Tempuh Jalan Berlumpur Sepanjang 7 Km, Bocah Ini Sekolah Sambil Jualan Pisang Molen Demi Keluarga

Diposting pada

Jika kebanyakan anak-anak umur Sekolah Dasar seringkali menghabiskan waktu dengan bermain bersama dengan temannya, lain halnya dengan bocah bernama Bintang Febri Riam Saputra yang diusia belianya berusaha membantu orangtua semampu yang ia bisa.

Setiap harinya ia harus berjalan sejauh 7 km di jalan berlumpur demi bisa bersekolah. Tak hanya itu saja, ia juga membawa plastik keresek yang berisi jajanan pisang molen yang akan ia jual di sepanjang jalan menuju sekolah.

Tempuh Jalan Berlumpur Sepanjang 7 Km, Bocah Ini Sekolah Sambil Jualan Pisang Molen Demi Keluarga
Bintang jalan kaki sejauh 7 km demi sekolah sambil jualan (Kamiriluddin/Rakyatkalbar/JPNN)

Bintang sendiri merupakan anak dari orangtua yang ikut dalam program transmigrasi di Kayong Utara Kalimantan Barat. Bintang beserta keluarga tinggal di Dusun Semanai Desa Simpang Tiga Sukadana. Bintang merupakan anak kedua dari empat bersaudara dan merupakan satu-satunya anak pasangan Edison dan Rustini yang mengenyam pendidikan sekolah.

Adapun kakaknya yang bernama Riska Amalia sudah tidak melanjutkan sekolah. Sementara kedua adiknya masih belum memasuki usia sekolah. Diketahui bahwa Bintang saat ini duduk di kelas 3 SDN 07 Semanai.

Meski terlihat pendiam, namun ternyata bocah ini begitu mandiri dan tidak menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bermain. Bahkan ia pun tidak banyak meminta kepada orangtuanya.

Hal ini terlihat dalam kesungguhannya berjalan kaki sejauh 7 km tanpa sedikit pun meminta dibelikan sepeda kepada orangtuanya. Tekat untuk menjadi guru sekaligus membanggakan orangtua yang seorang petani menjadikannya tangguh dalam menghadapi cuaca dan ejekan setiap harinya.

Setiap harinya Bintang membawa 20 hingga 30 pisang molen yang dijajakan sepanjang jalan.

“Terkadang habis, namun sering juga masih tersisa,” kata Bintang, seperti dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Rabu 25 Januari 2017.

Adapun uang hasil jualannya akan ia gunakan untuk belanja kebutuhan rumah tangga dan sesekali untuk jajan.

“Hasilnya digunakan untuk belanja dan sesekali untuk jajan di sekolah,” tuturnya.

Bocah yang memiliki pikiran dewasa ini juga mengungkapkan bahwa orangtuanya belum lama pindah ke daerah Transmigrasi sehingga kebunnya belum menghasilkan dan ia harus membantu keduanya.


“Orangtua saya baru memulai menggarap lahan dan belum membuahkan hasil. Sedangkan untuk mengharapkan Jadup (jatah hidup) hanya dapat sebagian kebutuhan seperti beras, ikan asin dan sejumlah barang lainnya. Sedangkan untuk garam, micin dan bumbu lainnya tidak ada, maka hasil dari jualan molen ini untuk melengkapi kebutuhan keluarga,” papar Bintang.

Baca Juga:

Loading...