Misteri Makam Sepanjang 7 Meter Di Banyuwangi, Siapakah Yang Dikubur Di Dalamnya?




Kuburan atau makam menjadi tempat terakhir bagi setiap manusia yang telah berpulang ke Rahmatullah. Namun di Banyuwangi terdapat sebuah makam yang tidak biasa lantaran memiliki panjang 7 meter dan terdapat di tengah hutan belantara, tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo, Desa Kalipait Kecamatan Tegaldlimo.

Misteri Makam Sepanjang 7 Meter Di Banyuwangi, Siapakah Yang Dikubur Di Dalamnya?
Makam Mbah Dowo atau Mbah Panjang (Mohammad Ulil Albab/Merdeka.com)
Umumnya panjang suatu makam akan sedikit lebih panjang dari tubuh jasad yang terkubur di dalamnya. Namun jika makam tersebut berukuran 7 meter, siapakah orang yang berada di dalamnya?

Dilansir dari Merdeka (2/9/2016), menurut seorang penjaga makam bernama Asmat (55 tahun), makam dengan panjang 7 meter tersebut memiliki nama Kuburan Mbah Dowo atau Kuburan Mbah Panjang. Tidak ada bukti jelas mengenai apa yang berada di dalam makam tersebut. Namun Asmat meyakini bahwa di dalam kuburan tersebut tersimpan berbagai benda pusaka milik leluhur.

“Jadi ini belum ada yang tahu sejarah mulanya kapan. Ada yang menyebut ini petilasan (peninggalan pusaka) jadi bukan kuburan seperti umumnya. Petilasan leluhur zaman dahulu,” ucap Asmat.

Misteri Makam Sepanjang 7 Meter Di Banyuwangi, Siapakah Yang Dikubur Di Dalamnya?
Rumah Asmat, penjaga makam Mbah Dowo (Mohammad Ulil Albab/Merdeka.com)
Sementara itu rumah Asmat sendiri berada di samping kuburan Mbah Dowo. Sudah 8 tahun ia hidup seorang diri mengabdi menjadi penjaga makam. Dari cerita masyarakat, makam Mbah Dowo sudah ada sejak pembukaan area Perhutani dan Asmat merupakan penjaga makam yang kesembilan.

“Sebelum ada Perhutani sudah ada ini. Saya orang kesembilan yang jaga. Sebelum saya itu Pak Usman,” tuturnya.

Jika menurut Asmat isi makam tersebut adalah benda pusaka, maka menurut salah seorang warga isinya adalah seseorang bernama Eyang Suryo Bujo Negoro.

“Macam-macam ceritanya, kalau dari saya itu isinya bukan pusaka, tapi manusia,” ucap Sardi, salah seorang warga di area makam.

Sementara itu terkait alasan Asmat mengabdikan dirinya sebagai penjaga makam, ternyata ia ingin menguji kesabaran.

“Prinsipku di sini hanya menguji kesabaran. Meski banyak tantangan dan cobaan sampai delapan tahun. Yang jaga sebelum saya, banyak gak kuat kemungkinan ada tingkah yang tidak bagus,” ungkap Asmat.

Dituturkannya bahwa bahwa banyak orang yang berkeinginan atau iri melihat dirinya menjadi penjaga makam, namun lebih menjurus ke arah spiritual.

“Pernah mau dikeroyok orang, diusir orang, mau direbut tempatnya di sini. Ingin jadi dukun-dukun di sini. Alhamdulillah bisa bertahan di sini sampai 8 tahun,” pungkasnya.

Baca Juga: