Kesaksian Bulu Mata Yang Menyelamatkan Dari Api Neraka




Baginda Nabi pernah bersabda, “Barangsiapa yang pernah menangis karena takut kepada Allah, maka Ia mengharamkan matanya tersentuh api neraka. Sesungguhnya mataku ini biasa menangis karena takut kepada Engkau”

 Kesaksian Bulu Mata Yang Menyelamatkan Dari Api Neraka


Dari secuil wejangannya di atas, adakah intisari yang bisa kita serap? Apakah kita terbiasa menitikkah air mata karena gejolak khauf yang melanda hati atau rasa takut yang mengguncang jiwa? Adakah rasa cemas dalam diri kita tatkala kita mendengar kisah dan suatu keniscayaan yang pelik ihwal senarai adzab dan peristiwa yang terjadi pasca kematian?

Dan ketika sejumlah pertanyaan tentang amal perbuatan kita selama hayat di ajukan, konon tak ada lagi kebohongan, sebab mulut kita di bungkam sementara seluruh anggota badan kita melontarkan kesaksian yang haqiqi mengenai bagaimana sang empunya anggota tubuh itu mempergunakannya. Bagi tangan yang di pergunakan untuk mencuri, maka tangan itupun akan mengungkap semuanya, bagi mata yang di pergunakan untuk melihat sesuatu yang hina dan maksiat maka ia pun bersaksi mengenai apa yang telah di perbuat sang empunya melalui kedua matanya. Bagi kaki yang di pergunakan untuk hal – hal yang mengundang murkaNya, maka ia pun akan mengadukan semuanya tanpa sedikitpun dusta ataupun kebohongan hingga tak ada lagi daya bagi kita untuk berdalih.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian kepada terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Yasin : 65)

Ayat di atas memberitakan bahwa pada hari kiamat kelak, mulut kita tidak akan bisa berdusta ataupun menampik kenyataan lagi mengenai apa yang dahulu pernah kita kerjakan. Mulut kita akan di bungkam oleh segala kesaksian dan pengaduan dari anggota tubuh seperti tangan, kaki, mata, telinga, hidung bahkan hingga bulu mata. Oleh karena itu, patutnya kita lebih berhati – hati dalam melakukan suatu perbuatan.

Mengacu kepada teologi di atas, ada baiknya kita menyimak satu kisah yang disadur dari Kitab Daqa’iqul Akhbar karya Imam Abdurrahim bin Ahmad Al – Qadhi. Konon kelak, setiap hamba akan di datangkan untuk di timbang amal baik dan buruknya. Setelah di timbang, ternyata amal buruknya lebih berat di banding amal baiknya.

Maka diseretlah ia ke dalam neraka, akan tetapi tiba – tiba helai bulu matanya melakukan pembelaan seraya berkata, “Ya Tuhanku, rasulMu pernah bersabda, ‘Barangsiapa yang pernah menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka Ia mengharamkan matanya tersentuh api neraka. Sesungguhnya mataku ini biasa menangis karena Engkau.”

Pada akhirnya, Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang mengampuni dosa – dosa hambanya itu. Allah selamatkan ia dari bara api neraka dan di singgahkanlah ia dalam surga. Semua itu berkat pengaduan sehelai bulu mata hambaNya tersebut yang basah karena rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Demikian peristiwa tersebut di kisahkan untuk dapat kita petik untaian hikmah dan ibrahnya, maka patutnya berhati – hatilah dalam berbuat. Tindakan sekecil apapun agaknya terekam secara baik oleh seluruh anggota badan kita. Barangkali tak pernah kita duga sebelumnya, bahwa hanya dengan menangis karena takut pada Allah pun bisa menyelamatkan seorang hamba dari api neraka

Sebaliknya, barangkali kita menyelewengkan suatu persoalan yang sepele, yang agaknya terfikir di benak kita bahwa itu dosa kecil yang tidak begitu di persoalkan, padahal barangkali sebaliknya. Suatu perbuatan atau kesalahan kecil yang kita sepelekan itu, justru mungkin saja yang menjadi penyebab masuknya kita ke dalam bara apinya.

Wallahu A'lam.