Kisah Umar Bin Khattab Menangis Ketika Blusukan Ke Rumah-rumah Penduduk



Suatu hari Khalifah Umar bin Khattab melakukan sidak alias blusukan ke rumah-rumah penduduk. Tanpa ditemani aju- dan, sebagaimana lazimnya seorang pejabat penting, didatangi satu kampung ke kampung lain untuk mencari tahu, apakah rakyat di bawah pemerintahannya sudah sejahtera, atau masih ada di antara mereka yang kelaparan. Apakah kemakmuran sudah tersebar secara merata?

Kisah Umar Bin Khattab Menangis Ketika Blusukan Ke Rumah-rumah Penduduk


Ketika sampai di sebuah rumah milik seorang janda, didengarnya rintih tangis anak kecil. Tangis si buyung itu tidak kunjung berhenti. Umar dengan sabar memasang telinga dari balik daun pintu. Anak itu terus merengek-rengek minta makan. Tidak ada yang bisa dimasak, sang ibu berusaha menghibur anaknya dengan menanak batu. Tiap kali air dari tungku itu surut, dengan pilu sang ibu memasukkan kembali air ke dalamnya. Begitu berulang, sekadar memperpanjang waktu supaya sang belahan hati bisa tertidur, melupakan lapar. Di antara kegundahannya itu sang janda menyebut-nyebut nama Umar dan memakinya. Umar tersentak.

Selama ini, lelaki perkasa ini sulit bisa menangis. Tapi ketika menyaksikan langsung drama kelaparan yang menimpa keluarga si Janda ini, dia tidak mampu menahan air matanya. Perasaan kasih sayang dan dosa sebagai pemimpin bercampur menjadi satu.

Dengan langkah bergegas Umar meninggalkan rumah itu menuju baitul maal. Dari sana dipanggulnya sendiri sekantung gandum dan diserahkan kepada Sang Janda.

Sebuah pemandangan yang sangat mengharukan. Seorang pemimpin dengan penuh perhatiannya mengikuti denyut jantung kehidupan rakyatnya. Memang demikian seharusnya. Pemimpin harus selalu menjaga dan mengayomi orang yang dipimpinnya dari kesusahan dan kesulitan. Hal itu dilakukan kendati mengurangi waktu istirahatnya dan jatah kesenangan dirinya terkorbankan. Masalah-masalah rakyat dipahaminya sepenuh hati. Matanya tidak mau terpejam bila masih mendengar di antara rakyatnya ada yang tidak makan.

Sangat hina bila seorang pemimpin asyik dengan dirinya di atas kesusahan yang sedang didera rakyat. Sangat cela bila rakyat sedang dililit lapar, pemimpin malah terlibat saling bentrok memperebutkan kursi, membagi-bagi jabatan. Pemimpin apa pula itu. Padahal ujung-ujungnya rakyat juga yang dijual. Program-program apapun juga selalu mengatasnamakan kepentingan rakyat. Demi dan untuk memaslahatan rakyat.

Ratapan janda di atas kini mewakili kaum miskin negeri kita yang kian hari kian dililit kesulitan. Banyak orang mencaci pemimpin mereka yang terus-menerus berseteru, saling menyalahkan dan bentrok. Padahal kian hari kian sulit mencari sesuap nasi. Harga sembako makin sulit dijangkau. Yang lebih parah bila muncul ungkapan lebih senang dipimpin penguasa zhalim tapi terjamin kesejahteraan daripada pemimpin reformasi yang mengumbar janji-janji. Sungguh tragis.

Menolong orang lapar

Adalah seorang sahabat yang sudah beberapa hari tidak makan. Ia memanfaatkan waktunya untuk i'tikaf di masjid. Beberapa hari sahabat yang lain menyaksikan si fulan ini tidak beranjak dari tempatnya. Ia heran. Setelah ditanya, si fulan menjelaskan tentang keadannya tersebut. Ia tidak makan selama beberapa hari. Sahabat jadi kaget. Dengan penuh ramah diajaknya si fulan ke rumah, dengan harapan di rumah masih ada makanan yang bisa dihidangkan kepada tamunya yang malang ini. Sesampai di rumah ditanyakannya kepada istrinya apakah masih ada makanan yang bisa dihidangkan. Sang istri menjelaskan masih ada sepotong roti. Tapi itu jatah terakhir keluarga malam ini.

Kepada istrinya sahabat menjelaskan tamunya ini sudah dua hari tidak makan. Sang istri shalihah ini segera menyerahkan sepotong roti tersebut dan menempatkannya di atas piring. Katanya, "Biarkanlah roti ini kita serahkan untuk tamu itu. Bukankah ia sudah dua hari tidak makan sedang kita baru satu hari saja?"

