Akibat Dituntut Menjadi Pintar Oleh Ibunya, Anak 6 Tahun Ini Kini Dirawat Di RS Jiwa




Akibat Dituntut Menjadi Pintar Oleh Ibunya, Anak 6 Tahun Ini Kini Dirawat Di RS Jiwa

Akibat Dituntut Menjadi Pintar Oleh Ibunya, Anak 6 Tahun Ini Kini Dirawat Di RS Jiwa

Dunia anak menjadi dunia yang lebih banyak diisi dengan permainan. Tak heran jika anak lebih senang bemain ketimbang harus belajar. Jika pun ingin memasukkan nilai-nilai pelajaran, maka perlu adanya kreativitas sehingga belajar seakan menjadi sebuah permainan.

Namun ternyata ada saja orang tua yang terlalu memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. Terlebih lagi dalam hal kepintaran dikarenakan kondisi saat ini yang seakan memperlihatkan seseorang yang pintarlah yang akan mendapatkan kehidupan bahagia.

Salah satu kisah yang miris tentang kerasnya tuntutan orang tua terhadap anaknya dipaparkan oleh akun Facebook Andi Teposs. Ia membagikan status temannya yang menceritakan sedang menjenguk anak teman lainnya yang berumur 6 tahun di rumah sakit jiwa.

Ternyata penyebabnya adalah sang ibu menuntut anaknya terlalu keras untuk bisa menjadi pintar. Tak cukup belajar di sekolah formal, ia menambahkan berbagai macam les untuk anak perempuannya tersebut.

Karena merasa jenuh dengan berbagai mata pelajaran yang harus dikuasai, sang anak pun mulai merasa tertekan dan takut jika bertemu dengan seseorang yang mengenakan seragam guru.

Anak perempuan itu pun tidak ingin tidur bersama ibunya sendiri karena pikirannya terus mengingat keinginan sang ibu agar ia menjadi pintar.

Ketika temannya datang ke rumah sakit jiwa, sang anak langsung mengenalinya dan berkata, “Bu Siti yah? Ayo Bu Siti 42 dibagi 6 berapa bu? Kalau doa masuk kamar mandi apa bu?”

Tak hanya itu saja, anak perempuan itu kemudian meniru gaya mengajar gurunya, memperagakan senam bersama dan menyanyikan lagu 5 x 5 = 25 serta membacakan doa sebelum makan.

Memang sepintas anak tersebut tampak cerdas dan lucu dengan celotehnya yang tidak pernah berhenti. Namun ternyata sang ibunda tampak begitu sedih karena anaknya mengalami penyakit yang tidak biasa. Bukan demam atau sakit batuk, melainkan sakit jiwa.

Diketahui anak yang berada di rumah sakit jiwa daerah Jakarta Timur ini senantiasa menangis sendiri tanpa ada sebab yang jelas. Ketika ditanya, sang anak hanya menjawab dengan berbagai mata pelajaran seperti How are you? 24:6=4 dan huruf hijaiyah.

Dari keterangan psikolog didapatkan kesimpulan bahwa anak tersebut terlalu diporsir dalam pembelajaran. Sebagai contoh ia harus menyelesaikan tugas matematikanya yang 1 buku dalam waktu 10 menit. Setelah itu ia harus belajar bahasa inggris, les agama, mengerjakan PR dan yang lainnya.

Psikolog menuturkan bahwa si anak hanya mau berbicara kepadanya saja. Sementara kepada yang lain hanya menjawab ngawur sambil menirukan gaya gurunya.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah si anak langsung berkomentar ketika melihat ibunya menangis.

“Bunda jangan nangis.. aku kan pinter.. tapi aku tidak mau tidur sama bunda.. aku maunya sama dokter ganteng atau cantik aja.” Ucap sang anak.

Ucapannya muncul dikerenakan ia senantiasa ditemani oleh dokter setiap harinya setelah ditempatkan di kamar VIP. Selain anak perempuan tersebut, ada juga anak yang berumur 5 tahun dan 12 tahun. Kebanyakan dari mereka masuk ke rumah sakit jiwa karena broken home. Sementara yang mengalami tekanan pembelajaran hanya anak perempuan tersebut saja.

Dalam postingan itu pun sang wanita teman ibu dari anak tersebut berpesan agar para orang tua hendaknya mendidik anak sesuai dengan umur dan tumbuh kembangnya. Jangan hanya ingin mendapatkan pujian, lantas anak yang menjadi korban. Biarkanlah anak menikmati masa kecilnya dengan indah tanpa ada tekanan yang berlebihan.

Meski belum jelas kebenarannya dari postingan tersebut, namun sejumlah netizen berterima kasih karena menjadi sebuah pelajaran berharga bagi mereka kelak.

Akun Kambange KanThell menulis, “Makasih buat postingannya. Pelajaran bagi saya yang selalu nuntut anak saya menjadi juara.”

Sementara aku Chaq Lukmanno menulis, “Wah banyak hikmah untuk postingan ini. Semoga bermanfaat. Sekalipun aku masih pelajar ini akan jadi pelajaran yang baik untuk aku sekarang dan kelak.”

Baca Juga:


Semoga para orang tua menyadari bahwa anak memiliki keunikan dan kelebihannya sendiri-sendiri tanpa harus disamakan dengan orang lain. Wallahu A’lam