Penjaga Warung 'Nasi Uduk Babi Buncit' Pakai Jilbab Adalah Bukti Kebenaran Sabda Rasul




Sosial media Indonesia kembali dihebohkan dengan munculnya foto seorang wanita berjilbab Penjaga Warung 'Nasi Uduk Babi Buncit'. Foto ini menyebar menjadi viral dalam waktu yang cepat.

Penjaga Warung 'Nasi Uduk Babi Buncit' Pakai Jilbab Adalah Bukti Kebenaran Sabda Rasul
Penjaga Warung 'Nasi Uduk Babi Buncit' Pakai Jilbab

"Nasi uduk Babi Buncit. Ada di Lippomall daerah puri, jakarta barat. Lihat penjaganya, mengenakan jilbab! Tapi dia bukan muslimah," tulis akun Amalia Lestari di akun facebooknya.

Sontak, foto Penjaga Warung 'Nasi Uduk Babi Buncit' Pakai Jilbab tersebut langsung memicu perdebatan diantara netizen. Sebagian besar dari mereka menyayangkan kejadian tersebut.

Setelah ditelusuri lebih jauh mengenai kebenarannya. Ternyata memang benar bahwa Penjaga Warung 'Nasi Uduk Babi Buncit' Pakai Jilbab adalah seorang muslimah.

Sekretaris Jendral Mualaf Centre Indonesia (MCI) Hanny Kristianto menjelaskan terkait berita “Nasi Uduk Babi Buncit” di Lippomall Puri, Jakarta Barat. Setelah melakukan cross cek, ternyata yang memakai Jilbab adalah penjaga warung tersebut yang merupakan seorang Muslimah.

"Penjaganya mengenakan kerudung, dan setelah ditemui dan berkomunikasi ternyata dia muslimah. Saudari kita Muslimah ini bekerja pada mereka sudah lama. Beliau butuh pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya" terang Hanny melalui akun Facebook pribadinya, Senin (23/5/2016).

Hanny menjelaskan bahwa pemilik warung Nasi Uduk Babi Buncit tersebut bernama Oey Cecilia dan Tommy, mereka merupakan pemeluk Kristen.

“Yang punya kafir, yang mbak itu muslim, cuma karena faktor ekonomi dan udah kerja lama sama yang punya. Yang punya sudah di tegur, masalahnya mba nya itu ikut udah lama sama ownernya…Terus di tawarin, eh mbanya mau asal tidak pegang babinya dan tidak cuci piring” tulis Hanny.

Lebih lanjut Hanny mengingatkan kepada kaum Muslimin untuk tidak mudah menyebarkan berita yang diragukan kebenaranya. Kaum Muslimin sudah seharusnya memberikan solusi terbaik kepada muslimah ini daripada komentar sinis dan membully Penjaga Warung 'Nasi Uduk Babi Buncit' Pakai Jilbab.

UPDATE

Alhamdulillah, sudah ada tawaran dari ikhwah fillah buat mbak ini agar meninggalkan pekerjaannya dan diberi pekerjaan yang sama dengan gaji 2x lipat, semoga diterima oleh mbak muslimah ini.

*********

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Kefakiran terkadang bisa mendorong seorang muslim untuk melakukan tindakan-tindakan yang tak bisa dibenarkan secara syariat. Kefakiran juga memaksanya untuk melakukan tindakan syubhat bahkan haram; seperti merampok, menipu, dan melacur, mencuri, mencopet dan juga perbuatan haram seperti contoh muslimah yang menjaga Warung 'Nasi Uduk Babi Buncit' diatas.

Oleh karena itu benarlah sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا وَ كَادَ الْحَسَدُ أَنْ يَسْبِقَ الْقَدَرَ

"Hampir-hampir saja kefakiran akan menjadi kekufuran dan hampir saja hasad mendahului takdir." (HR. Ibnu 'Adi)

Al-Munawi dalam Faidh al-Qadir berkata: "Digabungkannya kefakiran dengan kekufuran karena kefakiran terkadang menyeret kepada kekufuran."

Ini bukan berarti bahwa fakir (miskin) adalah buruk dan tercela. Karena sesungguhnya kaya-miskin merupakan ketentuan Allah. Dia melapangkan rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Begitu juga sebaliknya, menyempitkan rizki dan membatasinya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia sengaja membuat perbedaan itu dengan hikmah yang Dia ketahui.

Imam al-Ghazali pernah mengatakan bahwa kefakiran bisa menjerumuskan diri ke dalam kekufuran,

"Karena kefakiran (kemiskinan) menyebabkan orang untuk hasud kepada orang kaya. Sedangkan hasud akan memakan kebaikan. Juga karena kemiskinan mendorongnya untuk tunduk kepada mereka dengan sesuatu yang merusak kehormatannya dan membuat cacat agamanya, dan membuatnya tidak ridha kepada qadha' (ketetapan Allah) dan membenci rezeki. Yang demikian itu jika tidak menjadikannya kufur maka itu mendorongnya ke sana. Karenanya Al-Musthafa Shallallahu 'Alaihi Wasallam berdoa untuk berlindung dari kefakiran."

Salah satunya doa yang pernah diajarkan Nabi pada kita adalah sebagai berikut,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

"Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kefakiran dan kekufuran serta adzab kubur." (HR. Abu Dawud, Al-Nasai, dan Ahmad)

Karena kefakiran bisa mendekatkan seseorang kepada kekufuran; karena seseorang yang mengalami kesulitan dan kehinaan bisa menyebabkan dirinya berpaling dari Allah dan mengingkari kekuasaan-Nya. Naudzubillah min dzalik.

Sufyan al-Tsauri berkata "Aku mengumpulkan 40 ribu dinar di sisiku sehingga aku mati meninggalkannya lebih aku sukai daripada fakir satu hari dan kehinaan diri dalam meminta kepada manusia."

Dalam perkataan beliau yang lain, "Demi Allah aku tidak tahu apa yang terjadi padaku kalau aku diuji dengan satu ujian berupa kefakiran atau sakit, bisa jadi aku kufur sedangkan aku tidak sadar."

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ

"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu." (QS. Al-An’am: 165)

Dalam firman-Nya yang lain,

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا

"Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain.” (QS. Al-zukhruf: 32)

Ibnu Hazm dalam kitab al-Ushul wa al-Furu’ (1/108) pernah menyinggung masalah kaya dan miskin, mana yang lebih utama?

Menurut beliau, bahwa kaya dan miskin tidak menentukan kemuliaan. Kemuliaan orang kaya dan orang miskin ditentukan oleh amal mereka. Jika amal keduanya sama, maka kemuliaannya pun juga sama. Jika yang kaya lebih banyak beramalnya, maka ia lebih mulia dari orang miskin, begitu juga sebaliknya.

Demikianlah, jika miskin namun mampu bersabar dan ridho dengan ketetapan Allah dan tidak sampai lalai dari ketaatan kepada-Nya, maka miskin yang seperti ini mulia dan tidak tercela. Wallahu A'lam.




loading...

close ini