Sang tamu yang baik pun mengerti, ia tidak mau menikmati hidangan tanpa ditemani tuan rumah. Sahabat tentu saja bingung. Tapi dia tidak kehilangan akal. Dimatikannya lampu setelah menyediakan dua buah piring di atas meja. Saat hidangan akan dinikmati, terdengar tangis anak kecil minta makan. Sang istri segera memasang tungku memasak air. Sang anak kembali tertidur melupakan lapar.

Esok harinya Rasulullah memuji kemuliaan akhlak sahabatnya ini atas informasi yang beliau terima dari malaikat Jibril.

Memetik Hikmah

Kedua cuplikan kisah tersebut benar-benar peristiwa indah yang pernah terjadi dipanggung sejarah. Kisah tersebut menjadi pelajaran yang sangat tinggi nilainya bagi ummat Islam yang hidup di jaman kini.

Di sana terbentuk barisan yang rapi, saling memuliakan satu sama lain dan saling memberi penghargaan lebih di atas dirinya sendiri.

Bagi mereka, agama bukan sekadar atribut. Kegiatan shalat yang mereka lakukan bukan syiar-syiar tanpa arti, bukan sekadar gerakan dan simbol-simbol religius yang kosong makna. Akan tetapi memiliki makna filosofi mendalam tentang hidup dan keterkaitannya dalam kehidupan. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah; turut berbahagia bila saudara memperoleh nikmat kesenangan dan berduka bila ada ada di antara mereka yang menderita.

Mereka mengimani Islam ini dengan keimanan yang mendalam. Islam bagi mereka adalah kepasrahan, dan kepasrahan itu dilakukannya dengan sepenuh hati dalam wujud ukhuwwah. Tidak ada halangan bagi mereka mencintai saudara seiman. Itu adalah panggilan jihad. Bila saudaranya menderita maka secara langsung penderitaan itu juga dirasakan pula. Tidak ada kamus egois. Yang ada adalah ikatan kebersamaan dalam ikatan dinullah. Sebab keimanan mereka bukan sekedar mempelajari apa itu iman dan bagaimana itu iman, atau mencari seluk-beluk tentang ilmu-ilmu yang menyangkut iman (imanologi), tapi apa yang harus dilakukan sebagai seorang yang mengaku telah beriman.

Allah sebagai khaliq, Islam sebagai ad-Din, Qur'an sebagai pemandu hidup dan dirinya secara langsung ingin menyesuaikan dengan instrumen-instrumen tersebut. Itulah temali keyakinan yang mengikat kuat. Ada ancaman yang membayang dipelupuk mata bila semata mementingkan egonya, nanti di akhirat. Rasulullah saw bersabda, "Seseorang (tetangga) kelak di hari kiamat, akan menuntut (tetangga)nya: 'Ya Tuhan, saudaraku ini Engkau lapangkan rizkinya, dan aku tidak, hingga ketika aku lapar di siang hari, ia kenyang, kemudian aku menuntutnya (meminta)nya, kenapa ia menutup pintunya dan mencegah aku dari sesuatu yang telah dilapangkan baginya.'" (HR.Anas bin Malik)

Lapar dan ujian Allah

Buta mata akibat cacat tidak sebahaya buta hati akibat lapar. Kelaparan bisa mengantar orang nekad melakukan apa saja, termasuk menciderai orang. Selama perut belum terisi, orang mudah melakukan pelanggaran- pelanggaran. Apalagi bila benteng agama tidak kuat, sangat memungkinkan sekali muncul tidakan-tindakan yang ke luar sama sekali dari lingkaran syari'at.

Merebaknya banyak pencurian dan perampokan belakangan, sangat memungkinkan dipicu dari desakan perut yang tidak lagi bisa diajak kompromi. Banyak orang menjadi takut dan hilang keseimbangan. Allah swt berfirman "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." (QS.An-Nahl:112).

Pada kondisi hilang kendali akibat lapar, sering orang kehilangan akal sehatnya. Nafsunya ditempatkan di depan, sementara hati dan pikirannya disingkirkan ke belakang. Orang baik-baik berubah menjadi jahat dan berkarekter hewani.

Lebih mengkhawatirkan adalah bila karena lapar membuat orang berputus asa dari rakhmat Allah, kemudian murtad. Inilah bencana sangat besar yang akan merugikan dunia akhirat.

Baca Juga:





Kita berlindung kepada Allah dari hilangnya iman akibat ujian perut lapar. Kita ulurkan tangan sebatas kemampuan kepada tetangga terdekat dari bahaya kelaparan. Allahu Akbar!


loading...