu ‘anhu, berupa hadis marfu, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Ketika hari raya Fitri para malaikat turun ke bumi di setiap negara. Mereka berdiri di perempatan-perempatan jalan dan selalu memanggil-manggil dengan suara yang bisa didengarkan oleh setiap makhluk, kecuali jin dan manusia, dengan panggilan: “Hai umat Muhammad. Keluarlah kamu kepada Tuhan Yang Mahapemurah lagi Mahamulia. Ia akan memberi dengan pemberian yang agung dan akan memaafkan setiap dosa yang kecil dan yang besar.”

Kemudian ketika orang sudah berkumpul di masjid, Allah berfirman kepada para malaikat: “Hai malaikatKu. Apa balasan bagi orang yang kerja dan telah menyelesaikan tugasnya?”
Para malaikat menjawab: “Wahai Tuhanku, sudah semestinya Engkau akan membalas orang-orang tersebut.”

Lalu Allah berfirman lagi: “Saksikanlah wahai malaikatKu, bahwa Aku akan membalas orang-orang yang menyelesaikan puasa dan salatnya berupa rida dan pengampunanKu. Kalian semua mintalah kepadaKu. Demi kemuliaan dan keagunganKu, tidak ada permintaan dari kalian semua kepadaKu apa saja untuk akhirat di hari ini kecuali Aku akan mengabulkannya. Dan tidak ada permintaan untuk dunia pada hari ini kecuali akan Aku kabulkan. Pulanglah kalian semua dari masjid, karena kalian telah mendapatkan pengampuanKu, karena kalian semua sudah rida terhadapKu dan Aku sudah meridhaimu.

11. Saling memberi penghormatan antara satu dengan yang lainnya seperti mengucapkan “Taqabbalalallahu minna waminkum”.

12. Berjabat tangan dengan sesama jenis atau lawan jenis yang menjadi mahramnya.

13. Melakukan puasa 6 hari. Puasa syawal ini boleh dilakukan dengan berbagai macam cara, baik dilakukan secara berurutan dan bersambung maupun tidak. Tetapi yang lebih utama dilakukan secara berurutan. Kesunnahan puasa ini juga bisa didapat dengan melakukan puasa qadha atau nadzar. Jika puasa ini dilakukan di luar bulan Syawal maka pahalanya tidak sama dengan yang dilakukan pada bulan Syawal, sebab pahala di bulan Syawal laksana melakukan puasa fardhu setahun penuh sebagaimana riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Barangsiapa yang melakukan puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti puasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Baca Juga:

Sedangkan niat puasa Syawal adalah :


نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ ِستَةٍ ِمنْ شَوَالٍ سُنَةً ِللَه تَعَالَي

Demikian penjelasan mengenai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyambut hari raya. semoga kita mampu mengamalkannya. Wallahu a’lam.

Loading...