Inilah Penjelasan Mengapa Ka’bah Dibangun Berbentuk Kubus




Inilah Penjelasan Mengapa Ka’bah Dibangun Berbentuk Kubus │ Kiblat yang menjadi arah seluruh umat islam ketika melaksanakan shalat adalah menghadap Ka’bah. Bangunan suci ini memiliki bentuk seperti kubus dan semua umat manusia telah mengetahui bahwa bentuk Ka’bah memang seperti kubus.

Namun tahukah bahwa sebenarnya pembangunan Ka’bah dahulu tidak direncanakan berbentuk kubus? Tahukah pula bagaimana latar belakang Ka’bah sehingga berbentuk kubus?

Inilah Penjelasan Mengapa Ka’bah Dibangun Berbentuk Kubus

Sebenarnya Ka’bah pada awalnya memiliki dimensi yang salah satu sisinya semi melingkar dan bangunan Ka’bah bergabung dengan Hijr Ismail.

Akan tetapi beberapa tahun sebelum Rasulullah mendapatkan wahyu yang pertama, kaum Quraisy sepakat untuk membangun Ka’bah yang saat itu memang harus mendapat perbaikan dikarenakan sering menjadi sasaran pasukan berkuda. Tak hanya itu saja, daerah sekitar Baitul Haram pun seringkali terjadi luapan air dan mengakibatkan bangunan Ka’bah hampir ambruk. Karena hal tersebut mereka pun sepakat untuk menggunakan uang yang halal dalam pembangunannya untuk menjaga kesucian bangunan tersebut.

Dengan kata lain, kaum Quraisy tidak menggunakan uang dari kebiasaan mereka seperti seperti berjudi, menjarah, hasil riba atau perkara yang haram untuk dilakukan.

Pada awalnya semua kaum Quraisy merasa takut untuk membongkar bangunan suci tersebut. Akan tetapi akhirnya Al Walid bin Al Mughirah Al Makhzumi mencetuskan pembangunan kembali bentuk Ka’bah yang lebih kokoh. Setelah melihat Al Walid yang tidak mengalami sesuatu pada dirinya, barulah masyarakat Quraisy yang lain mengikuti.

Dalam prakteknya setiap kabilah mendapat bagian untuk membangun satu sisi Ka’bah dan mengumpulkan material yang diperlukan sesuai dengan jatah masing-masing. Pembangunan itu pun diarsiteki oleh seorang bangsa Romawi bernama Baqum.

Akan tetapi ternyata dana yang terkumpul tidak mampu membangun Ka’bah sebagaimana aslinya sehingga kaum Quraisy pun membuat Ka’bah dalam versi yang lebih kecil. Sementara untuk letak Hijr Ismail, mereka menandainya dengan bebatuan seadanya berbentuk melengkung.

Inilah Penjelasan Mengapa Ka’bah Dibangun Berbentuk Kubus

Ketika akan meletakkan batu Hajar Aswad, setiap kabilah bertikai untuk menentukan siapa yang paling berhak membawa dan meletakkannya ke semula. Salah seorang yang dituakan dalam kaum tersebut yang bernama Abu Umayyah bin Al Mughirah Al Makhzumi kemudian menawarkan penyelesaian dengan cara bahwa siapa yang masuk pertama kali ke daerah ini, dialah yang berhak meletakkan Hajar Aswad tersebut.

Beberapa saat muncullah seorang pemuda bernama Muhammad yang dikenal sebagai orang yang jujur, pintar, santun dan dapat dipercaya. Kaum Quraisy pun sepakat untuk meletakkan Hajar Aswad lewat tangan Muhammad. Maka Muhammad yang saat itu belum menjadi Nabi kemudian menyetujuinya dan memiiliki cara yang unik untuk membawanya.

Ia meletakkan Hajar aswad tersebut dalam selembar kain dan setiap ketua kabilah memegang setiap ujung selendang serta membawanya ke depan Ka’bah. Muhammad pun kemudian mengambil Hajar Aswad tersebut dan meletakkannya pada tempat semula. Dengan demikian setiap orang mendapatkan bagian atas peletakan tersebut dan tidak mengakibatkan pertikaian.

Setelah beberapa tahun kenabian dan mengalami masa kejayaan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memiliki rencana untuk membangun Ka’bah sesuai bentuk aslinya sebagaimana pada masa Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam. Akan tetapi Rasulullah lebih dulu wafat sebelum rencana tersebut terealisasi.

Pada jaman kekhalifahan Abdullah bin Zubair, bangunan Ka’bah mendapat sejumlah renovasi dan mengembalikannya pada pondasi sebagaimana masa Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam. Pembangunan Ka’bah yang dilakukan pada kekhalifahan Abdullah bin Zubair ini pun menjadi perwujudan dari cita-cita Rasulullah dahulu.

Tak hanya mengembalikan pondasi Ka’bah, Zubair juga memperluas Ka’bah dimana sebelumnya telah dikurangi oleh kaum Quraisy dengan panjang 6 hasta. Ia pun menambahkan dua buah pintu Ka’bah yang terletak di arah barat dan di arah timur. Selain itu Zubair pun menambah ketinggian Ka’bah menjadi 27 hasta.

Baca Juga:


Demikianlah penjelasan mengapa Ka’bah berbentuk kubus. Semoga hal tersebut menambah pengetahuan kita tentang kiblat yang menjadi arah ibadah shalat yang umat muslim lakukan setiap harinya.

Wallahu Alam