Meninggal Saat Imami Shalat Jumat, Ucapan Inilah Yang Menjadi Pertanda Sang Imam Akan Tiada

Diposting pada

Di awal tahun ini seorang imam Masjid Baitut Thaharah Loa janan Ilir Samarinda bernama Jamhuri meninggal saat mengimami shalat Jumat dan menghembuskan nafas terakhirnya saat melakukan sujud pertama pada hari Jumat (6/1/2017).


“Diperkirakan meninggal saat sujud pertama pada rakaat pertama. Setelah beberapa lama tidak juga kunjung bangun akhirnya beliau digantikan,” ucap makmum masjid bernama Ahmad Zaini, seperti dikutip dari JPNN, Sabtu (7/1/2016)

Meninggal Saat Imami Shalat Jumat, Ucapan Inilah Yang Menjadi Pertanda Sang Imam Akan Tiada
Mahmudah, anak bungsu Jamhuri berada di sisi jenazah (Elly Kartika Sari/JPNN.com)

Saat itu seorang makmum bernama Pardiansyah yang berada di belakang Jamhuri lantas menggantikan Jamhuri mengimami shalat Jumat. Setelah selesai, para jamaah kemudian memeriksa keadaan imam masjid yang akrab disapa Sidin tersebut.


“Sidin (Jamhuri) sudah tidak ada lagi (meninggal),” cerita Zaini.

Almarhum kemudian bawa ke rumah duka yang tidak jauh dari masjid.

Diungkapkan oleh Zaini bahwa almarhum tidak menunjukkan tanda-tanda sedang sakit. Bahkan Zaini juga sempat berbincang-bincang hari itu karena ia menjadi jamaah pertama yang datang.

“Pukul 11 sudah datang. Banyak cerita, mulai cerita anaknya di Banjar dan lainnya. Sidin juga bilang, kalau ia meninggal ada dua kenang-kenangan sambil menunjuk tulisan bismillah dalam bahasa Arab di dalam dan luar masjid yang dulu dibuat almarhum,” ucap dia.

Tak disangka ucapan itu merupakan pertanda akan tiadanya Jamhuri dan menghadap kepada Illahi. Padahal ketika mengimami shalat di rakaat pertama, suaranya tetap lantang dan fasih.


“Tidak seperti orang sakit, sangat tampak sehat. Tetapi saat sujud, lirih terdengar suara takbir Allahu Akbar, pelan tetapi karena menggunakan mikrofon jadi agak terdengar,” tambah Zaini.

Almarhum Jamhuri atau Sidin selama hidupnya dikenal sebagai orang yang taat dan senantiasa berbuat baik. Hari-harinya pun senantiasa berada di masjid seperti membersihkan masjid ataupun melakukan amalan lain.

Senantiasa tampil dengan gamis dan surban, kakek enam cucu tersebut bisa membaur dengan semua generasi mulai dari yang muda hingga yang tua. Bahkan ia tidak pernah mengenakan pakaian lain saat shalat selain gamis.

“Karena tertua kerap menjadi imam. Paling aktif menjadi imam di waktu zuhur dan asar,” jelas dia.

Sementara itu anaknya yang bernama Mahmudah menuturkan bahwa sang ayah dikenal tak pernah absen melaksanakan shalat berjamaah. sosok ayah itu pun termasuk demokratis dalam mendidik anak-anaknya beribadah.

Meski akrab dengan sang ayah, Mahmudah tidak melihat tanda-tanda bahwa ayahnya akan pergi selamanya.

“Cuma abah sebelumnya tidak pernah memakai parfum, tetapi dua hari yang lalu sangat wangi. Sampai saya tegur, beliau hanya tertawa, katanya memang harus wangi,” kenangnya.

Adapun istri almarhum, Rukiyah tampak begitu tegar dan tidak meneteskan air mata ketika H Jamhuri meninggal dunia. Yang dilakukannya hanya menatap sang suami terbaring dan tertutup kain di depannya.

“Ya, karena sudah waktunya. Dia juga sudah kembali kepada Allah, jadi kita ikhlaskan saja. Saya hanya bisa mendoakan semoga amal ibadahnya diterima. Dan kami yang ditinggalkan mendapat ketabahan,” ucap perempuan berkacamata itu.

Dituturkan oleh Rukiyah bahwa suaminya tak pernah melarang dirinya dalam berkegiatan seperti mengikuti majelis taklim ataupun yang lainnya. Selain memiliki pribadi yang baik, suaminya juga tidak memiliki banyak tuntutan.


“Tidak banyak tidur, ibadahnya rutin hanya salat, ngaji, baca kitab, selawat, itu saja yang saya ketahui. Bila ditunjuk mengisi khotbah, biasanya malamnya menulis khotbah sendiri di dalam kamar, buka kitab,” kenang dia.

Diketahui bahwa Jamhuri pernah belajar di Pesantren Darussalam Martapura dan dikenal luas sebagai seorang tokoh agama.

Baca Juga: Imam Shalat Di Samarinda Ini Meninggal Dalam Keadaan Bersujud Saat Imami Shalat Jumat

Loading...