Dua Kebahagiaan Bagi Orang Yang Berpuasa




"Ada dua kebahagiaan orang yang berpuasa; kebahagiaan ketika berbuka puasa, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya" (HR. Bukhori dan Muslim)

Dua Kebahagiaan Bagi Orang Yang Berpuasa

Dua Kebahagiaan Bagi Orang Yang Berpuasa


Hadits diatas adalah satu dari sekian banyak hadits yang menerangkan tentang keutamaan ibadah puasa. Allah sendiri yang menjelaskan kebahagiaan orang berpuasa melalui hadits qudsi diatas.

Puasa akan memberikan kebahagiaan pada hati orang-orang yang mengerjakannya. Beban sementara yang ditanggung kelak akan berakhir dengan berjuta kebaikan yang membahagiakan, baik di dunia, maupun di akhirat.

Kebahagiaan ketika mau berbuka puasa maksudnya adalah karena orang yang berpuasa akan merasa senang dengan nikmat yang diberikan Allah padanya, yaitu bisa melaksanakan puasa yang merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling utama dan juga merupakan rukun Islam. Betapa banyak manusia yang tidak memperoleh kenikmatan tersebut sehingga mereka tidak berpuasa.

Waktu berbuka segera disambut dengan penuh kebahagiaan oleh orang berpuasa, karena waktu diperbolehkan kembali makan dan minum ini merupakan anugerah dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahagia ketika berbuka pun hakekatnya adalah ibadah selagi bekal berbukanya dari barang yang halal dan thayyib.

Ketika berbuka, orang yang berpuasa bergembira juga karena dia merasa telah diberikan kemampuan menyelesaikan kewajiban puasa dengan baik. Dengan begitu, kini dia merasa lebih sehat baik secara fisik maupun psikis, karena telah melalukan terapi dari berbagai penyakit jasmani maupun rohani. Ia telah membersihkan tubuhnya dari gangguan kuman dan bakteri, di samping membersihkan tubuhnya pula dari gangguan maling-maling keimanan dan ketakwaan. Selain itu, waktu berbuka disambut dengan gembira karena pada detik-detik itulah orang berpuasa bisa melakukan isti’anah (memohon pertolongan dan berdoa) kepada Allah.

Adapun kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya adalah ia akan bahagia dengan ibadah puasanya ketika ia mendapat balasannya di sisi Allah secara utuh pada saat ia jauh membutuhkannya, ketika dikatakan, “Di mana orang-orang yang berpuasa?” Mereka pun dipersilahkan masuk ke pintu surga dari pintu 'Ar-Rayyan' yang tidak akan dimasuki oleh seorang pun selain mereka.”

Puasa di akhirat menjadi perisai yang membentengi orang-orang yang melanggengkannya dari api neraka. Kalau di bentengi dari neraka, maka kemana lagi perginya orang yang berpuasa itu kalau bukan ke surga. Di taman surga yang indah, orang yang berpuasa dipersilahkan makan-minum sepuasnya, disebabkan pantangannya terhadap makan-minum sewaktu berpuasa di dunia dahulu.

Bahkan sampai bau mulut orang puasa pun akan diganjar oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak nyaman. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dan karena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan yang terlarang, maka Allah tidak butuh (atas perbuatannya meskipun) meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

Puasa bukanlah dari makan, minum semata, tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim)

Betapa banyak orang berpuasa namun balasan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga semata. Dan betapa banyak orang melakukan shalat malam (tarawih dan witir) namun balasannya dari shalatnya hanyalah begadang menahan kantuk semata.” (HR. Ahmad dan  Ibnu Hibban)

Saudaraku para pembaca kabarmakkah yang dirahmati Allah,

Marilah kita menjaga diri dari perbuatan sia-sia dan dosa ketika berpuasa. Tapi bukan berarti setelah waktu berbuka puasa kita menjadi bebas. Perbuatan haram, hukumnya tetap haram baik ketika kita sedang berpuasa maupun tidak. Maka, di malam bulan Ramadhan pun kita tetap harus menjaga diri dari perbuatan dosa.

Ingatlah bahwa keutamaan bulan Ramadhan tidak hanya di waktu siang harinya, ketika kita berpuasa. Tetapi juga meliputi malam harinya. Banyak sekali ibadah yang bisa dilakukan di malam hari ketika bulan Ramadhan. Bahkan, ada keutamaan Lailatul Qadar yang harus kita kejar. Sibukkan diri dalam beribadah, baik siang maupun malam. Agar Puasa Ramadhan yang kita jalani di bulan ini benar-benar menjadikan kita manusia yang lebih bertakwa.

Baca Juga:




Kita memohon kepada Allah agar menerima puasa Ramadhan kita dan menjadikannya sebagai pemberi syafa’at bagi kita. Agar kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapat pahala puasa yang sempurna. Dan kita memohon pada Allah agar Mengampuni dosa-dosa kita dan Memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bisa memasuki surga-Nya melalui pintu Ar-Rayyan. Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin.