Surat Untuk Prisia Nasution Dari Perawat Indonesia Yang Kerja Di Saudi Ini Jadi Viral

Diposting pada

Lama tak muncul di layar televisi artis Prisia Nasution akhir-akhir ini jadi pemberitaan karena cuitannya di twitter yang berbau SARA.

Surat Untuk Prisia Nasution Dari Perawat Indonesia Yang Kerja Di Saudi Ini Jadi Viral

“Semua orang berpakaian seperti orang Arab, bendera dituliskan tulisan Arab, adat istiadat Arab, kenapa ngga pada pindah Arab aja ya?” tulis Prisia dalam akun Twitternya, Sabtu (21/1/2017).

Menurut pendapat Prisia Nasution, Indonesia sudah memiliki adat, tradisi, pakaian, bahasa serta bendera sendiri. Ia pun mempersilahkan orang-orang yang tak menyukai Indonesia untuk berpindah kewarganegaraan.

Prisia menambahkan, orang yang tinggal di Bumi Pertiwi haruslah orang yang cinta dengan Indonesia. Ia juga menandaskan agar tidak hanya memanfaatkan Indonesia untuk mencari makan, tanpa mencintai negerinya.

Akibat cuitan nyelenehnya itu, Prisia Nasution akhirnya menjadi bulan-bulanan netizen, Tak hanya para netizen yang berada di tanah air, ternyata cuitannya tersebut juga ditanggapi oleh umat muslim yang bekerja di Arab Saudi. Dirinya menulis surat menohok untuk Prisia yang kini menjadi viral di sosial media.

Dear mba Prisia Nasution.


Saya ngga tau mba itu bintang film atau sinetron. Soalnya sudah lama pensiun nih pelototin black box kecuali ada momen sepakbola dan Bulutangkis.


Soal saran mba buat kaum muslimin pindah ke arab saya sepakat sekali. Terutama di Saudi Arabia. Adalah mimpi setiap orang yang pernah bersyahadat untuk datang mengitari Ka’bah sambil memanjatkan zikir “Labbaika allahumma labbaik”


Tahu ngga mba sudah kurang lebih dua tahun saya disini sebagai perawat. Dengan gaji 7 kali lipat dibanding rekan sejawat non PNS di tanah air. Apalagi yang di Emirate, Qatar dan Kuwait lebih gede lagi penghasilannya, bisa nyampe 30 jutaan lho. Subhanallah, orang Arab dermawan mba ya.


Oh ya mba. Klien saya disini mayoritas difable. Pernah suatu hari ada yang dijenguk orangtuanya. Karena Ga sabaran saat didandani, dia lari keluar tidak pake sandal. Bapaknya lalu komplain, dan tidak main-main langsung ke General manager. Setelah mendengar penjelasan saya sang GM cuma manggut-manggut, menepuk pundak saya sambil berkata


“Be carefull next time, Thank you for taking care our patients”


Speechless. Padahal saya dah bayangkan bakal dimarahi trus dihukum. Eh malah sang pimpinan ngucapin terima kasih. Ngga kayak Gubernur yang Sono. Ngamuk banting kursi, tendang tempat sampah, teriak teriak GA jelas, padahal tidak ngerti esensi masalah. Akting antagonisnya keren. Maklumlah mantan pemain sinetron. Temennya mba ya?


Mayoritas tenaga kesehatan sini orang Asing lho mba ada dari Filipina, India, malah yang rumah sakit besar Nursing directornya kadang bule. Jadi kan enak buat ngobrol en sharing tentang kondisi negara masing-masing trus nambah wawasan global. Eh tahu ngga mba mereka bilang apa tentang Saudi Arabia?


“Saya lebih senang disini dibanding negara saya. Disini lebih aman, gajinya banyak, bensin murah, trus ngga ada pajak. Jadi uang kita ya buat kita sendiri, ngga dipalakin seenaknya sama pemerintah”


Trus yang lain lagi menambahkan.


“Sejak di Saudi kerja saya bisa nabung, soalnya di kampung pasti habis buat dugem dan minum alkohol”


Trus saya nanya balik.


“Lo ngga masalah disini ngga ada gereja, kan ngga bisa ibadah?”


“Ya ngga masalah, kan itu kebijakan pemerintah Saudi, harus kami hormati, diterima kerja disini aja sudah syukur”


Mereka juga tidak ngomel, saat mau belanja dan semua toko tutup saat azan, tidak update status ngga jelas apalagi demo “Hormati yang tidak sholat”


Ada yang pernah cerita ngga mba? Ramadhan di Arab tuh bener bener bulan berkah. Ngga sepeser pun uang kami keluar buat beli makan. Semua tersedia gratis di mesjid, lengkap dengan susu, buah dan jus segar. Dimana mana orang pribumi sedekah. Malah kulkas penuh daging selepas Hari raya. Bisa buat bekal sebulan, padahal masih sisa puasa kemarin lho.


Pas hari Id kemarin mba. Sang imam menjamu kami di mesjid. Dengan teh dan kue kue kecil buat semua jamaah, lalu memeluk hangat kami satu satu sambil berucap


“Taqabballahu minna wa minkum Yaa akhi”


(Semoga Allah menerima ibadahku dan ibadahmu saudaraku)


Padahal mayoritas jamaahnya pendatang lho mba, dari Indonesia, Filipina, India, Pakistan, Bangladesh, Yaman, Suriah, Mesir, Afghanistan dan Sudan. Sang imam memperlakukan kami layaknya saudara. Ya.. Kami saudaranya seiman dan seaqidah.


Jadi ya.. Ucapan mba kemarin itu saya anggap doa aja. Mudah-mudahan semua kaum muslimin bisa menginjakkan kaki di Arab minimal sekali seumur hidup. Umroh, haji, ziarah ke makam nabi dan sebagainya.


Kalo boleh kasih saran mba. Sebagai muslim tuh kita harus bangga dengan identitas kita. Yang namanya Rasul dan Quran diturunkan di Arab wajar kan kalo Islam itu identik dengan Arab. Malah perjuangan kemerdekaan bangsa kita tuh selalu diiringi pekikan takbir.


Belajar lagi mba ya soal Islam, trus Aurat juga tuh ditutupin. Sayang kan cakep cakep malah kena jilatan api neraka gara gara tidak berhijab. Kalo mba tidak tutup aurat di akhirat nanti yang diminta tanggung jawab bukan cuma mba seorang. Tapi Ayah dan suami juga kena getahnya.


Mudah-mudahan mba Prisia senantiasa menjadi muslimah yang lebih baik. Aamiin


Wallahu a’lam

Loading...