Kondisi Kafan dan Belulang 3 Wanita Ini Masih Bagus Ketika Digali, Ternyata Ini Amalan Yang Dilakukan




Kisah nyata ini terjadi sekitar tahun 1989 tatkala pemkab Indramayu hendak membangun sebuah pasar kecil di desa Singaraja. Akan tetapi lokasi yang hendak di pergunakan untuk membangun pasar itu agaknya telah menjadi pemakaman setidaknya 50an warga. Karena status kepemilikan tanah tersebut berada di tangan pemerintahan kota Indramayu, pemerintah pun bermaksud memindahkan kubur – kubur yang berada di lokasi tersebut ke tempat lain.

Kondisi Kafan dan Belulang 3 Wanita Ini Masih Bagus Ketika Digali, Ternyata Ini Amalan Yang Dilakukan


Salah satu penduduk yang membantu menggali tempat pemakaman tersebut adalah pak Zamahri, beliau di minta untuk menggali dua kubur oleh ahli waris penghuni kedua kubur tersebut, yakni almarhumah Siti Zahro yang kebetulan bibinya dan almarhumah Ruwaidah, tetangganya.

Anehnya, saat pak Zamhari menggali kedua kubur tersebut, kain kafan dan talinya masih utuh, demikian juga tulang belulangnya yang masih rapi terbalut kulitnya, hal ini tentu berbeda dengan kubur – kubur lain yang umumnya kain kafan dan jenazahnya sudah hancur, kecuali hanya sebagian saja yang tersisa. Semua mayat yang di gali kuburnya di serahkan kepada keluarga masing – masing untuk di kubur kembali ke tempat lain.

“Waktu itu saya di minta menggali makam Bibi Siti Zahro dan Ruwaidah, yang meminta adalah keluarganya. Ketika dua kubur itu saya gali, kain kafannya masih utuh dan tulang – belulangnya masih bagus. Tidak rusak. Bahkan kulitnya masih menempel di tulang, hanya saja dagingnya tidak ada lagi. Posisi mayatpun masih menghadap ke arah kiblat. Sama seperti ketika di masukkan pertama dulu, tetapi warna kain kafannya memang sudah tidak bersih lagi, sudah kotor dan sedikit menghitam. Padahal kalu di kubur – kubur lain kebanyakan malah sudah hancur kecuali hanya edikit rambutnya saja yang masih ada.” Kenang Bapak Zahari seraya menyebut nama penghuni kedua kubur yang di galinya tersebut.

Selain dua kubur yang di gali pak Zamhari, masih ada satu kubur lain yang kondisi mayatnya ternyata serupa. Ahli kubur itu yakni Almarhumah hajah Maimah yang kuburnya di bongkar oleh penduduk lain. Lantas sebenarnya siapakah ketiga perempuan sholehah itu?

Siti Zahro

Beliau meninggal sekitar tahun 1988 dalam usia setidaknya 68 tahun. Tatkala kuburnya di gali, mayatnya memang belum lama di kebumikan yakni baru satu setengah tahun. Meskipun keadaan kuburnya masih baru, namun agaknya keadaan kafan dan tulang – belulang yang masih bagus itu bisa di sebut satu keistimewaan, sebab masih ada beberapa kubur lain yang kondisinya bahkan jauh lebih baru lagi tatkala di gali mayatnya sudah hancur atau hanya tersisa sebagian saja.

Menurut bapak Zamhari, yang juga keponakan dari almarhumah Siti Zahro, semasa hayat Siti Zahro begitu sayang dengan binatang kucing, bahkan saking sayangnya, di dalam rumahnya tak hanya tinggal satu atau dua ekor kucing saja melainkan sampai puluhan ekor kucing. Suaminya telah meninggal beberapa tahun sebelum meninggalnya beliau. Mungkin itulah sebabnya beliau memelihara banyak kucing dalam rumahnya.

Keseharian Siti Zahro sesungguhnya hanyalah penjual ubi rebus di pasar yang letaknya begitu jauh dari rumahnya. Penghasilannya pun sedikit dan tidak seberapa, namun agaknya karena rasa cintanya kepada hewan ciptaan Allah itu, sepulang berjualan senantiasa ia selipkan uang untuk membeli ikan demi puluhan ekor kucing yang berada di rumahnya.

“Bibi Zahro kerjanya hanya menjual ubi rebus di pasar, pada waktu itu pasarnya tidak seperti sekarang. Setiap pulang dari pasar, bibi selalu membawa ikan untuk kucing – kucingnya. Bahkan kadang – kadang, kucing – kucingnya itu di dandaninya,” kenang Zamhari.

