Mengharukan! Inilah Kisah Nyata Seorang Ayah Yang 'Dipinjami' Anak Selama 863 Hari Oleh Allah




Mengharukan! Inilah Kisah Nyata Seorang Ayah Yang 'Dipinjami' Anak Selama 863 Hari Oleh Allah
Abdul Muhaimin dan putrinya, Zarifa (Facebook Abdul Muhaimin)
Mengharukan! Inilah Kisah Nyata Seorang Ayah Yang ‘Dipinjami’ Anak Selama 863 Hari Oleh Allah

Dalam kehidupan ini, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya cobaan dan ujian. Karena sesungguhnya Allah telah menentukan hal tersebut untuk melihat siapa yang mampu ikhlas menjalani kehidupan dan siapa pula yang justru menjadi kufur dan ingkar kepada-Nya.

Berbagai cobaan yang dirasakan sebuah keluarga tentu berbeda-beda. Ada yang tak dikaruniai anak selama hidupnya, ada yang mengalami perceraian dan bahkan ada yang kehilangan anak karena suatu sebab.

Seperti kisah nyata dari seorang ayah yang kehilangan anaknya ketika ia masih kecil dan tengah lucu-lucunya. Bukan karena diculik, melainkan karena sang anak mengalami penyakit kronis dan belum ada obatnya sehingga anaknya pun meninggal dunia.

Dilansir dari Ohbulan, ayah bernama Abdul Muhaimin itu pun membagikan kisah mengharukannya tersebut di media sosial. Bahkan ia membuat sebuah buku tentang kisahnya bersama sang anak bernama Zarifa dengan judul “28 Hari Di Ruang ICU”.

Dalam akun media sosialnya ia menuturkan bagaimana perjuangan Zarifa selama 863 hari untuk bisa bernapas di bumi. Memang tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya yang baru lahir harus mengidap penyakit yang mematikan. Bahkan terkadang ada orang tua yang malu gara-gara anaknya lahir dalam keadaan cacat fisik ataupun mental.

Tentu kekhawatiran itu pun muncul dalam diri Abdul Muhaimin dan istrinya yang tidak mau menerima kenyataan saat mendapati anaknya harus masuk ICU ketika baru lahir. Namun penantiannya selama di ruang tersebut membuat Muhaimin dan istrinya menyadari bagaimana bersikap seharusnya.

Dengan penuh kasih sayang, keduanya pun membawa Zarifa ke rumah dan mencoba untuk merawatnya meski pun tidak mudah untuk kondisi anak yang serapuh itu demi bisa terus bersama. Mereka rela untuk terus keluar masuk rumah sakit demi bisa memberikan pengobatan dan perawatan kepada sang anak.

Bagi seorang bayi, penyakit seperti demam, batuk dan pilek menjadi hal yang biasa. Namun jika itu dialami oleh Zarifa, maka kesannya nampak buruk di tengah kondisinya yang lemah. Meski begitu Allah tetap memudahkan mereka untuk memberikan perawatan kepada anaknya secara medis.

Kebersamaan keduanya dengan sang anak terus dioptimalkan. Dengan penuh keharuan, keduanya larut dalam bacaan ayat suci Al Qur’an agar Zarifa bisa merasakan kalimat Allah di telinganya. Dua kali Idul Fitri pun menjadi momen yang sangat bermakna dan tidak mungkin mereka rasakan lagi nantinya.

Meski mengalami kondisi yang memprihatinkan, Zarifa nampak begitu ceria, tersenyum dan tertawa riang sehingga membuat Muhaimin dan istrinya hanya bisa tersenyum sembari meneteskan air mata.

Dan tibalah hari ke-863 dimana Allah mengambil kembali Zarifa yang telah dipinjamkan kepada Muhaimin dan istrinya sebagai bentuk takdir yang harus diterima keduanya. Zarifa awalnya mengalami batuk, demam dan pilek hingga pneumonia dan akhirnya gagal jantung. Zarifa pun meninggal dan menyisakan keharuan pada tanggal 19 Juni 2015.

Sebuah pengalaman yang begitu mendalam dirasakan oleh keduanya bagaimana harus melihat kondisi anaknya yang terbaring lemah dengan jantung membengkak dan alat pembaca oksigen yang naik turun. Sungguh tak ada seorang pun yang mampu menahan rasa tangis kala melihat anak dengan kondisi tersebut.

Baca Juga:


Semoga kisah nyata ini menjadi bekal bagi kita untuk senantiasa memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada sang anak. Bukan bermaksud untuk memanjakan, namun memberikan rasa kasih sayang yang bersumber dari Al Qur’an dan Assunnah sehingga sang anak menjadi pribadi yang shaleh dan shalehah. Wallahu A’lam





loading...

close ini