Al Qur’an Berumur 200 Tahun Ini Terbuat Dari Daun Lontar




Al Qur’an Berumur 200 Tahun Ini Terbuat Dari Daun Lontar │ Al Qur’an saat ini tidak seperti dahulu yang ditulis dalam lembaran kulit kayu, kulit binatang ataupun di media lain. Al Qur’an saat ini telah mengalami kemajuan dengan ditulis dalam kertas dan diperbanyak menggunakan mesin.

Namun tahukah bahwa saat ini ada Al Qur’an yang ditulis tangan dengan media daun lontar?

Al Qur’an Berumur 200 Tahun Ini Terbuat Dari Daun Lontar

Hal ini memang benar dan ditemukan di Pondok Pesantren Al Multazam, Semarang. Bukan hanya berumur satu atau dua tahun, melainkan usianya telah mencapai 200 tahun dan masih awet.

Ditulis tangan secara lengkap hingga akhir juz ke-30, daun lontar yang digunakan mencapai lebar 1,5 meter. Itu jika setiap lembarannya disatukan sehingga berbentuk sebuah lembaran mushaf Al Qur’an.

Agar tidak berceceran, Al Qur’an daun lontar ini pun direkatkan dengan jahitan benang. Selain itu ketika menjelang buka puasa, para santri secara bergantian membaca Al Qur’an lontar tersebut dengan suara mereka yang benar-benar indah.

Menurut Kyai Haji Khamami selaku pengasuh Pondok Pesantren Al Multazam, Al Qur’an unik tersebut sudah ada sejak 10 bulan yang lalu. Sebelumnya Al Qur’an yang menjadi warisan ulama besar Madura yakni Sayyid Abdurrahman itu dimiliki oleh salah seorang wali murid yang kemudian memberikannya kepada pihak pondok pesantren.

Al Qur’an berbahan lontar berusia 200 tahun itu sudah dimiliki secara turun temurun oleh 6 generasi. Jika dirunutkan, maka ketika Sayyid Abdurrahman wafat, Al Qur’an itu pun diwariskan kepada anaknya yang bernama Kyai Haji Tuju Langker. Setelahnya, Al Qur’an kemudian dimiliki Kyai Haji Aziz Tapa. Kemudian berlanjut ke Kyai Haji Tuju Panaungan hingga Kyai Haji Bunyamin Maimunah. Pemegang terakhir warisan Al Qur’an langka tersebut di tahun 2014 sudah meninggal.

Karena pihak keluarga setelahnya tidak ada yang sanggup menjaga ataupun merawat Al Qur’an yang sangat berharga tersebut, mereka pun mempercayakan kepada Ponpes Al Multazam untuk menjaganya.

Setelah malam 17 Ramadhan, pihak pondok pesantren kemudian menyimpannya sebagai koleksi museum. Karena menurut Kyai Haji Khamami, dengan memuseumkannya menjadi upaya untuk menjaga kelestarian berbagai peninggalan para tokoh agama yang telah memperjuangkan islam sejak dahulu.

Baca Juga:







loading...

close ini