Remaja Difabel Ini Tempuh Perjalanan 6 Km Dengan Kursi Roda Guna Menuntut Ilmu




Remaja Difabel Ini Tempuh Perjalanan 6 Km Dengan Kursi Roda Guna Menuntut Ilmu
Edi bersemangat ke sekolah meski harus menyusuri jalanan sejauh 6 km (Agung Ismiyanto/Tribun Jogja)
Remaja Difabel Ini Tempuh Perjalanan 6 Km Dengan Kursi Roda Guna Menuntut Ilmu

Jalanan yang penuh dengan kendaraan tidak menyurutkan niat remaja difabel bernama Edi Priyanto ini untuk bersekolah. Baginya suasana di jalanan menjadi sebuah tantangan tersendiri dan terlebih lagi dengan jarak tempuh ke sekolah yang mencapai 6 kilometer.

Siswa SMP 2 Sewon ini sehari-harinya berangkat ke sekolah dengan menggunakan kursi roda. Tekadnya untuk belajar pun mengalahkan keterbatasan yang ia miliki.

Sejak senin pagi kemarin, remaja yang tinggal di Dusun Manggung, Sumberagung, Jetis Bantul ini senantiasa mempersiapkan dan mengenakan pakaian seragam sekolahnya dengan rapi. Setelah itu ia pun mengayuh kursi roda untuk pertama kalinya sejak libur lebaran selama satu bulan. Alhasil semangatnya untuk menuju sekolah benar-benar semangat 45.

Saat ini Edi berada di kelas IX SMP 2 Sewon dan ia merupakan siswa yang pertama datang seperti biasanya. Dengan transportasi kursi roda, ia datang pukul 06.10 pagi mengalahkan para remaja normal yang bermotor ataupun bermobil.

Dilansir dari Tribun Jogja, baginya ada sebuah kepuasan bisa datang tepat waktu meski kondisinya berbeda dengan kebanyakan siswa.

“Saya memang senang bisa kembali ke sekolah. Rasanya selalu semangat jika kembali lagi ke sekolah,” ucapnya.

Meski duduk di kelas IX SMP, Edi telah berusia 18 tahun. Hal ini dikarenakan ia sempat berhenti sekolah beberapa tahun dengan alasan keterbatasan biaya. Kini ia memiliki semangat yang besar untuk mengentaskan ekonomi keluarganya dengan bercita-cita menjadi teknisi komputer. Tak hanya itu saja, ia juga menyukai dunia desain dan sketsa saat waktu senggang yang nanti bisa menjadi penghasil uang.

Semangat Edi untuk sukses memang tidak salah karena ibunya yang bernama Sumiyah saat ini hanya mengandalkan penghasilan dari kerajinan anyaman bambu buatannya. Hasilnya ia gunakan untuk makan dan uang saku Edi.

Dalam usahanya, Sumiyah kerap harus gali lobang tutup lobang untuk memenuhi kebutuhan karena penghasilan yang didapatkan tidaklah seberapa.

Tak heran jika Edi memiliki karakter yang penuh disiplin. Sejak pukul 4 pagi ia begitu cekatan mempersiapkan bekal, buku dan peralatan sekolah lainnya seorang diri. Lantas sekitar pukul 5 pagi, Edi pun berangkat ke sekolah sejauh 6 kilometer.

Baginya rintangan di jalanan seperti terik matahari atau padatnya arus lalu lintas, tidak membuatnya gentar.

“Saya tidak takut dan gentar menghadapi apapun. Tidak takut ditabrak atau juga dijambret, karena saya memang hanya ingin selalu bisa ke sekolah,” tuturnya.

Setiap hari Edi harus menguras tenaga untuk sampai ke sekolah. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadikannya mengeluh. Baginya fokus belajar menjadi tujuan hidupnya saat ini.

Ketika ditanya tentang kedepannya setelah lulus, Edi mengaku ingin melanjutkan ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) atau sekolah jurusan teknik komputer. Remaja kelahiran 30 Oktober 1997 ini percaya bahwa ia memiliki bakat yang dapat bermanfaat untuk mensejahterakan keluarganya kelak.

Sementara itu dari pihak sekolah, Asnawi selaku Kepala SMP 2 Sewon sangat bangga kepada Edi dikarenakan sikapnya yang tekun dan rajin. Bahkan dirinya menyebut bahwa Edi merupakan siswa yang harus dicontoh oleh yang lainnya.

“Dia tidak pernah terlambat datang ke sekolah. Kami salut dan bangga. Di dalam dirinya ada disiplin dan kemauan keras untuk bersekolah, meski dari keluarga kurang mampu,” paparnya.

Adapun untuk biaya sekolah, Edi mendapatkan keringanan karena adanya beasiswa. Belum lagi adanya donatur yang tergerak melihat perjuangan Edi seperti memberi kursi roda ataupun kebutuhan sekolahnya.

Asnawi mengaku bahwa saat ini ada 22 siswa di sekolahnya yang berkebutuhan khusus. Beberapa diantaranya ada yang tunanetra dan tunadaksa. Mereka pun ditempatkan dalam kelas yang berbeda dengan siswa normal karena membutuhkan perhatian yang lebih.

Baca Juga:


Semoga remaja ini bisa menggapai cita-citanya untuk mensejahterakan keluarga. Aamiin





loading...

close ini