Islam dan Tuhan Tidak Perlu Dibela, Benarkah?




Benarkah Islam dan Tuhan tidak perlu dibela? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, mari kita hayati beberapa kisah berikut ini,

Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj, 40)

Islam dan Tuhan Tidak Perlu Dibela, Benarkah?


Imam Alqurthubi mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang membela agama dan nabi-Nya. (Aljami’ li Ahkamil Qur’an juz XII hal 386)

Imam Atthabari mengatakan bahwa maknanya adalah “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang membela (agama)-Nya, yaitu menolong orang-orang yang berperang di jalan-Nya agar kalimat (syariat)-Nya tetap tinggi terhadap musuh-musuh-Nya. Maka makna pertolongan Allah kepada para hamba-Nya itu adalah bantuan Allah kepada mereka, sedangkan makna pertolongan para hamba kepada Allah adalah jihad di jalan-Nya untuk meninggikan kalimat (syariat)-Nya.” (Tafsir Atthabari juz XVII hal 651)

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa tafsir ayat yang artinya: “Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya”. (QS. Al Hadid, 25), adalah orang yang membela dan menolong agama Allah SWT dan membela Rasulullah SAW, dengan memiliki keinginannya membawa senjata (baik fisik maupun non fisik).

Sedangkan makna “Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa” adalah Allah SWT menolong orang yang membela agama-Nya, sedangkan Dzat Allah tidak membutuhkan pertolongan dari manusia. Adapun disyariatkannya jihad membela Allah dan Rasul-Nya adalah untuk menguji keimanan sebagian kalian dari sebagian yang lain.” (Tafsir Ibnu Katsir juz VIII hal 28)

Imam Abul Qasim Al-Qusyairi menceritakan, bahwasannya Amru ibnu Laits adalah salah seorang raja di wilayah Khurasan, beliau itu terkenal sebagai pemberontak yang tersohor terhadap pemerintah pusat hingga meninggal dunia, beliau masyhur dijuluki Asshaffar.

Suatu saat ada orang shalih yang melihat Asshaffar dalam mimpi, lantas ditanyakan kepadanya, “Apa yang dilakukan Allah kepadamu?”

Asshaffar menjawab, “Allah mengampuniku”.

Maka dikatakan kepadanya, “Dengan sebab apa?”

Asshaffar menjawab, “Suatu hari ketika aku hidup, aku menaiki puncak gunung. Aku mengamati tentaraku dan mengagumi banyaknya jumlah mereka. Kemudian aku berangan-angan kiranya aku bersama Rasulullah SAW, hingga aku membantu dan membela beliau SAW, lantas Allah mensyukuri hal itu dengan mengampuniku”. (Disebutkan oleh Imam Al-Qadhi Iyadh  dalam kitabnya, Asy-Syifa’).

Ini baru berangan-angan ingin membela Rasulullah SAW., padahal kehidupan Raja Amru dengan Rasulullah jauh setelah wafat, namun ini merupakan ungkapan kecintaannya kepada Rasulullah SAW sehingga Allah mengampuninya.

Selanjutnya, di Indonesia. Meski sempat berniat mundur karena ada uzur –yaitu faktor usia-, ghirah Imam Bonjol (1772-1864) kembali menyala saat dilihatnya masjid dinistakan penjajah dengan menjadikannya sebagai kandang kuda. Dia-pun lalu bergerak, turun lagi ke medan juang, membela agama.

Lantas, ini kisah lain. Pada edisi 8-11 Januari 1918, surat kabar “Djawi Hisworo” menurunkan artikel yang berisi penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw. Artikel yang ditulis Djojodikoro itu berjudul “Pertjakapan antara Martho dan Djojo”. Di dalamnya ada kalimat: “Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem AVH, minoem Opium, dan kadang soeka mengisep Opium.” Kalimat itu jelas menuduh Nabi Muhammad Saw sebagai pemabuk dan suka mengonsumsi opium.

Artikel tersebut lalu mendapat reaksi umat Islam. H.O.S Tjokroaminoto kemudian membentuk organisasi “Tentara Kanjeng Nabi Muhammad” (TKNM). Setelah dibentuk, TKNM menyeru kepada masyarakat Indonesia untuk menghadiri perkumpulan besar di Kebun Raya Surabaya, pada 6 Februari 1918. Perkumpulan ini diadakan sebagai bentuk pernyataan sikap kaum Muslim terhadap penghinaan Nabi SAW.

