Benarkah Warung Makan Di Kota Makkah Bebas Beroperasi Siang Hari di Bulan Ramadhan ?




Akhir-akhir ini saya sering menemukan status atau komentar di Facebook yang mengatakan bahwa di kota suci Makkah dan warung-warung dekat Masjidil Haram ada yang jual makanan di siang hari bulan Ramadhan, Benarkah pernyataan tersebut? Berikut adalah penjelasan dari Ustadz Khoirul Wafa, salah satu mahasiswa S2 universitas Ummul Qura Makkah tentang keadaan kota Makkah di siang hari Ramadhan.

Benarkah Warung Makan Di Kota Makkah Bebas Beroperasi Siang Hari di Bulan Ramadhan ?
Jalanan di Aziziyah Syisa (Andribermawi/Panoramio)


Pukul 10:40 pagi waktu Makkah

Terik mentari sudah mulai menyengat. Suhu udara sudah mulai memanas menuju 41 derajad celsius.

Aku keluar rumah. Bersama sahabatku, aku naik taksi menuju daerah Ri' Dzakhir. Berjarak 15-an menit dari rumah.

Sepanjang jalan, aku lihat kanan kiri. Menelisik kondisi kota Makkah di siang hari Ramadhan.

Semuanya tutup. Restaurant tutup. Cafetaria juga tutup. Toko makanan dan sembako tutup. Bahkan galeri kartu telpon juga tutup. Tanpa ada razia dari pemerintah, apalagi razia dari ormas.

Inilah indahnya Ramadhan di Makkah. Tidak hanya masyarakatnya yang berpuasa. Bahkan, kotanya pun ikut berpuasa.

Jika ada pertanyaan kenapa semuanya tutup di Makkah ?

Maka, salah satu jawabannya adalah :

Masyarakat kota ini semuanya berpuasa. Menghormati bulan suci ini dengan takwa kepada Allah dan puasa.

Ketika semua pelanggan berpuasa dan tak mungkin ada yang membeli di siang hari, maka secara otomatis restaurant dan rumah makan akan tutup.

Pemilik restaurant dan rumah makan itu pengusaha. Berdagang atas asas permintaan. Kalau tidak ada permintaan, maka mereka tak akan dagang. Di Makkah, contohnya.

Berbeda dengan di Indonesia. Siang hari Ramadhan, permintaan akan makanan lezat masih besar. Masih banyak yang ingin bermaksiat tidak puasa, meskipun sembunyi-sembunyi. Sehingga, para pemilik restaurant dan sebagainya pun berdagang.

Parahnya lagi, di negeriku, masyarakat dan petinggi negara malah marah dan mengecam pejabat pemerintah yang amar makruf nahi munkar dengan peraturan penertiban jam buka restaurant.

Media Kristen dan Liberal mengeluarkan seluruh amunisinya. Menjadikan hal tersebut untuk memojokkan Islam dan kaum Muslimin. Di koran. Di majalah. Di radio. Di televisi. Dan di internet.

Lebih parah lagi, muncul pemuda-pemuda 'bodoh' yang mengaku sebagai intelektual muslim. Mereka membela mati-matian para penjaja makanan di siang Ramadhan.

La haula wa la quwwata illa billah.

Apakah pemuda-pemuda itu mencari ridho Allah dengan pernyataan-pernyataan mereka itu ?! Ataukah mencari murka-Nya ?!

Singkat kata :

Indonesia negeriku tercinta
Ternyata engkau tak mau ikut berpuasa dan engkau tak mau dipaksa puasa
Namun, engkau mau Natalan tanpa dipaksa
Namun, engkau mau Nyepi tanpa dipaksa

Lalu dengan modal apa engkau mengharap rahmat Allah ?!





loading...

close ini