Sikap sayangnya yang berlebihan terhadap kucing – kucingya, acapkali membuat tetangganya merasa heran dan menganggapnya aneh, sebab baru kali itu mereka lihat orang yang sedemikian sayangnya kepada kucing.

Setelah Siti Zahro meninggal hingga setahun setengah kemudian kuburnya di gali, ternyata kafan dan tulang – belulangnya masih utuh. Maka tetangganya pun beranggapan bahwa keistimewaan itu beliau dapatkan karena rasa kasih dan cintanya kepada kucing, makhluk ciptaan Allah yang konon juga menjadi hewan kesayangan Baginda Nabi itu.


Ruwaidah

Beliau meninggal sekitar tahun 1979 dalam usia yang masih terbilang muda yakni 25 tahun. Tatkala meninggal, perempuan lulusan Pondok Pesantren Tebuireng ini masih memiliki seorang anak kecil berusia 2 tahun dari suaminya yang masih hidup. Tatkala kuburnya di gali, berarti agaknya sejak sepuluh tahun silam mayatnya di kebumikan.

Semasa hayatnya, Ruwaidah di kenal sebagai wanita yang memiliki akhlak baik dan penyabar. Mulutnya tak pernah terbuka untuk membicarakan sesuatu yang mudharat dan sia – sia kecuali untuk menyalurkan ilmu yang di dapatkannya selama manimba ilmu di pesantren. Selain seorang ibu rumah tangga, ia juga seorang pengajar/guru dan beternak bebek di rumahnya.

Suaminya hanyalah seorang tukang becak, namun ia tak pernah mengeluh akan pendapatannya yang sedikit, sebaliknya ia begitu menghormati dan patuh terhadap suaminya. Bahkan kepada keluarga suaminya sendiri, ia tak pernah sedikitpun membuka aib, ia senantiasan menjaga muruah rumah tangganya dan selalu sabar menghadapi segenap kekurangan dalam rumah tangganya.

“Kakak itu orangnya sabar, tidak pernah mengeluhkan kekurangan rumah tanagganya kepada siapapun termasuk kepada ibu dan bapak. Ia pandai menutupi kekurangan rumah tangganya kepada orang lain. Sepertinya ia sudah begitu ridha dengan apa yang di miliknya waktu itu. Kakak kan lulusan Pondok Pesantren Tebuireng, makanya ia menjadi guru. Selain itu kakak juga membantu suaminya beternak bebek. Suaminya sendiri hanyalah seorang tukang becak, tetapi kakak tetap menghormati suaminya, kebetulan suaminya juga baik.” Cerita Umi selaku adik Ruwaidah.

Hj Maimah

Mayatnya sudah di kebumikan selama tiga tahun tatkala kuburnya di gali. Menurut Masngidah istri Bapak Zamhari, beliau juga di kenal sebagai wanita yang penyabar. Sebagai tetangga, istri pak Zamhari tentu mengerti betul mengenai sikap anak – anak Hj Maimah yang di kenal nakal dan badung. Namun dalam menghadapi anak – anaknya yang kelewatan, beliau tetap bijaksana, tegar dan penuh kasih sayang. Tak pernah sekalipun ia menghardik atau melontarkan sumpah serapah kepada anak – anaknya.

“Anak – anak Hj Maimah itu nakal – nakal sekali, namun begitu sabar beliau menghadapinya,”

Di samping itu, Hj Maimah merupakan wanita yang senantiasa menjaga shalat malamnya, ia di kenang gemar terjaga di sepertiga malam untuk menunaikan Tahajud. Bahkan tatkala meninggal, keadaan beliau sedang hendak melaksanakan shalat Tahajud.

Pada malam itu, ia terbangun untuk melaksanakan shalat Tahajud. Melangkahlah ia ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, namun tiba – tiba ia terjatuh. Melihat peristiwa itu, anak – anaknya segera mengangkat tubuhnya untuk di baringkan di atas tempat tidur. Ternyata malam itu merupakan malam terakhir bagi Hj Maimah. Beliau meninggal dalam keadaan tenang dan damai tanpa sedikitpun menjalani masa – masa sakit terlebih dahulu.

“Ibu Hj Maimah itu suka shalat malam, bahkan ketika meninggalnya itu pun pas mau melaksanakan shalat malam, waktu itu beliau bangun untuk melaksanakan shalat malam sebagaimana malam – malam biasanya. Namun tiba – tiba beliau terjatuh hingga beliau meninggal dunia,” kenang Masngidah.

Demikian penghargaan atau karunia yang di hadiahkan Allah kepada hamba – hambanya yang beramal baik semasa hayat. Lelaku dan akhlak ketiga wanita istimewa itu di kenang baik semasa hidup, itulah sebabnya mereka mendapatkan kemuliaan itu. Subhanallah