Berapa umat Islam dalam aksi tersebut? Diperkirakan sekitar 35.000 orang! Ini luar biasa, sebab dengan hanya bermodalkan pesan lisan dan media selebaran kertas, bisa mengumpulkan massa sebesar itu. Sekali lagi perhatikan! Di zaman yang belum ada media semisal televisi dan media sosial semacam WhatsApp (WA), facebook, atau twitter, tapi bisa menghimpun tiga puluh lima ribu orang. Hal ini jelas bisa menunjukkan tentang tingginya kesadaran umat Islam dalam membela agamanya.

Apa tuntutan mereka? Hanya satu, yaitu mendesak pemerintah Hindia Belanda dan Sunan Surakarta untuk segera mengadili Djojodikoro dan Martodarsono (pemilik surat kabar), atas kasus penistaan Nabi SAW itu.

Jadi, Tuhan memang harus kita bela dengan cara membela agama-Nya! “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad [47]: 7)

Diam dalam Kemungkaran

Menyimak apa yang dinyatakan oleh lisan maupun tulisan kaum liberal tersebut, mengisyaratkan, bahwa ketika kemungkaran, kemaksiatan, kezaliman, kesewenang-wenangan, dan kebobrokan ada di depan mata, umat ini diminta untuk bersikap manis, diam terpaku, tanpa ada reaksi sedikitpun.

Sebagai contoh, ketika ada yang melecehkan Allah dengan ucapan “anjinghu akbar” dalam sebuah forum di Bandung, kaum liberal meminta umat Islam untuk terdiam. Tatkala ada yang menghina nabi Muhammad Saw, cukup tenang-tenang saja. Atau bila ada yang bilang, ada nabi setelah Nabi Muhammad saw, cukup dihormati saja pendapat itu karena hanya beda tafsir dalam memandang suatu dalil.

Lebih dari itu, jika ada mushaf Al Qur’an yang dibakar, umat ini juga diminta untuk tidak bereaksi. Atau disaat kaum muslimin dibelahan dunia dizalimi, dibunuh, dibantai dengan keji, kita dituntut cukup berpangku tangan saja, sekalipun kaum liberal kerap berteriak soal Hak Asasi Manusia (HAM) dan perdamaian. Bahkan, disaat generasi muda terlibat pergaulan seks bebas, menenggak miras, hingga dipengaruhi narkoba, lagi-lagi kita diminta untuk terdiam. Naudzubillah!

Setelah Islam, Allah dan Rasul-Nya dilecehkan, kaum muslimin dibantai, pemikiran batil dilontarkan, kaum liberal mendesak umat ini agar tidak memberikan stigma sesat. Jika tidak berubah, biarkan Allah saja yang memberikan hidayah. Kaum liberal itu berdalih dengan menggunakan dalil QS. Al-Maidah ayat 105.

Dengan ayat itu, maka kalau ada aliran-aliran yang dianggap sesat oleh umat Islam, ya biarkan saja, cukup didakwahi, karena Allah sudah menjamin, bahwa orang yang beriman itu tidak akan pernah terjerumus dalam kesesatan karena dijaga Allah. Ini menjadi dalil implisit bahwa Allah tidak perlu dijaga, karena Allah lah yang menjaga manusia dari setiap kesesatan.

Begitulah kebusukan pemikiran kaum fasik liberal yang begitu bodoh memahami ayat yang sebetulnya begitu jelas dan gamblang untuk dipahami. “Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. (QS.Al Baqarah: 9-10).

Allah berfirman: ”Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (QS. Al-Baqarah: 12).

Mereka menyembunyikan hadits Nabi Muhammad Saw yang menyatakan: “Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh, apabila satu organya merasa sakit, seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).

Juga ingatlah dengan sabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya aku telah mendapat berbagai teror dan ancaman karena membela agama Allah. Dan tidak ada seorang pun yang mendapat teror seperti itu. Aku telah mendapat berbagai macam gangguan karena menegakkan agama Allah. Dan tidak ada seorang yang mendapat gangguan seperti itu. Sehingga pernah kualami selama 30 hari 30 malam, aku dan Bilal tidak mempunyai sepotong makanan yang layak dimakan, kecuali sedikit makanan yang hanya dapat dipergunakan untuk menutupi ketiak Bilal.” (HR. Turmudzi dan Ahmad)

Patut digarisbawahi kalimat membela agama Allah dan menegakkan agama Allah. Jika Rasulullah melakukan hal itu dengan segala pengorbanannya, maka begitu naïfnya ketika kaum fasik liberal dengan bangganya melontarkan ungkapan batilnya, bahwa “agama Allah tidak perlu dibela”, “Tuhan tidak perlu dibela”, dan seterusnya. Ucapan seperti itu menunjukkan, mereka adalah kaum yang bodoh dan tak berakal.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya pada kita semua, Aamiin.