Kisah Menangisnya Rasulullah Saat Mendengar Keyakinan Seorang Badui Yang Tak Mengenalnya Saat Thawaf




Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Rasulullah sedang melakukan thawaf dan ketika sedang melaksanakan ibadah tersebut, beliau mendengar seseorang yang berdzikir dengan penuh kekhusyukan. Tampak orang tersebut tidak merasa terganggu dengan banyaknya orang-orang yang menyenggol dirinya dan terus mengucap “Ya Karim.. Ya Karim”.

Kisah Menangisnya Rasulullah Saat Mendengar Keyakinan Seorang Badui Yang Tak Mengenalnya Saat Thawaf

Begitu terkesannya Rasulullah dengan dzikir orang tersebut sehingga beliau yang berada di belakangnya pun ikut meniru ucapan tersebut. Mendengar ada orang lain yang mengikuti dzikirnya, orang itu pun melihat ke salah satu sisi Ka’bah dan melanjutkan bacaannya, “Ya Karim Ya Karim”.

Namun ternyata Rasulullah tetap mengikuti bacaan orang yang diketahui merupakan Arab Badui. Merasa dirinya diolok-olok, orang badui itu pun menoleh ke belakang dan mendapati seseorang yang melakukan dzikir serupa.

Karena melihat penampilannya yang berbeda dari kebanyakan orang di sekelilingnya, orang badui yang tadinya hendak melakukan tindakan pun hanya berkata:

“Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokku, karena aku ini adalah orang arab badwi? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Terang saja, mendengar ucapan orang badui tersebut Rasulullah hanya tersenyum dan bertanya, “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang arab?”

“Belum,” jawabnya.

Rasulullah nampak heran dengan keyakinan orang badui tersebut yang mengaku Rasul menjadi kekasihnya namun tidak pernah bertemu sama sekali.

“Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”

Dengan tegas orang arab badwi tersebut berkata, “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya.”

Mendengar ucapan keyakinan yang mantap tersebut, Rasulullah kemudian berkata, “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”

Sontak arab badui tersebut tidak percaya dengan apa yang didengarnya, ia pun berkali-kali bertanya kebenaran tersebut kepada sosok yang ternyata Rasulullah. Maka orang itu pun langsung berusaha mencium kaki Rasulullah, namun Rasulullah menarik tubuh orang tersebut dan berkata,

“Wahai orang Arab! Janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya. Ketahuilah Allah mengutusku tidak untuk menjadi seorang yang takabur yang meminta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita.”

Di saat yang sama turunlah malaikat Jibril membawa berita dan berkata, “Ya Muhammad! Tuhan As Salam mengucapkan salam kepadamu dan berfirman: “Katakanlah kepada orang arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!”.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, malaikat Jibril pun pergi. Rasulullah kemudian menyampaikan ucapan Jibril itu kepada orang badui. Ternyata orang badui tersebut justru berkata: “Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengan-Nya!”

Rasulullah begitu heran dan bertanya, “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Allah?”

Dengan mantap orang arab badwi tersebut berkata, “Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfiroh-Nya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanan-Nya.”

Seketika itu juga Rasulullah menangis hingga membasahi janggutnya. Maka malaikat Jibril pun turun dan berkata, “Ya Muhammad! Tuhan As Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!”

Ketika Rasulullah menyampaikan hal itu kepada orang badui, betapa senang dan bahagianya ia bisa mendapatkan jaminan Allah dan bisa bersama dengan Rasulullah di akhirat kelak.

Kisah tersebut telah menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah memiliki ampunan yang begitu luas kepada hamba-Nya dan akan mengampuni setiap dosa asal umat manusia memohon ampun serta tidak melakukannya lagi.

Allah Ta’ala berfirman:

“Janganlah membesarkan dosa (dengan suatu) kebesaran (tertentu) di sisimu, (sedemikian rupa sehingga) menghalangimu dari berprasangka baik kepada Allah Ta’ala; karena sesungguhnya barang siapa mengenal Rabbnya, maka ia akan menganggap kecil dosanya di sisi kemuliaan-Nya.” (QS Al Hikmah 29)

Sementara dalam hadist riwayat At Tirmidzi disebutkan bahwa Allah akan mengampuni semua dosa sepenuh langit dan bumi yang umat manusia lakukan jika memang meminta ampun kepada-Nya.

“Hai Anak Adam, selama kalian berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan ampunan kepada kalian atas semua dosa yang kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai Anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai ketinggian langit, kemudian kalian memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni semua dosa yang telah kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai Anak Adam, seandainya kalian datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian kalian datang kepada-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” (H.R. At-Tirmidzi) Wallahu A’lam

Baca Juga:







loading...

close ini