4 Kisah Inspiratif Kepemimpinan Umar Bin Khattab Yang Patut Kita Teladani




4 Kisah Inspiratif Kepemimpinan Umar Bin Khattab Yang Patut Kita Teladani



Umar dan Janda yang Sengsara

Seperti pada malam – malam biasanya, Umar yang kala itu ingin mengetahui kondisi rakyatnya secara langsung secara sembunyi – sembunyi berkeliling ke seluruh wilayah daerah kekuasaannya, bersama Aslam,  tetiba terdengar sayup tangis anak kecil yang berasal dari sebuh gubuk, Umar dan Aslam segera mendekat untuk melongok keadaan.

Tatkala Umar mengintip dari luar gubuk, beliau menyaksikan anak – anak yang merengek dan menangis pada Ibunya, sementara ibunya sedang menjerang panci di atas tungku seraya memohon untuk agar anak – anaknya sabar menunggu. Karena penasaran, Umar dan Aslam pun mengucapkan salam, dan sang ibu itu menjawab.

“Siapakah yang menangis itu?,”tanya Umar.

“Anakku”

“Apakah mereka sakit?”

“Tidak,”jawab si Ibu. “Tapi mereka kelaparan.”lanjutnya.

Umar dan Aslam pun hanya tertegun, akan tetapi mereka tak kunjung pergi dari tempat itu. Sebab anak – anak itu terus menangis dan merengek tiada hentinya. Menyaksikan hal itu, Umar pun tersayat hatinya, namun di samping itu, Umar pun bingung, apa yang berada dalam panci yang Ibu itu jerang di atas tungku, tak kunjung di angkatnya.

Hal itu pun membuat Umar merasakan ada hal yang aneh. Hingga beliau bertanya, “Apa yang sebenarnya sedang ibu tanak? Mengapa tak kunjung matang? Anak – anakmu telah terlalu lama menunggu.”

“Silahkan lihat sendiri,”

Umar segera membuka tutup panci itu untuk melihatnya, dan beliau kaget setengah mati karena ternyata yang sedang ibu itu tanak sedari tadi adalah batu.

“Kenapa engkau memasak batu?”

“Aku tiada memiliki apapun lagi untuk di masak. Karena anakku kelaparan dan terus menangis, maka akupun memasak batu untuk menghiburnya.ini adalah kesalahan Khalifah Umar bin Khattab . dia tak mau tahu keadaan rakyatnya. padahal, aku ini seorang janda,”jawab ibu itu tanpa mengetahui bahwa Khalifah yang ia bicarakan itu sesungguhnya telah berdiri di hadapannya. Bahkan tak sungkan – sungkan ia menyebut bahwa Umar tidak pantas menjadi pemimpin.

Sontak mendengar itu, Aslam pun tersinggung dan hendak marah, namun Umar segera mencegahnya. Lantas dengan penuh tanggung jawab, bangkitlah Umar untuk segera pulang dan menggambil gandum untuk segera ia berikan kepada janda itu. Tanpa melalui istirahat sedikitpun, beliau memikul gandum itu dan berjalan cepat dengan hati yang tersayat. Menyaksikan Umar yang kelelahan memikul karung gandum itu, Aslam pun menawarkan diri kepada Umar,

“Wahai Amirul Mukminin, biarkan aku saja yang memanggul gandum itu.”

Akan tetapi Umar menolak akan tawaran itu, beliau merasa bahwa ini semua merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang Khalifah/pemimpin. Beliau tak bisa melimpahkan tanggung jawab itu kepada siapapun termasuk ke punggung Aslam.

Aslam pun menyerah dan terus mengikuti jejak Umar yang melangkah dengan penuh tanggung jawab untuk kembali menemui janda yang tidak bisa berbuat banyak saat anaknya kelaparan itu.


Umar dan Rakyat yang Kelaparan

Tatkala itu, Madinah di landa masa paceklik dan krisis panjang hingga tidak sedikit penduduk Madinah yang meninggal dan kelaparan. Melihat kondisi yang demikian, Umar selaku pemimpin di Madinah merasa bertanggung jawab akan hal itu dan memerintahkan untuk menyembelih binatang ternak dan membagi – bagikan kepada rakyatnya.

Setelah daging di masak dan di suguhkan makanan yang memang menjadi salah satu kesukaan Umar itu di hadapaannya, Amirul Mukminin itu tak lantas langsung memakannya, namun beliau bertanya, “Darimana ini?”

“Dari hewan yang di sembelih hari ini,”jawab para petugas.

“Tidak!”tegas Umar lantang sambil menjauhkan hidangan lezat itu dari hadapannya. 

“Saya akan menjadi pemimpin paling buruk jakalau seandainya saya memakan daging ini dan meninggalkan tulang – tulangnya untuk rakyat,”

Para petugas pun hanya tertegun, hingga kemudian Umar berkata lagi, “Angkat makanan ini dan ambilkan sayan roti dan minyak biasa”


Umar Tanpa Pengawal

Syahdan suatu ketika, prajurit umat islam berhasil menawan seorang panglima Persia dan di bawanya tawanan itu pulang, ialah Hurmuzan. Ia termasuk pejabat tinggi di kalangan Persia hingga tak heran bila ia mengenakan pakaian perang yang mewah dan bersulamkan emas, di atas kepalanya tersemat mahkota yang di kelilingi dengan yaqut dan permata.

Para prajurit berlarian mencari Umar, namun tak lekas mereka temukan. Hingga setelah beberapa saat mencari, mereka pun menemukan keberadaan Umar yang tatkala itu posisi Umar sedang melepas lelah di masjid. Kondisi tersebut pun membuat Hurmuzan bertanya – tanya, “Dimana Umar?”

Para prajurit menunjuk seseorang yang sedang tiduran di dalam masjid,”Itu pemimpin kami,”

“Lalu dimana penjaga dan pengawalnya?”

“Khalifah kami tidak memiliki penjaga maupun pengawal,”

Hurnuzan benar – benar tidak menduga bahwa Umar yang termasyhur sebagai pemimpin yang hebat itu sedang tiduran di masjid tanpa di iringi para penjaga dan pengawal sebagaimana umumnya para pejabat. Namun itulah Umar.

Umar dan Non Muslim

Pada suatu hari, Umar secara tak sengaja bertemu dengan seorang kakek renta yahudi yang sedang mengemis di jalan. Lantas Umar bertanya pada kakek itu, “Siapakah kamu?”

“Aku ini ahli kitab,”

“Apa agamamu?”

“Aku yahudi,”

“Mengapa engkau sampai mengemis begini?”

“Wahai Amirul Mukminin, aku sengaja mengemis untuk membayar jizyah,”

Umar pun seketika terenyuh dengan kondisi kakek renta itu. hingga beliau memaklumatkan pembebasan jizyah dari si kakek yahudi tersebut. Bahkan sejak saat itu Umar menuliskan surat yang berisi perintah kepada Gubernurnya untuk membebaskan pembayaran jizyah bagi orang – orang kafir yang sudah renta dan tak mampu lagi bekerja dan memberikan mereka santunan dari Baitul Mal.





loading...

close ini